Kenali Jalur Penularan Hepatitis B

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 12:58 WIB
hepatitis B Ilustrasi: Jalur penularan hepatitis B terbagi dua, yakni transmisi vertikal dan horizontal. Beda keduanya ada pada hubungan sumber infeksi dengan orang yang terinfeksi. (Foto: iStockphoto/jarun011)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat penyakit ini masih jadi masalah global.

Tanpa penanganan tepat, infeksi bisa mengarah pada sirosis atau kondisi organ hati yang rusak akibat terbentuknya jaringan parut, kanker hati hingga mengakibatkan kematian.

Jalur penularan hepatitis B bisa terjadi melalui dua cara, yakni transmisi vertikal dan transmisi horizontal.


1. Penularan hepatitis B melalui transmisi vertikal

Penularan atau transmisi vertikal hanya terjadi pada ibu yang terinfeksi virus HBV pada bayinya. Melansir dari laman resmi WHO, di wilayah yang tinggi kasus hepatitis B, transmisi vertikal adalah transmisi yang paling umum terjadi.

Dari riset yang dipublikasikan di International Journal of Women's Health pada 2014, penularan dari ibu ke bayi yang dikandungnya bisa melalui dua cara. Pertama, HBV mencapai janin dengan menembus plasenta. Selama perjalanannya, virus bisa menginfeksi dan mereplikasi semua jenis sel plasenta sebelum mencapai janin.

Kedua, saat persalinan. Ini paling sering ditemukan pada transmisi vertikal. Penularan hepatitis B terjadi saat bayi baru lahir mengalami kontak dengan sekresi atau darah ibu yang terinfeksi saat proses persalinan.

Sebagai pencegahan transmisi vertikal, CDC menganjurkan untuk identifikasi ibu hamil yang terinfeksi HBV dan memberikan vaksin immunoglobulin hepatitis B dan vaksin hepatitis B pada bayi mereka dalam kurun waktu 12 jam setelah lahir.

Infografis Beda-Hepatitis-A,-B,-C,-D,-dan-EFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Beda-Hepatitis-A,-B,-C,-D,-dan-E

2. Penularan hepatitis B melalui transmisi horizontal

Penularan hepatitis B dari pengidap ke orang yang terinfeksi disebut transmisi horizontal. Ada banyak jalur di antaranya jarum suntik tidak steril, tato, tindik, penggunaan pisau cukur bergantian atau hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi.

Melansir dari WebMD, hubungan seksual bisa jadi media penularan karena kontak dengan air mani, air liur, darah atau cairan vagina pasangan. Akan tetapi WHO menyebut infeksi pada masa dewasa mengakibatkan kasus hepatitis B kronis kurang dari 5 persen kasus. Sedangkan infeksi pada masa bayi atau usia dini mengakibatkan kasus hepatitis B kronis sekitar 95 persen kasus.

Setelah terkena virus, gejala tidak langsung timbul. Biasanya gejala baru muncul setelah 1-6 bulan infeksi.

Gejala berupa jaundice (penyakit kuning) di mana kulit dan mata jadi menguning, air kencing berubah menjadi oranye atau cokelat, begitu pula dengan feses, terjadi demam, lemah, juga masalah pada pencernaan misalnya mual, muntah, hilang nafsu makan, dan terasa sakit.

Tidak ada pengobatan yang khusus menghilangkan virus hepatitis B. Terapi hanya bertujuan menjaga kenyamanan tubuh dan memastikan keseimbangan gizi memadai termasuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah dan diare.

Pengobatan juga bertujuan memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi risiko kanker hati dan menjaga kelangsungan hidup.

(els/NMA)

[Gambas:Video CNN]