Menimbang Risiko Berenang saat Pandemi Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 14:36 WIB
Kolam renang di W Bali Hotel Ilustrasi: Berenang saat pandemi virus corona menimbulkan rasa was-was terkena Covid-19. Berikut saran ahli dan CDC soal aktivitas tersebut. (Foto: Courtesy W Bali Hotel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian dari Anda mungkin sudah 'gerah' ingin segera berenang. Apalagi bagi yang terbiasa melakukan aktivitas ini setiap sepekan sekali. Wabah virus corona hampir melewati bulan keempat, beberapa kegiatan termasuk berenang saat pandemi ini perlu disikapi dengan normal baru (new normal).

Bagi yang memiliki kolam pribadi barangkali tak ambil pusing. Tapi mereka yang harus menggunakan kolam publik, tentu ada rasa was-was risiko penularan virus mengingat spot ini termasuk ruang publik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memang menyatakan tak ada bukti virus corona menyebar dari orang ke orang melalui air. CDC juga meyakinkan, klorin dan bromin yang mendisinfeksi kolam renang dan suhu panas tak memungkinkan virus penyebab Covid-19 itu aktif.


Pernyataan itu sejalan dengan konsensus para ahli yang menyatakan kemungkinan virus corona di ruang terbuka lebih kecil dibandingkan di ruang tertutup (indoor). Tapi bukan berarti tidak ada.

Dengan begitu mestinya tak jadi masalah ketika aktivitas berenang dilakukan di kolam pribadi. Tapi bagaimana dengan berenang di kolam renang publik di masa pandemi ini?

Para ahli tetap mewanti, siapapun yang melakukan kegiatan di luar ruangan termasuk berenang di kolam renang publik wajib mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari menjaga jarak, memastikan kebersihan tangan, mendisinfeksi permukaan dan wajib memakai masker.

Tapi tak dipungkiri, agak sukar menjalankan protokol kesehatan itu dengan kondisi di kolam renang publik--misalnya memakai masker di kolam renang.

Infografis Yang Harus Ada di Tas untuk Mencegah CoronaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Yang Harus Ada di Tas untuk Mencegah Corona

Dikutip dari laporan New York Times, ahli menjelaskan bahwa yang berbahaya bukan dalam air melainkan justru di luar air, di area kolam yang merupakan ruang publik dan ramai orang.

"Tidak ada hubungan risiko penularan [virus] dengan air laut atau terutama pada air kolam. Virus itu tidak ditularkan dengan rute ini, tidak ditularkan melalui air," terang Dr Ebb Lautenbach, Kepala Penyakit Menular di University of Pennsylvania's Perelman School of Medicine.

"Klorin dan bromin yang ada di kolam, menonaktifkan virus dan membuatnya bahkan memiliki risiko lebih rendah di air," jelas Ebb Lautenbach dikutip dari New York Times.

Sementara Angela Rasmussen, seorang ahli virologi dari Colombia University Mailman School of Publikc Health mengatakan memang mungkin secara teoritis akan terjadi infeksi virus corona di area kolam renang.

"Tapi itu sangat kecil sekali, hampir mendekati nol," kata dia.

Risiko penularan virus corona di kolam renang publik lebih tepatnya berasal dari orang-orang yang berkunjung ke sana. Misalnya di dalam ruangan seperti ruang ganti kolam renang yang ramai atau kafe di dalam ruangan.

Pemerintah di Indonesia mulai membuka kolam renang namun dengan sejumlah syarat. Di antaranya kewajiban memenuhi protokol kesehatan dan membatasi jumlah pengunjung.

Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro mengatakan, pemilik usaha atau fasilitas harus memastikan air kolam renang menggunakan desinfektan dengan klorin 1-10 ppm atau bromin 3-8 ppm sehingga pH air mencapai 7,2-8.

Reisa pun berharap masyarakat pengguna kolam renang memiliki kesadaran menjaga jarak. Baik di dalam kolam maupun di area sekitarnya.

"Jumlah pengguna kolam renang harus dibatasi agar bisa menerapkan jaga jarak, baik di dalam atau pun sekitar kolam renang dan menerapkan jaga jarak terutama juga di ruang gantinya," jelas Reisa di Graha BNPB, Jakarta, Minggu (28/6).

[Gambas:Video CNN]

Reisa melanjutkan, para pengguna kolam renang harus membawa perlengkapan renang sendiri yang meliputi baju renang, kacamata hingga handuk. Penggunaan masker sebelum dan sesudah aktivitas renang juga wajib dipatuhi.

Ia pun mengingatkan warga untuk tak memaksakan pergi keluar rumah jika kondisi tubuh tidak prima.

Virus corona memang diyakini tidak menular melalui air atau dalam kolam, CDC hingga kini masih menyatakan penyebaran terjadi melalui droplet atau tetesan cairan saluran pernapasan. Tapi dalam hal ini tantangan yang sesungguhnya menurut ahli dari University of Pennsylvania's Perelman School of Medicine, dokter Ebb Lautenbach justru adalah memastikan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

"Tantangan saat di kolam renang adalah benar-benar berlaku peraturan yang sama. Kita bisa mengatakan, 'kalau Anda ingin piknik maka pakailah masker', itu lebih mudah ketimbang meminta memakai masker di kawasan kolam renang," kata Ebb Lautencach.

"Kami juga tidak ingin orang tenggelam. Jadi itulah tantangan sebenarnya," tutur dia lagi.

Meski begitu Lautenbach menambahkan, Anda dapat menjaga jarak setidaknya enam kaki dari orang yang tak menggunakan masker--itu jika memungkinkan. Ini adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan.

Dia juga menyarankan meminimalkan kegiatan di air yang membawa Anda berdekatan secara fisik dengan orang lain.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]