Pasien Infeksi Corona Alami Rambut Rontok

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 10:10 WIB
Rambut yang rontok karena corona ini dipicu oleh hormon stres yang meningkat saat mengalami gejala-gejala parah Ilustrasi. Rambut yang rontok karena corona ini dipicu oleh hormon stres yang meningkat saat mengalami gejala-gejala parah (Istockphoto/ Gpointstudio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari dua bulan setelah dinyatakan positif terinfeksi virus corona penyebab Covid-19, Peggy Goroly mulai mengalami kerontokan rambut. Rambut yang rontok karena corona cukup membuatnya trauma.

"Kehilangan rambut yang banyak ini benar-benar membuat saya trauma," ujar Goroly, mengutip Business Insider.

Tapi Goroly bukan satu-satunya pasien Covid-19 yang mengalami kerontokan rambut. Sejumlah pasien lain juga dilaporkan mengalami hal serupa.


Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat) tak mencantumkan kerontokan rambut sebagai gejala Covid-19. Tapi, beberapa dokter telah menemukan kondisi yang sama pada pasien.

"Ini [rambut rontok] cenderung terjadi pada orang-orang dengan gejala cukup parah," ujar seorang dokter yang turut mengatasi pasien Covid-19 di Amerika Serikat, Nate Favini.

Favini mengatakan bahwa pasien Covid-19 berisiko mengalami telogen effluvium. Nama terakhir merupakan kondisi yang membuat rambut berhenti tumbuh dan rontok kira-kira tiga bulan setelah peristiwa traumatis.

Rambut rontok sebenarnya perkara umum yang dihadapi banyak orang. Namun, jika rata-rata orang sehat kehilangan sekitar 100 helai rambut per hari, orang dengan telogen effluvium akan kehilangan tiga kali lipatnya.

"Ketika tubuh berada dalam situasi yang sangat menegangkan, energi bisa beralih dari menumbuhkan rambut ke hal-hal lain yang lebih penting," kata Favini. Stres bisa keluar dalam bentuk fisik atau psikis.

Kerontokan rambut juga tak mengejutkan bagi pakar penyakit menular dari Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A Adalja. Senada dengan Favini, kondisi tersebut, sebut Adalja, disebabkan oleh mekanisme yang dikenal dengan telogen effluvium.

"Setelah mengalami tekanan fisiologis, ada kondisi yang berdampak pada siklus pertumbuhan folikel rambut," ujar Adalja, mengutip Health.

Telogen effluvium biasanya terjadi selama tiga bulan setelah peristiwa stres dan traumatis. Namun, pada pasien Covid-19, lamanya rambut rontok tak bisa diprediksi.

Ahli dermatologi, Angelo Landriscina mengtakan bahwa kondisi ini biasanya didorong oleh peristiwa luar biasa dalam hidup yang penuh tekanan. "Tapi, ini bukan karena stres harian biasa," tambahnya menegaskan.

Selama stres, kata Landriscina, tubuh melepaskan hormon kortisol penyebab stres. "Kita juga tahu bahwa kortisol dapat memengaruhi struktur rambut," tambah dia.

Selain sabar melakukan perawatan pada rambut yang rontok karena corona, Landriscina menyarankan agar orang menggunakan larutan minoxidil 5 persen yang digunakan secara topikal. "Ini [larutan minoxidil] mendorong folikel rambut untuk meninggalkan fase telogen dan kembali ke fase pertumbuhan," pungkas dia.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]