Makan Malam Lebih Awal Bantu Tubuh Bakar Lemak Lebih Banyak

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 28/06/2020 13:36 WIB
Ilustrasi Hidangan Khas Asia Ilustrasi. Kadar gula marah akan meningkat dan jumlah lemak yang dibakar akan lebih sedikit saat seseorang makan pada pukul 10 malam. (karriezhu/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Waktu makan menentukan banyaknya lemak yang dibakar dalam tubuh. Penelitian terbaru menemukan, makan malam lebih dini atau sekitar pukul 6 sore dapat membantu menurunkan berat badan.

Studi yang dipublikasikan di Endocrine Society's Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism ini meneliti hubungan antara waktu makan dan proses metabolisme makanan dalam tubuh.

Sebanyak 20 peserta studi yang dinyatakan sehat dilibatkan dalam penelitian ini. Peserta studi menjalani pola makan pada pukul 6 sore dan 10 malam dalam waktu yang berbeda. Peneliti ingin mengetahui perbandingan proses metabolisme tubuh saat makan malam dilakukan pada pukul 10 malam dan 6 sore.


Semua peserta studi dilaporkan tidur pada waktu yang sama, yakni pukul 11 malam.

Temuan menunjukkan bahwa kadar gula darah akan meningkat dan jumlah lemak yang dibakar lebih sedikit saat peserta studi makan pada pukul 10 malam. Hal yang sama juga terjadi bahkan ketika menu makan yang diberikan pada pukul 10 malam sama dengan yang diberikan pada pukul 6 sore.

"Kami tidak terkejut, karena penelitian lain telah menunjukkan bahwa jika Anda makan di luar fase ritme sirkadian normal tubuh, maka tubuh tak akan memetabolisme glukosa dengan cara yang sama," ujar penulis studi, Jonathan C Jun, mengutip Healthline.

Studi menemukan, makan terlambat atau sekitar pukul 10 malam dapat meningkatkan kadar gula darah hingga 20 persen dan menurunkan pembakaran lemak hingga 10 persen dibandingkan saat makan pada pukul 6 sore.

"Saya pikir setidaknya ini menunjukkan bahwa waktu makan memengaruhi cara tubuh menangani lemak dan kalori," kata Jun.

Mengomentari penelitian, ahli kesehatan Lisa K Diewald mengatakan bahwa temuan tersebut penting untuk pencegahan penyakit.

"Studi ini menjadi pengingat bahwa pola makan bukan cuma urusan ukuran dan jumlah makanan, tapi juga waktu makan," ujar Diewald. Dan, kesemuanya ini dapat memengaruhi risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.

(asr)

[Gambas:Video CNN]