SURAT DARI RANTAU

Harap-harap Cemas Terbang Pulang ke Frankfurt

Fandi Stuerz, CNN Indonesia | Minggu, 26/07/2020 15:48 WIB
Usai menyelesaikan magang di Jakarta, saya harus kembali ke Frankfurt. Penerbangan pulang di tengah pandemi virus corona cukup mendebarkan. Pemandangan matahari terbit di pinggir kota Frankfurt, Jerman. (AP/Michael Probst)
Frankfurt, CNN Indonesia --

Sudah delapan tahun saya bermukim di Frankfurt, Jerman, untuk kuliah sembari bekerja. Sekitar bulan Februari sampai April, saya berada di Indonesia untuk menjalani magang di kanal Gaya Hidup CNNIndonesia.com sebagai salah satu syarat kelulusan saya.

Kedatangan saya ke Indonesia biasanya juga saya isi dengan berkumpul bersama keluarga yang ada di Jakarta atau Solo. Ketika mendapat libur dari tempat kerja, saya juga biasanya liburan bersama teman-teman ke Bali.

Tapi kunjungan saya ke Indonesia tahun ini rasanya lebih muram dari tahun-tahun sebelumnya. Gara-garanya virus corona yang mulai merajalela sejak akhir tahun lalu.


Puncaknya pada April, virus corona telah ditetapkan sebagai pandemi. Banyak negara yang mulai menutup perbatasannya dari pendatang luar negeri.

Sialnya, di bulan yang sama saya harus pulang ke Frankfurt karena tugas magang telah berakhir.

Virus yang menyebar dengan cepat dan aturan antarnegara yang "belum baku" membuat perjalanan pulang saya ke Frankfurt menjadi lebih sulit daripada kedatangan.

Saya memiliki tiket pesawat Qatar Airways untuk pulang ke Frankfurt, karena hanya maskapai itu yang memiliki rute Jakarta-Frankfurt. Tiket pulang sudah saya beli bersama dengan tiket kedatangan ke Indonesia. Keduanya dengan rute transit di Bangkok.

Pada April, Thailand sudah membatalkan seluruh penerbangan internasionalnya kecuali untuk warga negara Thailand dan pendatang yang memiliki surat keterangan kesehatan bebas Covid-19.

Kepanikan mulai melanda. Pasalnya virus corona telah menjadi pandemi sejak awal Maret, namun tes Covid-19 masih susah didapatkan di Indonesia.

Saya langsung menghubungi pihak maskapai untuk mengubah rute penerbangan menjadi Jakarta-Doha-Frankfurt. Ketika itu, aturan transit singkat di Doha belum seketat sekarang.

Namun jawaban tak kunjung saya dapatkan dari kantor perwakilan maskapai di Jakarta, padahal pekan keberangkatan sudah semakin dekat.

Saya lalu mencoba menghubungi kantor cabang yang ada di Doha. Kembali, saya harus menunggu lama untuk bisa mengubah rute. Akhirnya, saya pun menghubungi kantor cabang di Frankfurt.

Beruntungnya, rute tiket pulang saya bisa diubah dan saya bisa melakukan penerbangan pada 9 April!

Sebelumnya, pihak maskapai juga telah menghubungi pemerintah Jerman untuk mengkonfirmasi bahwa saya, sebagai seorang pemegang Permanent Residency, akan diizinkan untuk memasuki wilayah Jerman.

Pemerintah Jerman dari awal memang sudah memberikan informasi dengan jelas, siapa saja yang diperbolehkan masuk, yakni warga negara Jerman dan warga negara Uni Eropa beserta keluarganya, residen permanen (seperti saya), penumpang transit, serta beberapa pengecualian khusus seperti pasien berobat).

Berdebar sejak dari Jakarta

Hari keberangkatan tiba. Pemerintah Indonesia sudah mengumumkan virus corona sebagai kondisi gawat, namun belum menutup bandara untuk penerbangan internasional maupun domestik. Saya memilih membekali diri dengan masker dan hand sanitizer.

