Psikolog Beberkan Tips Menghadapi New Normal Pandemi Corona

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 07:27 WIB
Seorang pengguna jalan mencuci tangannya sebelum masuk di Kelurahan Ketawanggede, Malang, Jawa Timur, Rabu (1/4/2020). Warga di kawasan tersebut secara swadaya melakukan screening kepada para pengguna jalan dengan menyemprotkan disinfektan, mewajibkan cuci tangan, pengukuran suhu tubuh, serta mengurangi akses jalan untuk mencegah penyebaran virus Corona. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hp. Ilustrasi: Memasuki new normal bukan berarti kembali ke normal lama, psikolog mengingatkan kini kita 'berdampingan'' dengan virus corona. Karena itu perlu penyesuaian atau adaptasi terhadap sejumlah kebiasaan anyar. (Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Psikolog Intan Erlita menyarankan hal pertama yang perlu dilakukan untuk menyongsong new normal atau normal baru adalah berdamai dengan kondisi yang terjadi saat ini. Berdamai bukan berarti menyerah dan pasrah melainkan menyadari bahwa kini ada virus corona di tengah kehidupan keseharian.

Sehingga, perlu ada sejumlah penyesuaian atau adaptasi terhadap perilaku juga kebiasaan-kebiasaan baru. Intan menyarankan agar setiap orang secara perlahan mulai bisa mengelola ketakutan-ketakutan yang muncul.

Sebab faktanya, hingga kini kasus positif secara global masih terus bertambah. Namun di sisi lain, para ilmuwan dan ahli dari pelbagai negara dunia--termasuk Indonesia--pun tengah berjibaku menemukan obat dan vaksin virus penyebab Covid-19 tersebut.



Langkah kedua yang perlu dilakukan untuk menghadapi ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi corona ini adalah dengan mematuhi anjuran pemerintah dan ahli kesehatan. Salah satunya soal penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan serta tertib menjaga jarak fisik.

"Kita harus tahu aturan-aturannya dari pemerintah. Misalnya, boleh keluar rumah tapi harus pakai masker, hand sanitizer, aga jarak dan jangan ngeyel karena kita harus bertarung sama yang tak kasat mata," kata Intan seperti dikutip dari Antara.

Intan juga menekankan pentingnya untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat. Akan tetapi, ia melanjutkan, pada masa normal baru ini pertemuan sebaiknya dilakukan secara daring--bukan bertemu di restoran, kafe atau pusat perbelanjaan.

Older woman talking via video call. Sit at home on the recommendation of a doctor. An older woman uses tabletIlustrasi: Psikolog menyarankan untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat dalam menghadapi new normal pandemi virus corona ini. Meskipun tak bisa bertatap muka, 'perjumpaan' bisa dilakukan secara daring. (Foto: Istockphoto/Getty Images/Milan Markovic)


"Kita harus tetap melakukan komunikasi dengan keluarga, dengan teman supaya menghilangkan kebosanan, kejenuhan. Kita kan diperbolehkan keluar untuk bekerja, kalau kongkow belum boleh, tapi kan manusia itu makhluk sosial, jadi tetap berkomunikasi dengan teman tapi dengan online," jelas Intan.

Untuk hidup berdampingan dengan virus Covid-19, ia melanjutkan, diperlukan pula stamina dan imun yang baik. Itu sebab, olahraga penting dilakukan demi menjaga daya tahan tubuh.

Olahraga itu tak harus berat, Intan mencontohkan, kegiatan seperti berjalan kaki atau lari ternyata sudah bisa memengaruhi kondisi psikis.

"Lebih fresh, mengambil keputusannya juga enggak pakai emosi, itu hal yang kayaknya, 'masa iya?' Tapi coba deh lakuin, enggak usah tiap hari tapi seminggu dua kali, kita nanti bisa ngerasain impact-nya buat badan kita," kata dia meyakinkan.


Poin terakhir untuk menghadapi normal baru adalah tetap waspada dan justru jangan lengah dengan dibukanya tempat umum seperti mal.

Intan pun mengingatkan masyarakat untuk tak terlena lantas berbondong-bondong berkunjung ke mal untuk melepas rindu karena berbulan sudah menetap di rumah atau melakukan karantina mandiri.

"Bahwa masa the new normal ini kita masih hidup berdampingan dengan si virus Covid-19, jadi jangan melanggar peraturan. Karena takutnya langsung pada euforia. Saya juga menerangkan ke anak-anak bahwa ini belum lampu hijau, masih kuning," tegas Intan. (NMA)

[Gambas:Video CNN]