Studi Ungkap Obat Malaria untuk Corona Picu Masalah Jantung

CNN Indonesia | Senin, 25/05/2020 02:22 WIB
Petugas menunjukkan obat Chloroquine yang akan diserahkan kepada RSPI Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3/2020). Kementerian BUMN menyerahkan sebanyak 1.000 butir Chloroquine kepada RSPI Sulianti Saroso sebagai simbol bahwa pemerintah bergerak untuk menangani penyebaran virus corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras. Chloroquine yang selama ini digunakan untuk perawatan pasien Covid-19 ditemukan menuai masalah salah satunya risiko aritmia. Ilustrasi. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hydroxychloroquine atau chloroquine yang selama ini digunakan untuk perawatan pasien Covid-19 ditemukan menuai masalah. Studi baru-baru ini mengungkap pasien Covid-19 yang diberi obat malaria ini berisiko mengalami aritmia atau ritme jantung tidak beraturan bahkan meninggal.

Mandeep Mehra, kepala studi sekaligus direktur Brigham and Women's Hospital Heart and Vascular Center merekomendasikan rumah sakit untuk berhenti menggunakan obat untuk menangani Covid-19.

"Data kami menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa di seluruh dunia bahwa kombinasi obat ini, dengan cara apapun Anda mengiris atau memotongnya, tidak menunjukkan bukti manfaat, dan pada kenyataannya, secara tetap menunjukkan sinyal berbahaya," ujar Mehra mengutip dari CNN.


Studi yang terbit di jurnal The Lancet ini menganalisis lebih dari 96ribu pasien dengan Covid-19 di 671 rumah sakit di enam benua. Pasien dirawat mulai akhir Desember 2019 hingga pertengahan April 2020, pasien meninggal juga pasien yang dipulangkan pada 21 April 2020.

Dari sekian banyak pasien, mereka yang diterapi dengan hydroxychloroquine atau chloroquine tidak sampai 15ribu pasien. Peneliti menemukan sekitar satu dari 11 pasien dalam kelompok kontrol (tidak mendapatkan obat-obatan) meninggal di rumah sakit. Kemudian sekitar satu dari enam pasien yang diobati dengan hydroxychloroquine atau chloroquine saja meninggal.

Sekitar satu dari lima yang dirawat dengan chloroquine dan antibiotik meninggal dan hampir satu dari empat yang diobati dengan hydroxychloroquine dan antibiotik meninggal.

Tak hanya kasus meninggal, peneliti juga menemukan pasien mengalami gangguan aritmia. Dari empat jenis skena terapi, masalah aritmia paling banyak timbul pada pasien yang diberi hydroxychloroquine dan antibiotik yakni sebanyak 8 persen.

Banyak Bukti Lain

Rupanya ini bukan satu-satunya studi yang 'mencium' masalah pada hydroxychloroquine atau chloroquine. David Boulware, ahli penyakit infeksi mempelajari hydroxychloroquine sebagai pengobatan Covid-19 bersama University of Minnesota. Dia berkata obat ini mungkin tidak memiliki manfaat dan kemungkinan meningkatkan risiko kematian pada pasien corona.

"Sebelumnya, data menyebut kemungkinan tak ada manfaat secara keseluruhan dari hydroxychloroquine, tetapi studi ini menunjukkan peningkatan bukti yang tak hanya tidak menunjukkan manfaat tetapi juga kemungkinan bahaya. Ini meningkatkan bukti bahwa hydroxychloroquine seharusnya tidak digunakan untuk merawat pasien," jelasnya.

Selain itu studi lebih kecil termasuk yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine dan Journal of the American Medical Association juga menunjukkan hal serupa.

Meski obat ini mendapat izin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), tetapi organisasi ini mengeluarkan peringatan penggunaan obat pada pasien corona di luar uji klinis.

"Pada pasien itu penggunaan rejimen obat ini dalam kapasitas off-label (untuk kondisi yang tidak disetujui FDA) harus benar-benar dijauhi dan dihindari," kata Mehra. (els/age)

[Gambas:Video CNN]