Suasana Terminal 3 Bandara Soetta amatlah berbeda seperti yang saya lihat saat baru datang ke Indonesia pada Februari.

Rombongan perjalanan bisnis, keluarga yang hendak liburan, atau pasangan yang akan bulan madu, tak terlihat.

Mobil, taksi, dan bus yang bisanya antre menurunkan penumpang beserta koper-koper besarnya juga seakan hilang dari pandangan.

Kedai kopi, restoran siap saji, toko bebas bea, sampai bangku ruang tunggu, juga kosong melompong.

Kalaupun ada orang, mereka berjalan tergesa-gesa dan terlihat mengenakan masker. Seperti tak ingin berpapasan dengan orang lain yang mungkin bakal menularkan virus corona.

Pemeriksaan menuju ruang tunggu keberangkatan semakin ketat. Tak hanya barang bawaan yang diperiksa, namun juga suhu tubuh calon penumpang. Sayangnya saat itu jumlah petugas masih kurang banyak, sehingga terjadi sedikit penumpukan penumpang di area pemeriksaan.

Penerbangan dari Jakarta menuju Doha berlangsung mulus. Setibanya di Doha, saya harus transit selama empat jam. Situasi di Bandara Internasional Hamad juga tak jauh berbeda dengan Soetta: bak kota hantu.

Suasana Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar, yang sepi saat pandemi virus corona pada bulan April 2020. (CNNIndonesia/Fandi Stuerz)Suasana Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar, yang sepi saat pandemi virus corona pada bulan April 2020. (CNNIndonesia/Fandi Stuerz)

Sembari menunggu waktu berangkat ke Frankfurt kepala saya kembali digerayangi pertanyaan yang sama saat di Jakarta; Bagaimana kalau saya ditolak masuk? Bagaimana kalau saya harus pulang lagi ke Indonesia? Bagaimana kalau beberapa menit kemudian penerbangan dibatalkan?

Kecemasan saya sirna begitu pengeras suara menginformasikan waktu keberangkatan pesawat saya. Frankfurt, saya datang!

Memikirkan virus corona sepanjang penerbangan rasanya bisa mengalahkan kengerian saya saat pesawat mengalami turbulensi di udara.

Sepanjang penerbangan, saya berusaha berpikir positif agar tak tertular flu atau batuk dari penumpang yang satu pesawat.

Karantina di Frankfurt

Setibanya di Bandara Internasional Frankfurt, saya tidak mengalami kesulitan saat melalui bagian imigrasi.

Di sana, saya disodori surat keterangan yang menyatakan kewajiban untuk segera melapor ke dinas kesehatan bahwa saya baru saja datang dari luar negeri. Hukumnya wajib, karena di situ tertera denda hingga 25 ribu Euro (sekitar Rp425 juta) bagi yang alpa melapor.

Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui dengan pasti di mana para pendatang berada, dan mendeteksi apabila terjadi klaster Covid-19, dan memudahkan dinas kesehatan untuk memantau peredaran pendatang.

Lagipula dengan melapor, pendatang diberi prioritas untuk tes apabila mengalami gejala Covid-19.

Selain itu, saya diwajibkan untuk karantina di rumah selama 14 hari. Karantina, yang berbeda dari isolasi, berarti tidak boleh keluar rumah sama sekali, bahkan untuk berbelanja.

2. Surat peraturan karantina mandiri bagi pendatang asing yang masuk ke Frankfurt, Jerman. (CNNIndonesia/Fandi Stuerz0Surat peraturan karantina mandiri bagi pendatang asing yang masuk ke Frankfurt, Jerman. (CNNIndonesia/Fandi Stuerz0

Untungnya beberapa tetangga dan teman-teman membantu saya membelikan bahan kebutuhan pokok. Bahkan di platform daring banyak mahasiswa yang menawarkan jasa bantuan belanja gratis bagi mereka yang tidak boleh/tidak bisa keluar rumah, misalnya untuk para lansia.

Beberapa buku yang saya bawa dari Jakarta menemani masa karantina saya. Perkuliahan daring juga berangsur menyibukkan hari-hari selama di rumah saja.

Dua minggu berlalu, saya melapor lagi kepada dinas kesehatan dan mengatakan bahwa saya tidak memiliki keluhan kesehatan apapun. Setelah wawancara singkat dan menerangkan bahwa saya tidak memiliki gejala Covid-19, saya diperbolehkan lagi untuk keluar rumah!

Jerman memiliki kasus Covid-19 yang termasuk tinggi, namun kesiapan infrastruktur mereka sangat mapan dan bahkan berlebih, sehingga mampu untuk mengambil pasien dari Italia dan Prancis dan mengirim ventilator ke Spanyol.

Sejak awal, pendekatan pemerintah Jerman dalam penanganan Covid-19 terlihat sangat berporos pada sains dan penalaran berbasis bukti. Mungkin salah satu alasannya karena Kanselir Angela Merkel dulunya adalah ilmuwan kimia kuantum.

Perkumpulan lebih dari tiga orang dilarang. Kunjungan ke rumah sakit dibatasi. Sekolah, kampus, rumah ibadah, dan kantor tutup. Aktivitas perekonomian negara banyak yang terhenti.

Namun, pemerintah Jerman menggelontorkan dana 156 miliar Euro (atau nyaris sekitar Rp 12.500 triliun), yang ditujukan bagi pos-pos penting seperti penambahan kapasitas fasilitas kesehatan, bantuan bagi industri segala ukuran (termasuk cuti ditanggung negara dengan gaji 60-80 persen dari gaji pokok selama penutupan berlangsung), hingga bantuan dana bagi wiraswasta.

Para politisi juga terlihat "akur" dalam menyampaikan informasi publik, dan hal ini dilakukan dengan serius, tanpa lelucon, dan berbasis sains.

Informasi kesehatan dan sanitasi juga disebarluaskan. Data harian penambahan kasus juga ditayangkan di televisi, beserta data yang lebih penting, yakni R0, yang menunjukkan jumlah rata-rata orang yang terinfeksi oleh satu orang yang terinfeksi, atau kenaikan relatif jumlah pasien, yang berkaitan erat dengan kapabilitas rumah sakit dan tenaga medis dalam menerima dan menangani pasien baru.

Tracing, testing, treatment, tracking. Semuanya dilakukan dengan efisiensi khas Jerman.

Meski pandemi jauh dari akhir, penduduk Jerman saat ini merasakan bagaimana tindakan-tindakan ketat di awal pandemi mengizinkan mereka untuk membuka sedikit demi sedikit 'kekangan' yang diberlakukan.

Saat saya menulis Surat dari Rantau ini di bulan Juli, toko-toko sudah kembali buka, meski dengan jam buka yang lebih pendek. Masker wajib digunakan semua orang saat keluar rumah, termasuk saat menaiki kendaraan umum.

Jalanan sudah kembali ramai. Restoran sudah mulai menerima tamu, dan setiap pengunjung diwajibkan untuk menulis data diri termasuk tanggal dan jam kunjungan, demi kepentingan tracking apabila ada pengunjung lain yang kemudian terkena Covid-19.

Meski beberapa destinasi wisata di Eropa juga mulai terbuka bagi turis Jerman, dan Uni Eropa sudah terbuka bagi pendatang dari 15 negara, saat ini saya belum berencana untuk keluar negeri - yang sebenarnya sangat mudah dilakukan dari Frankfurt (dari stasiun utama Frankfurt, sambungan kereta ke Amsterdam hanya 3,5 jam, ke Paris 4 jam).

Mungkin selesai ujian saya akan berkunjung ke beberapa kota terdekat. Atau bersepeda ke hutan dan danau di sekeliling kota Frankfurt, berusaha menikmati alam di waktu senggang sambil tetap menjauh dari keramaian.

-

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com

(ard)

[Gambas:Video CNN]