Olahraga di Masa 'New Normal': Aturan dan Ragam Kekeliruan

tim, CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 11:24 WIB
ilustrasi olahraga Demi menjaga kesehatan dan bebas dari infeksi virus corona, olahraga, dan juga berjemur di rumah pun disarankan untuk dilakukan. Ini jadi the new normal. (Istockphoto/ Marija Jovovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demi menjaga kesehatan dan imunitas tubuh agar terbebas dari infeksi virus corona, beragam aktivitas fisik, olahraga, dan juga berjemur di rumah disarankan untuk dilakukan.

Akibatnya saat ini banyak orang yang melakukan berbagai kegiatan untuk sekadar 'bergerak' dan olahraga sampai berjemur. Aktivitas ini menjadi the new normal bagi banyak orang.

"Sebenarnya ini (olahraga dan berjemur) sudah jadi anjuran hidup sehat sejak dulu. Tapi berhubung sekarang tidak boleh keluar rumah dan 'liburan' di rumah tanpa melakukan apa-apa, jadi merasa tak nyaman," kata dokter spesialis olahraga Michael Triangto kepada CNNIndonesia.com.


"Kenapa? Karena sekarang kesibukan jauh berkurang, mau ngantor juga tutup. Coba dulu waktu masih ngantor masih sibuk, enggak ada waktu untuk olahraga dan berjemur."

Sampai saat ini dua aktivitas inilah yang sering dipraktekkan banyak orang di seluruh dunia. Meski tak lagi banyak yang bisa car free day, jogging, yoga di Stadion Gelora Bung Karno atau di taman terdekat, atau olahraga di gym langganannya, namun beberapa jenis olahraga juga masih dilakukan di lingkungan rumah.

Tengok saja media sosial saat ini, banyak yang mengunggah the new normal mereka dengan aneka foto saat berkeringat usai latihan beban, yoga di rumah, atau hal lainnya.

Saat pandemi corona saat ini, the new normal dimulai. Namun, apakah ini akan berlanjut ketika PSBB sudah dilonggarkan dan lockdown sudah dicabut di negara lain atau mungkin virus corona sudah terkendali?


"Ketika semuanya sudah kembali seperti awalnya, the new normal ini saya tidak yakin masih akan dipertahankan. Kecuali kalau memang kebiasaan olahraga ini sudah mendarah daging atau mereka benar-benar punya motivasi untuk sehat [bukan hanya karena tak ada aktivitas] karena ada kesadaran ada kemungkinan gelombang kedua Covid," kata Michael.

"Kalau itu bisa dipahami masyarakat luas, saya yakin bisa. Tapi kalau melihat sekarang, aturan PSBB saja masih tidak dituruti, saya enggak yakin karena masih ada yang anggap enteng sampai suatu saat dirinya tertampar sendiri. Dengan kondisi ini masih jauh kesadaran soal olahraga itu menyehatkan. Padahal sehat itu harga mati, dan olahraga cara termudah untuk sehat."

Michael tak memungkiri kalau bakal ada penyesuaian yang terjadi pada masyarakat yang memang sudah gemar olahraga sebelum pandemi. Dia tak menutup mata ada beberapa golongan yang mulai rajin berolahraga di luar ruangan dan juga di gym. Mau tak mau pandemi corona ini akan memberi perubahan dan mereka harus beradaptasi dengan the new normal tersebut.

"Kalau yang saya lihat, di gym sendiri nantinya akan ada perubahan. Konsumen sendiri mungkin masih takut-takut butuh ke gym. Inilah yang nantinya membutuhkan tanggung jawab bersama dari konsumen dan gym," ucapnya.

"Dari konsumen, pekerja, sampai pengusaha pada akhirnya harus sama-sama bertanggung jawab dan yakin kalau mereka sehat saat ada di gym sehingga tak memungkinkan terjadinya penularan."

"Selain itu juga harus ada kesadaran bersama untuk membersihkan alat yang harus dipakai. Habis pakai alat dilap dengan air kemudian dengan alkohol. Semua orang di gym juga membersihkan diri dulu sebelum ke gym, setelahnya mandi lagi. Ini memang nambah cost tapi ya ini yang bisa dilakukan demi kesehatan bersama," kata Michael.



Hati-hati olahraga di YouTube

Michael Triangto ikut gembira karena saat ini banyak orang yang mulai berolahraga. Namun dari para penggemar olahraga dadakan ini ada beberapa kesalahan yang dilakukan.

"Bagus sih sudah banyak yang berolahraga sekarang ini, tapi kebanyakan dari mereka masih tidak tahu harus bagaimana caranya olahraga."

"Olahraga yang selama ini ada di benak masyarakat itu capek, keringatan, lelah, dan berat. Padahal olahraga tidak selalu seperti itu. Akhirnya yang ada, olahraga yang mereka lakukan bukan dapat sehat. Olahraga kok malah cedera atau sakit."

Michael menambahkan bahwa olahraga adalah salah satu cara paling mudah untuk hidup sehat. Namun olahraga untuk sehat tidak harus berat, tak harus berkeringat.

"Anggapannya, kalau tidak keringatan itu tidak olahraga."

"Yang harus dipahami, olahraga ada tiga tujuan, untuk sehat, fun, dan kompetisi. Dan olahraga untuk sehat tidak harus berat, tidak harus keringatan. Seperti misalnya olahraga pernapasan chikung. Itu gerakannya pelan tapi itu olahraga sehat dan itu cukup. Sedangkan olahraga fun itu misalnya di gym, golf. Kalau kompetisi itu misalnya tinju."

Tak cuma itu, kesalahan lain yang sering dilakukan adalah meniru dari YouTube atau aplikasi.

"Ini sering sekali terjadi. Orang melihat di YouTube si orang ini keren sekali badannya, olahraganya diikuti. Ini salah. Yang seringkali Anda lihat itu orang yang sudah profesional olahraganya atau bahkan atlet. Kalau Anda ikuti mereka, apalagi untuk yang masih baru mulai olahraga ya sulit, sudah berbeda. Yang ada malah cedera."

"Kalau olahraga melihat di YouTube, Anda harus hati-hati memilihnya dan melakukan gerakannya. Sesuaikan dengan kemampuan Anda, jangan tergiur dulu dengan hasil akhirnya."

Beberapa jenis olahraga untuk kesehatan yang bisa dilakukan antara lain aerobik, chikung, joging, jalan cepat, treadmill, sepeda statis, skipping.

Beberapa olahraga yang disarankan untuk orang yang mengalami nyeri lutut osteoarthritis adalah berjalan perlahan di kolam air.

ilustrasi olahraga di rumahFoto: iStockphoto/MilanMarkovic
ilustrasi olahraga di rumah


Intensitas olahraga

Intensitas olahraga yang dilakukan di era the new normal juga harus diperhatikan.

"Ingat, semakin berat olahraga maka orang semakin rentan infeksi. Ini ada kurvanya, di mana olahraga intensitas tinggi tidak disarankan karena risiko terpapar infeksi juga makin tinggi."

Hal ini juga dibenarkan oleh Dokter Andi Kurniawan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga. Intensitas olahraga benar-benar harus diperhatikan. Saat intensitas olahraga tinggi dan durasinya lama, malah akan terjadi efek imunosupresan atau daya tahan tubuh menurun. Mengapa?

Setelah olahraga intensitas tinggi, kata Andi, ada masa open window selama 3-6 hari. Di masa seperti ini, tubuh akan mudah terkena infeksi.

(chs)

[Gambas:Video CNN]