Corak Indonesia dalam Sajadah Tenun Ikat Didiet Maulana

tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/06/2020 15:59 WIB
Sajadah motif ikat koleksi terbaru Ikat by Didiet Maulana X Lasouk. Tak hanya lewat busana, kini motif dan corak tenun ikat khas Indonesia bermetamorfosis dalam sajadah. (Ikat by Didiet Maulana X Lasouk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak hanya lewat busana, kini motif dan corak tenun ikat khas Indonesia bermetamorfosis dalam sajadah. Ikat by Didiet Maulana membuat kreasi baru dengan mendesain sajadah atau alas salat.

Didiet mengolah motif tenun ikat menjadi sajadah salat premium bekerja sama dengan produsen sajadah internasional, Lasouk. Lasouk memasarkan sajadah mereka ke sejumlah negara di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Dalam waktu dekat, mereka bakal melebarkan sayap ke Eropa.

Kolaborasi Didiet dan Lasouk berawal saat pertemuan tak sengaja di sebuah acara fesyen modest di Jakarta, tahun lalu. Saat itu, Didiet mengaku terpukau dengan desain sajadah Lasouk yang  bergaya Maroko. Dia pun langsung membeli sajadah itu dan menjalin hubungan dengan pendiri Lasouk, Heikal dan Nadja.


"Saya langsung jatuh cinta ketika Nadja bercerita tentang sajadah itu. Dalam pikiran saya, saya harus berkolaborasi dengan mereka suatu hari," kata Didiet, dalam konferensi pers online, Kamis (18/6).

Pada Februari lalu, Didiet dan Nadja duduk bersama membicarakan kolaborasi pembuatan sajadah premium ini. Perkara desain sajadah, diserahkan pada Ikat Indonesia. Sedangkan soal produksi dan juga pemasaran internasional jadi tanggung jawab Lasouk.

Didiet dan tim langsung merancang desain untuk alas salat itu. Seperti identitas Ikat yang melekat pada setiap koleksi, sajadah ini juga mengenalkan wastra Indonesia yang sarat makna kehidupan. Lewat sajadah yang dipasarkan secara global, ini Didiet ingin mengenalkan keindahan Indonesia pada dunia.

"Melalui sajadah kami mengenalkan kekayaan Indonesia dan juga kebahagiaan lewat corak yang semangat," ucap Didiet.

Motif tenun ikat dibuat menggambarkan keindahan Indonesia pada tiga desain koleksi sajadah yakni Andjani, Ghalia, dan Shabira. Motif yang digunakan diambil dari beragam motif kain di seluruh Indonesia yang direkonstruksi ulang.

Andjani menggambarkan kesuburan tanah Indonesia dengan warna terakota yang hangat. Tampak motif tenun ikat dengan aksen yang menyatu, melambangkan persatuan. Ada pula aksen ragam hias seperti tumpal di bagian tengah sebagai titip pusat yang melambangkan keseimbangan dan harapan baik.

Jika Andjani mengangkat keindahan daratan, Ghalia melukiskan panorama laut Indonesia. Warna laut kebiruan diharapkan dapat membawa rasa sejuk, tenang, dan harmonis saat sedang menyembah Rabb. Aksen warna coklat dengan garis biru pertanda kekayaan bahari, sedangkan motif ikat yang berkesinambungan seperti ombak menjadi simbol kepercayaan yang tulus.

Sementara Shabira dengan warna biru dan merah  menampakkan langit senja di garis Khatulistiwa. Warna ini diharapkan dapat memberikan rasa syahdu ketika menghadap Yang Maha Kuasa. Aksen menjalar dan saling bertautan dalam motif ikat merupakan lambang keharmonisan dan persatuan.

Didiet sengaja mengambil motif yang menggambarkan keindahan Indonesia agar umat Islam dapat salat dengan khusyuk.

"Kami berpikir bagaimana menghadirkan sesuatu yang aman, tidak mewakili secara spesifik atau simbol tertentu, tetapi merepresentasikan cerita dengan warna pada setiap koleksinya," tutur Didiet.

Sajadah premium ini dibuat dengan bahan suede empuk dan karet anti-slip di bagian bawah. Seluruh proses pembuatan menggunakan metode ramah lingkungan. Tinta warna yang dipakai juga berbahan dasar air.

"Kami menggunakan bahan natural, tidak menggunakan plastik, tidak menggunakan bahan beracun. Sajadah ini juga bisa dilipat dan mudah dibawa-bawa," ucap Nadja yang sedang berada di Jerman saat konferensi pers.

Sajadah ini seharusnya menjadi bagian dari koleksi Ramadan dan Hari Raya lalu. Namun, pandemi virus corona memaksa proses produksi terhambat hingga hampir satu bulan sehingga sajadah baru bisa diluncurkan setelah lebaran pada 3 Juni lalu.

Namun, Didiet mengaku tak masalah lantaran sajadah tetap dapat dipakai kapan saja. Apalagi di masa pandemi ini, kebutuhan sajadah pribadi meningkat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dua minggu dipasarkan secara internasional, sajadah ini mendapatkan respons yang positif. Pembeli datang dari sejumlah negara seperti Australia, Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah. Sajadah premium ini dijual dengan harga Rp459 ribu.

(ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK