BKKBN Dukung Perencanaan Hidup Remaja di Kampanye 2125 Keren

BKKBN, CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 20:50 WIB
Ilustrasi menulis jurnal Ilustrasi remaja. (Foto: Raw Pixel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan Kampanye 2125 Keren sebagai rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-27.

Kampanye tersebut membidik remaja secara khusus, memberi edukasi bahwa usia ideal menikah bagi anak perempuan adalah 21, dan 25 tahun untuk anak laki-laki.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, kampanye 2125 Keren bertujuan membentuk generasi mendatang yang unggul dan sehat. Untuk mewujudkan hal itu, maka remaja-remaja yang kelak akan jadi orang tua diberi edukasi dan informasi sejak saat ini agar dapat melakukan perencanaan kehidupan yang baik.


"Anak-anak muda sekarang, yang umurnya di bawah 40 tahun, sangat menentukan masa depan, karena mereka ini yang akan melahirkan [generasi berikutnya], menghadirkan generasi baru yang akan datang. Ayo, kalau mau hamil, direncanakan, sehingga generasi muda ini sudah punya perencanaan," kata Hasto dalam acara Road to Hari Keluarga Nasional Ke-27 yang diadakan CNNIndonesia, Sabtu (27/6).

Perencanaan kehidupan, kata Hasto, memegang peranan penting untuk remaja. Dengan merencanakan kehidupan, remaja akan dapat melewati lima transisi. Transisi tersebut mencakup melanjutkan sekolah, mencari pekerjaan, memulai kehidupan berkeluarga, menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, dan mempraktekkan hidup sehat.

Hasto pun mengajak remaja untuk menyatakan penolakan terhadap tiga hal, yaitu seks pranikah, pernikahan dini, serta narkoba. Ia mengungkapkan bahwa ketiga hal itu akan berdampak negatif pada kehidupan remaja.

Terlebih, dalam seks pranikah yang dapat menyebabkan kehamilan tak diinginkan dan pernikahan usia dini, di mana siklus reproduksi remaja perempuan belum siap untuk dibuahi. Hal itu belum termasuk aspek-aspek lain seperti mental, kedewasaan, dan ekonomi.

"Sehingga risiko nikah dini ini jangka panjangnya ada, jangka pendeknya jelas. Mereka bisa pendarahan, kemudian [bayi] bisa lahir prematur, kemudian stunting [kondisi gagal pertumbuhan tubuh dan otak pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama], banyak sekali, belum terkait kanker mulut rahim yang juga terkait dnegan pernikahan dini," kata Hasto.

(rea)