Beirut, Kota Kosmopolitan Mirip Paris di Timur Tengah

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 13:22 WIB
Invasi Prancis saat Perang Dunia II sempat mampir di Beirut. Kini, kota pesisir itu disebut Kota Paris di Timur Tengah. Pemandangan kota Beirut di Libanon dari ketinggian. (iStockphoto/rakkaustv)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama ibu kota Libanon, Beirut, mendadak menjadi judul pemberitaan media internasional setelah kasus ledakan besar di gudang pelabuhan terjadi pada Selasa (4/8) waktu setempat.

Ledakan itu muncul dengan asap berbentuk awan jamur, yang banyak disebut mirip ledakan bom atom yang terjadi di Hiroshima, Jepang, puluhan tahun silam.

Puluhan orang tewas dan terluka dalam kejadian itu, termasuk kerusakan pada gedung, rumah, ruas jalan, dan kendaraan bermotor yang sedang lalu lalang di sekitarnya.


Guncangan dan dentuman dari ledakan besar yang terjadi di Beirut kabarnya sampai terdengar hingga negara tetangganya, Siprus, yang notabene ratusan mil jauhnya.

Ledakan itu juga mencatat gempa bumi berkekuatan 3,3 SR di Beirut.

Jauh sebelum kasus ledakan, Beirut adalah salah satu destinasi wisata populer di dunia yang sampai disebut Kota Paris di Timur Tengah.

Mengutip dari Culture Trip, sebutan tersebut muncul karena penjajah Prancis sempat menginvasi kota berpenduduk 2,1 juta jiwa ini pada masa Perang Dunia II.

Pada saat itu, Beirut menjadi pusat gerakan politik dan intelektual.

Seiring perjalanan waktu, apiknya perpaduan budaya dunia Barat dan Timur ikut membuat Beirut menjadi kota yang ramah turis bagi wisatawan mancanegara.

Libanon merupakan negara dengan empat musim, tapi Beirut dianugerahi iklim Mediterania karena letaknya di pesisir.

Musim semi di sini berlangsung mulai dari bulan April sampai Juni, yang lalu berlanjut ke musim panas dari bulan Juli ke Agustus.

Panasnya tidak main-main, karena pernah mencapai 41 derajat Celcius.

Lalu musim gugur atau berlangsung mulai dari bulan November sampai Maret, yang dilanjutkan dengan musim dingin pada bulan Desember sampai Februari.

Suhu dingin pada saat itu pernah mencapai 0 derajat Celcius. Di musim dingin, banyak penduduk yang mendatangi kawasan pegunungan untuk bermain ski.

Top view of Beirut Port and Achrafieh area in Beirut, LebanonPemandangan Pelabuhan Beirut sebelum terjadinya ledakan. (iStockphoto/Maher Iskandar)

Karena akurnya kehidupan beragama antara umat Kristiani dan Muslim, hari raya dua agama tersebut dijadikan hari libur nasional di Libanon, sama seperti di Indonesia.

Walau lokasinya berada di Timur Tengah dan sebagian besar penduduknya berbicara dengan bahasa Arab, namun kode berbusana di sini tidak seketat di Dubai atau Mesir. Banyak penduduk dan turis yang santai berpakaian terbuka saat musim panas, meski wajib harus berpakaian tertutup saat mengunjung objek wisata religius.

Selain bahasa Arab, penduduk di sini juga banyak yang berbicara bahasa Prancis dan Inggris. Kaum lansia biasanya berbahasa Arab Libanon. Papan nama jalan di sini kebanyakan berbahasa Arab dan Prancis.

Turis mancanegara biasanya mendarat di Bandara Internasional Beirut Rafik Hariri, yang berjarak kurang lebih 20 menit perjalanan kendaraan bermotor ke pusat kota Beirut.

Karena Libanon diapit oleh Suriah dan Israel, maka turis bisa saja masuk ke Beirut melalui jalur darat lalu menyambung lewat jalur air. Namun karena saat ini ada banyak konflik di perbatasan, jalur darat antar dua negara ini banyak yang ditutup.

Deretan kafe dan pohon palem di pinggir jalan dan bangunan kuno bercat cokelat oranye dengan perpaduan arsitektur Ottoman, kolonial, dan tropis, seakan menjadi bukti mengapa Beirut disebut Kota Paris di Timur Tengah.

Bagi yang ingin kongko di kafe atau menikmati hiburan malam bisa mendatangi kawasan Mar Mikhael, Hamra, Gemmayze, atau Monot Street.

Sementara itu wisata belanja bisa dilakukan di Beirut Souks.

People walking in the beautiful street in Beirut Lebanon 2 February 2018Deretan kafe dan pertokoan di Beirut. (iStockphoto/Catay)

Turis yang berdompet tebal biasanya nongkrong di Corniche, kawasan tepi pantai yang memanjang 5 km antara St. George Bay dan Ramlet al-Bayda.

Pemandangan di sana mirip di Los Angeles, hanya saja latar belakangnya merupakan Laut Mediterania - dan gugusan karang terkenal, Pigeon's Rocks, serta Gunung Libanon.

Untuk wisata sejarah, religi, dan seni, turis bisa mendatangi Martyrs' Square, Robert Mouawad Private Museum, National Museum of Beirut, Metropolis Art Cinema, Grand Omari Mosque, Saint George's Greek Orthodox Cathedral, dan Beirut Art Centre.

Lalu untuk wisata alam, turis biasanya diarahkan menuju ke Sioufi Park, El Delie - Rouche, atau Gunung Libanon.

Turis Indonesia wajib mengurus visa untuk bisa berkunjung ke Libanon.

Namun tetaplah waspada dengan barang berharga dan keselamatan diri selama melancong ke Beirut, karena kabarnya banyak tindak kriminal seperti pencopetan dan penjambretan terhadap turis mancanegara di sana.

[Gambas:Instagram]

(ard)

[Gambas:Video CNN]