Penyebab Tingginya Kematian Dokter dan Nakes di Masa Covid-19

tim, CNN Indonesia | Jumat, 04/09/2020 19:59 WIB
Kasus kematian dokter dan tenaga kesehatan karena Covid-19 di Indonesia terus bertambah, salah satu penyebabnya karena burnout. ilustrasi: Kasus kematian dokter dan tenaga kesehatan karena Covid-19 di Indonesia terus bertambah, salah satu penyebabnya karena burnout. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus kematian dokter dan tenaga kesehatan karena Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Beberapa faktor dinilai menjadi penyebab tingginya angka kematian dokter dan tenaga kesehatan (nakes) lainnya, salah satunya adalah burnout atau kelelahan bekerja.

Studi terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan semua tenaga kesehatan mengalami burnout atau gejala yang timbul karena stresor dan konflik di tempat kerja seperti kelelahan emosi, kehilangan empati, dan berkurangnya rasa percaya diri. Sebanyak 83 persen tenaga kesehatan mengalami gejala sedang hingga berat.

Burnout pada tenaga kesehatan menimbulkan rasa lelah baik secara fisik maupun emosi. Keadaan ini membuat daya tahan tubuh melemah sehingga lebih rentan terhadap Covid-19 dan berisiko menimbulkan gejala yang parah sehingga menyebabkan kematian.


Berdasarkan data yang dihimpun peneliti FKUI, saat tercatat lebih dari 100 dokter, 55 perawat, 15 bidan, dan 8 dokter gigi yang meninggal dunia karena Covid-19.

Menurut Dekan FKUI profesor Ari Fahrial Syam, selain burnout terdapat beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian tenaga kesehatan.

"Ada kemungkinan burnout, ada kemungkinan komorbid, ada faktor beban kerja, dan rata-rata yang meninggal berusia di atas 45 tahun," kata Ari dalam pemaparan hasil studi FKUI, Jumat (4/9).

Ketersedian alat pelindung diri (APD) yang melindungi dari paparan virus corona juga dianggap berkontribusi pada kematian tenaga kesehatan.

Menurut Ari, di awal pandemi, kasus kematian tenaga kesehatan karena Covid-19 dipicu karena keterbatasan APD. Saat ini berdasarkan, temuan studi FKUI, masih terdapat 2 persen tenaga kesehatan yang tidak mendapatkan APD.

"Di awal ada kemungkinan karena keterbatasan APD. Sekarang sudah menggunakan APD lengkap. Ada kemungkinan proses penularan bukan dari pasien. Ada satu kasus dari supir, ada yang saat berinteraksi di ruang makan. Jadi, multifaktor," kata Ari yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam.

Ari menyebut saat ini tak bisa diketahui secara pasti penyebab kematian pada tenaga kesehatan Covid-19 secara forensik karena Indonesia belum memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Doctor Giovanni Passeri relaxes in the doctor's lounge after completing a routine round of medical examinations during a night shift in his ward in the COVID-19 section of the Maggiore Hospital in Parma, northern Italy, Wednesday, April 8, 2020. Most of the times he is on a night shift the couch is the best Passeri can get to stretch out. A cardboard box at right holds envelopes with the medical charts of discharged patients. (AP Photo/Domenico Stinellis)Foto: AP Photo/Domenico Stinellis
Seorang dokter di Italia tengah beristirahat

"Di beberapa negara mungkin forensik medis itu suatu yang umum sehingga bisa tahu penyebab meninggal karena paru atau komplikasi atau yang lain. Di Indonesia belum bisa dilakukan sehingga tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang mengalami kematian secara forensik," tutur Ari.

Ari menyebut kematian dokter karena Covid-19 harus dikurangi dengan mengurangi jumlah kasus secara menyeluruh. Dokter dan tenaga medis lainnya merupakan garda terdepan untuk memerangi Covid-19 dan masalah kesehatan lainnya.

"Butuh bertahun-tahun untuk menciptakan seorang dokter dari pendidikan awal sampai spesialis dan konsultan. Jumlah kasus harus dikurangi sebagai upaya pencegahan. Kalau tidak, kami para dokter yang menjadi korban," kata Ari.

(ptj/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK