Makam Sederhana Kiai dan Pendiri Kota Solo

CNN Indonesia | Rabu, 06/05/2020 03:31 WIB
Umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha 1440 H di Keraton Kasunanan Surakarta, Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/8/2019). Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah atau 10 Zulhijah jatuh pada 8 Agustus 2019 yang dirayakan dengan melaksanakan Salat Id dan penyembelihan hewan kurban. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/hp. Umat Islam melaksanakan sholat Idul Adha 1440 H di Keraton Kasunanan Surakarta, Solo, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ki Gede Sala adalah penyiar agama Islam sekaligus penguasa Desa Sala sebelum berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, lebih tepatnya pada masa Keraton Kartasura.

Desa Sala dipilih menjadi pusat pemerintah Keraton Kartasura setelah peristiwa Geger Pacina tahun 1741. Ketika itu ada upaya untuk memindahkan Keraton Kartasura ke arah timur.

Dari tiga tempat alternatif (Kadipolo, Sonosewu dan Desa Sala) terpilihlah Desa Sala yang dirasa lebih strategis.


Mengutip Kemendikbud.go.id, sejak itu Ki Gede Sala dipercaya sebagai pendiri kota Solo.

Sebagai balas jasa, Keraton Surakarta memberi gelar Bekel pada Ki Gede Sala.

Ki Gede Sala wafat pada Februari 1745. Makamnya terletak di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, sekitar 500 meter dari Keraton Kasunan Surakarta.

Area makamnya sederhana, hanya seluas 10 x 10 m.

Di area ini terdapat pula dua makam lainnya, yakni makam Kyai Carang dan makam Nyai Sumedang. Keduanya merupakan teman seperguruan Ki Gede Sala saat menyebarkan agama Islam semasa hidupnya.

Hingga sebelum pandemi virus corona, makam ketiga sahabat itu selalu ramai didatangi peziarah, baik dari dalam maupun luar negeri, warga biasa sampai pejabat pemerintah.

Setiap hari jadi kota Solo, jajaran pemerintahnya juga mengagendakan nyekar ke makam Ki Gede Sala, sekaligus ke makam ulama Keraton Surakarta, Ki Ageng Henis dan makam pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Yosodipuro.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)