Selayang Pandang Sejarah Kerak Telor di Jakarta

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2020 14:16 WIB
Penjual makanan kerak telor dalam acara 'Lebaran Betawi' di Setu Babakan, Jakarta. Sabtu, 29 Juli 2017. Acara tersebut untuk kesepuluh kalinya diselenggarakan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk mempererat silahtuhrami dan menyuguhkan berbagai produk kuliner, budaya, dan yang memiliki ciri khas Betawi. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono. Ilustras. Kerak telor dipercaya telah sejak lama mengisi sendi-sendi kehidupan masyarakat Betawi. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perayaan HUT DKI Jakarta tak akan lepas dari nuansa budaya Betawi, termasuk kulinernya. Dari sederet kuliner khas Betawi, kerak telor terbilang cukup populer, bahkan bagi masyarakat di luar Jakarta. Makanan satu ini seolah wajib dicicipi saat bertandang ke ibu kota.

Kerak telor dipercaya telah eksis sejak lama. Makanan ini telah mengisi sendi-sendi kehidupan masyarakat Betawi dari waktu ke waktu.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menyebut, kerak telor sudah ada sejak lama. Dari obrolannya bersama para sesepuh Betawi, dia menduga makanan ini telah ada sejak abad 19 atau awal abad 20.


"Pertama kita lihat dari keraknya. Orang-orang Betawi, kan, kalau masak di wadah-wadah yang dari gerabah, tanah liat, sehingga kalau mereka ada yang masak bubur, ngaduk dodol, itu, kan, ada sisa-sisa yang menempel pada wadah sehingga itu disebut kerak," jelas Yahya pada CNNIndonesia.com saat dihubungi via telepon, Sabtu (20/6).

Yahya menduga, kerak ini lah yang menginspirasi pembuatan model makanan lain, seperti salah satunya kerak telor.

Kerak telor sendiri merupakan makanan yang terbuat dari bahan dasar beras ketan dan telur. Kedua bahan utama itu ditambah dengan campuran bumbu seperti cabe, kencur, jahe, dan merica sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.

Proses pemanggangan dilakukan menggunakan tungku bara api. Adonan bakal diletakkan pada wajan kecil dan dipanggang hingga matang.

Setelah matang, kerak telor biasa disajian dengan campuran serundeng, ebi, dan bawang goreng.

Dihubungi terpisah, sejarawan J.J Rizal mengatakan bahwa banyak orang terjebak dengan istilah 'kerak' dan menganggap bahwa kerak telor merupakan panganan olahan sisa nasi.

Menurut Rizal, dalam kerak telor, kata 'kerak' merujuk pada teknik memasak nasi yang umum dilakukan masyarakat Betawi agraris. "Kerak di sini merujuk pada teknik memasak nasi, bukan sisa olahan nasi," ujar Rizal saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (21/6).

Kala itu, beras ketan-sebagai bahan dasar kerak telor-menjadi panganan pokok masyarakat Betawi agraris yang dahulu terletak di Karawang dan sekitarnya. Beras ketan menjadi salah satu komoditi utama.

Beras ketan ini kemudian dipadukan dengan serundeng yang terbuat dari kelapa yang disangrai. Kelapa sendiri merupakan bahan pangan masyarakat Betawi yang tinggal di pesisir pantai.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]