Menakar Urgensi Masker Istri KSAD Dipakai Kelompok Rentan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 06:48 WIB
Old and dirty N95 face mask isolate on white background.Close up disposable face mask. Ilustrasi: Kecanggihan teknologi atau daya filter tinggi pada masker bukan penentu utama pencegahan virus corona pada kelompok rentan. (Foto: Istockphoto/Alohapatty)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kecanggihan teknologi sebuah masker bukan jadi penentu utama perlindungan kelompok rentan (memiliki penyakit bawaan) dari virus corona. Dokter spesialis paru di RSUP Persahabatan Mohamad Fahmi Alatas mengungkapkan pemakaian jenis masker harus disesuaikan pula dengan aktivitas penggunanya.

Ia mencontohkan, bagi petugas medis yang kerap kontak langsung dengan pasien Covid-19, maka wajar dibutuhkan masker dengan filter tinggi. Namun untuk masyarakat biasa, menurut Fahmi pemakaian masker khusus berdaya filter tinggi justru akan menimbulkan kesulitan bernapas.

Alih-alih membahas efektivitas masker, Fahmi menuturkan, pencegahan penularan virus corona yang utama bagi kelompok rentan adalah menjaga jarak fisik. Masker tetap diperlukan, tapi jauh lebih penting memastikan jarak aman.


"Mau pakai masker apapun, bedah, N95, masker kain, masker pinggir jalan, dia social distancing itu udah proteksi banget," kata Fahmi kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

"Nah dibalik, mau kita pakai masker bedah sekalipun, tapi bergaulnya di dalam [rumah sakit], lihat pasien, keramaian, tetap saja risikonya tinggi. Jadi enggak tergantung sama masker, tapi di mana kita berada," sambung dia.

Karena itu Fahmi pun menyarankan kelompok rentan atau orang yang memiliki penyakit bawaan sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah.

Sebelumnya, salah satu yang mengenakan masker dengan daya filter tinggi adalah istri KSAD Jendral TNI Andika Perkasa, Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono. Pada Minggu (5/7) lalu, ia tampil mengenakan masker transparan tersebut ketika mendampingi sang suami di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah.

Penggunaan masker berteknologi itu sempat jadi pembicaraan publik akibat penutup mulut dan hidung ini tidak umum dikenakan masyarakat--yang lebih akrab dengan masker kain.

Masker buatan Clean Space Technology seri Halo ini tergolong dalam respirator. Respirator memiliki kemampuan penyaringan partikel debu, kotoran juga virus dan bakteri lebih baik daripada masker biasa. Dalam laman resminya, masker diklaim mampu menyaring 99,97 persen partikel dengan ukuran mencapai 0,3 mikron, termasuk bio hazard.

Sederet keunggulannya membuat masker ditujukan untuk para pekerja medis yang langsung berhadapan dengan ancaman virus, bakteri termasuk virus corona.

masker clean spaceIlustrasi: Masker buatan Clean Space Technology seri Halo ini tergolong dalam respirator yang berkemampuan menyaring partikel debu, kotoran juga virus dan bakteri lebih baik daripada masker biasa. (Foto: Screenshot via web cleanspacetechnology.com)

Akan tetapi Fahmi masih menyangsikan efektifitas penyaringan masker jenis itu untuk kasus virus corona. Sebab ia belum menemukan pengujian ilmiah masker tersebut ke petugas medis di rumah sakit.

Akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu pun mengaku belum bisa memastikan apakah penggunaan masker bakal memproteksi total pemakainya dari ancaman infeksi.

"Itu harus ada bukti ilmiah. Benar enggak tenaga kesehatan pakai masker itu bisa aman? Masker juga enggak ada klaim khusus misal pasien asma pakai ini (bakal aman). Dia cuma klaim (kemampuan penyaringan) 99,97 persen. Klaim sih boleh-boleh saja," tutur dia.

Menurut dia, masker tersebut tidak jauh berbeda dengan masker Respirator Full Face keluaran label 3M--yang biasa dikenakan tenaga medis di rumah sakit. Hanya saja masker istri KSAD terlihat lebih nyaman lantaran half face atau hanya menutup hidung dan mulut. Sehingga tak menyulitkan pengguna yang berkacamata.

Selain hal di atas, Fahmi merasa tak menemukan hal lain yang terbilang 'very special' pada masker ini.

Sekilas, masker tampil canggih dengan fitur penyaringan mumpuni. Udara yang masuk akan disaring terlebih dahulu di panel bagian belakang masker, baru kemudian udara diembuskan ke bagian depan (mulut dan hidung).

Teknologi AirSensit membuat pemakainya tidak merasa sesak karena aliran udara lancar. Masker ini menggunakan tenaga listrik sehingga perlu diisi kembali secara rutin.

"Nah yang di bagian belakang kepala itu yang bisa dibuka dan diganti. Ibarat printer, itu semacam cartridge-nya. Itu problem buat kami karena gimana sterilisasinya? Tidak banyak masker yang beredar di Indonesia. Adanya masker bedah, N95 dan 3M (full face)--itu pun 3M sangat mahal," ungkap dia saat membahas soal masker Clean Space Technology seri Halo.

"N95 setelah dipakai, dibuang, itu sekitar Rp70ribuan, sehari bisa pakai 2. (Masker) 3M harganya sekitar Rp1,5 juta, kalau minta pakai itu, sterilisasinya di mana? Itu Space Clean juga ada motornya dan perlu sterilisasi juga," lanjut dia menerangkan.

(els/NMA)

[Gambas:Video CNN]