Alasan Psikologis Sebagian Orang Menyangkal Pandemi Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/08/2020 19:08 WIB
Penyangkalan sebagian orang terhadap Covid-19 disebabkan karena ketidakmampuan mengendalikan situasi. Sikap ini menurut psikolog, justru membahayakan. Ilustrasi: Penyangkalan sebagian orang terhadap Covid-19 disebabkan karena ketidakmampuan mengendalikan situasi. Sikap ini menurut psikolog, justru membahayakan. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus musisi I Gede Ari Astina atau Jerinx SID dan Erdian Aji Prihartanto alias Anji yang menyangsikan kebenaran pandemi Covid-19 barangkali hanya segelintir contoh. Di luar sana, ada saja orang yang masih meragukan virus corona penyebab Covid-19 yang hingga Selasa (18/8) telah menewaskan lebih 774 ribu orang di dunia.

Di tingkat global menurut data yang dihimpun Johns Hopkins University, virus ini telah menginfeksi lebih 21 juta orang. Secara umum, grafik kasus positif belum menunjukkan penurunan.

Meski jumlah kasus terus meningkat dan bukti-bukti diperlihatkan, sebagian orang masih saja enggan percaya pada virus corona. Ada sejumlah alasan yang membuat orang tak bisa menerima kenyataan dan menyangkal kebenaran terkait Covid-19.


Psikolog Eve dan Mark Whitmore menjelaskan dalam psikologi, denial atau penyangkalan kerap disebut sebagai mekanisme pertahanan.

"Penolakan adalah cara untuk membela diri dari kecemasan. Ketika orang berada dalam banyak kecemasan dan itu dianggap sebagai ancaman, maka mereka mengembangkan strategi untuk melindungi diri mereka sendiri, rasa aman dan keselamatan mereka," kata Mark dalam wawancara bersama CNN.

"Dan, salah satunya adalah dengan menyangkal apapun sumber ancaman itu. Dalam kasus ini, Anda cukup berkata, 'Wabah adalah tipuan. Tidak benar-benar ada,'" tambah dia lagi.

Mark menyebut seringkali penyangkalan ditambah dengan rasionalisasi atau menambahkan sebuah informasi yang sudah rasional. Misalnya, mengakui bahwa Covid-19 itu ada tetapi hanyalah flu biasa yang tak perlu ditakutkan.

Menurut Mark, penyangkalan terkait Covid-19 banyak terjadi lantaran virus ini merupakan virus yang baru sehingga muncul banyak informasi baru yang dengan cepat berubah dan tak jarang kontradiktif.

"Bagi sebagian orang, ini menciptakan mitos tentang pandemi atau sekadar mencari informasi yang akan memperkuat sudut pandang mereka bahwa itu tidak separah yang dikatakan orang," jelas Mark yang juga merupakan associate professor di College of Business Administration di Kent State University, Amerika Serikat.

Infografis Komparasi SARS, MERS, dan Virus Corona dalam AngkaFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Infografis Komparasi SARS, MERS, dan Virus Corona dalam Angka

Serupa diutarakan Psikolog Klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla bahwa ketidakmampuan mengendali situasi dan rasa takut berlebihan memicu sebagian orang mempercayai teori yang sesuai dengan anggapannya. Padahal, hal tersebut tak sesuai fakta.

"Dan karena dianggap sains-nya tidak memberikan kepastian juga, dan lagi sains punya konsekuensi perilaku yang harus dilakukan dan itu tidak menyenangkan, dan tidak nyaman, dan membuat stresfull. Lalu ditawarkan penjelasan yang lebih sesuai dengan apa yang diinginkan, ya why not. Dan konsekuensinya lebih positif. Jadi ya sudah," jelas Veronica kepada CNNIndonesia.com.

Padahal hal tersebut justru berisiko. Alih-alih mendatangkan ketenangan psikis sementara, orang yang mengabaikan kebenaran pandemi Covid-19 sebenarnya hanya akan bertindak didasari perasaan belaka.

"Ini yang harus dikritisi, apa yang saya rasa benar, belum tentu itu yang benar. Karena kalau bilang, rasanya benar. Nah kalau tidak bisa dibuktikan, itu perasaannya salah," tutur Veronica.

Peringatan serupa diungkapkan Mark Whitmore. Penyangkalan terhadap kebenaran informasi bisa berbahaya karena tergolong sebagai maladaptif atau kesalahan dalam beradaptasi.

Mekanisme denial tidak dapat membantu seseorang beradaptasi dengan ancaman yang muncul. Sebaliknya, cara ini justru memberikan peluang yang lebih besar bagi seseorang untuk terkena ancaman itu, seperti Covid-19.

"Dalam kasus pandemi, Anda bisa jatuh sakit karena jika Anda menyangkal, Anda merasionalisasi parahnya situasi. Maka Anda mungkin tidak akan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi diri Anda sendiri," kata Mark.

Eve menjelaskan sikap penyangkalan sudah berkembang dalam diri setiap orang sejak masih berusia kanak-kanak. Orang tua memiliki peran penting untuk menumbuhkan sikap dan penilaian anak terhadap suatu masalah.

"Ketika orang dewasa dibesarkan dalam lingkungan di mana kepercayaan yang tidak berdasar merupakan bagian dari asuhan mereka, mereka cenderung lebih percaya pada teori konspirasi dan hoax. Mereka juga cenderung membuat keputusan berdasarkan firasat dan ide serta bias yang terbentuk sebelumnya dibandingkan dengan menggunakan informasi faktual," kata Eve.

INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONAFoto: CNN Indonesia/Fajrian
INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONA

Untuk mengubah pandangan seseorang, Mark menyarankan agar melakukannya secara bertahap. Mulailah dengan memberikan informasi yang kontradiktif atau berlawanan dan faktual, serta hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri mereka sendiri.

Saat orang tersebut mulai menerima kebenaran tersebut, tingkatkan intensitas informasi yang realistis secara bertahap sampai mereka sepenuhnya menerima kebenaran tersebut.

Selain itu, memberikan contoh langsung juga dapat membuat mereka mempercayai kebenaran informasi. Misalnya, selalu gunakan masker, menolak ajakan bepergian yang tidak perlu, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/NMA)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK