Mandeep Mehra, kepala studi sekaligus direktur Brigham and Women's Hospital Heart and Vascular Center merekomendasikan rumah sakit untuk berhenti menggunakan obat untuk menangani Covid-19.
"Data kami menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa di seluruh dunia bahwa kombinasi obat ini, dengan cara apapun Anda mengiris atau memotongnya, tidak menunjukkan bukti manfaat, dan pada kenyataannya, secara tetap menunjukkan sinyal berbahaya," ujar Mehra mengutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar satu dari lima yang dirawat dengan chloroquine dan antibiotik meninggal dan hampir satu dari empat yang diobati dengan hydroxychloroquine dan antibiotik meninggal.
Tak hanya kasus meninggal, peneliti juga menemukan pasien mengalami gangguan aritmia. Dari empat jenis skena terapi, masalah aritmia paling banyak timbul pada pasien yang diberi hydroxychloroquine dan antibiotik yakni sebanyak 8 persen.
Lihat juga:Munculnya Gejala-gejala Langka Virus Corona |
Rupanya ini bukan satu-satunya studi yang 'mencium' masalah pada hydroxychloroquine atau chloroquine. David Boulware, ahli penyakit infeksi mempelajari hydroxychloroquine sebagai pengobatan Covid-19 bersama University of Minnesota. Dia berkata obat ini mungkin tidak memiliki manfaat dan kemungkinan meningkatkan risiko kematian pada pasien corona.
"Sebelumnya, data menyebut kemungkinan tak ada manfaat secara keseluruhan dari hydroxychloroquine, tetapi studi ini menunjukkan peningkatan bukti yang tak hanya tidak menunjukkan manfaat tetapi juga kemungkinan bahaya. Ini meningkatkan bukti bahwa hydroxychloroquine seharusnya tidak digunakan untuk merawat pasien," jelasnya.
Selain itu studi lebih kecil termasuk yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine dan Journal of the American Medical Association juga menunjukkan hal serupa.
"Pada pasien itu penggunaan rejimen obat ini dalam kapasitas off-label (untuk kondisi yang tidak disetujui FDA) harus benar-benar dijauhi dan dihindari," kata Mehra. (els/age)