Studi: Kekebalan Tubuh Covid-19 Hilang Setelah Beberapa Bulan

tim, CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 21:00 WIB
This photo taken on February 16, 2020 shows a doctor looking at an image as he checks a patient who is infected by the COVID-19 coronavirus at the Wuhan Red Cross Hospital in Wuhan in China's central Hubei province. - The death toll from the COVID-19 coronavirus epidemic jumped to 1,770 in China after 105 more people died, the National Health Commission said February 17. (Photo by STR / AFP) / China OUT Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa pasien sembuh Covid-19 mungkin kehilangan kekebalan tubuh terhadap infeksi ulang virus corona dalam beberapa bulan.(Photo by STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah penelitian yang dirilis pada Senin (13/5) mengungkapkan bahwa pasien yang sembuh dari infeksi virus corona mungkin kehilangan kekebalan terhadap infeksi ulang virus corona dalam beberapa bulan.

Para ahli mengatakan bahwa hal ini memiliki pengaruh "signifikan" pada bagaimana pemerintah mengelola pandemi. Dalam studi pertama dari bidangnya, sebuah tim yang dipimpin oleh para peneliti dari King's College London memeriksa kadar antibodi pada lebih dari 90 pasien virus yang dikonfirmasi dan bagaimana mereka berubah dari waktu ke waktu.

Tes darah menunjukkan bahkan individu dengan gejala COVID-19 yang ringan memiliki beberapa respon imun terhadap virus. Dari kelompok studi, 60 persen menunjukkan tanggapan virus "kuat" dalam beberapa minggu pertama setelah infeksi.


Namun, setelah tiga bulan hanya 16,7 persen yang mempertahankan antibodi penawar COVID-19 tingkat tinggi, dan setelah 90 hari beberapa pasien tidak memiliki antibodi yang terdeteksi dalam aliran darah mereka.

Ketika tubuh menghadapi bahaya eksternal seperti virus, antibodi memobilisasi sel untuk melacak dan membunuh virus tersebut. Hal ini akan menghasilkan protein yang dikenal sebagai antibodi yang diprogram untuk menargetkan antigen spesifik yang diperangi tubuh. Selama seseorang memiliki cukup antibodi, mereka akan dapat menghilangkan infeksi baru, memberi mereka kekebalan.

Tetapi penelitian hari Senin menunjukkan kekebalan akan covid-19 mungkin tidak bertahan lebih dari beberapa bulan.

Para ahli mengatakan temuan ini dapat mengubah cara pemerintah merencanakan fase pandemi berikutnya, termasuk bagaimana mereka mendanai dan mengatur penelitian dan pengembangan vaksin.

"Ini adalah studi penting yang mulai mendefinisikan dinamika jangka panjang dari respon antibodi terhadap SARS-CoV-2," kata Lawrence Young, profesor Molekul Onkologi di Universitas Warwick dikutip dari AFP.

"Ini lebih jauh menekankan perlunya bagi kita untuk lebih memahami seperti apa tanggapan kekebalan protektif jika kita ingin mengembangkan vaksin yang efektif," kata Young, yang tidak terlibat dalam penelitian.

(chs)

[Gambas:Video CNN]