Tip Ampuh Komunikasi Anti Stres dengan Penderita Demensia

CNN Indonesia | Minggu, 13/09/2020 07:28 WIB
Komunikasi sering jadi penghalang antara perawat dan orang dengan demensia. Komunikasi yang tak efektif sering menjadi dalang dari rasa frustrasi perawat. Perjuangan melawan penyakit demensia. (AFP PHOTO / BEHROUZ MEHRI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai bulan Alzheimer sedunia, September menjadi istimewa. Tak hanya untuk pengidapnya, namun juga untuk perawat orang dengan demensia (ODD). 

Trainer Dementia Care sekaligus Dosen UGM Sri Mulyani menyebut kerap kali komunikasi menjadi penghalang antara perawat dan ODD.

Komunikasi yang tak efektif sering menjadi dalang dari rasa frustrasi perawat, dalam kasus ekstrem dapat memicu keinginan bunuh diri dari perawat ODD.

Sri mengatakan, memahami kebutuhan ODD adalah kunci berkomunikasi efektif dengan penderita demensia. Berikut adalah tip ampuh berkomunikasi dengan ODD:

1. Perhatian


Dalam mendampingi ODD, stres merupakan hal yang wajar dirasakan oleh perawat. Meski merawat orang-orang terdekat, namun perubahan sikap oleh ODD dapat membuat pendamping merasa asing dan tak paham dengan keinginan mereka.


Namun, Sri menyebut penting bagi pendamping untuk memperhatikan hal-hal kecil, buatlah interaksi yang menyenangkan. Hal kecil yang dapat dilakukan yaitu dengan memperkenalkan diri Anda, hindari memulai percakapan yang dapat membuat ODD merasa terpojok.

Misalnya, jangan menanyakan siapa diri Anda kenapa ODD, hindari membuat ODD merasa bersalah tak dapat mengingat pendampingnya. Namun, perkenalkan lah diri Anda setiap menyapa ODD agar mereka merasa nyaman.

Hal lain yang bisa dilakukan yaitu menggunakan panggilan nama yang mereka sukai, ini dapat membuat ODD merasa dekat dengan pendamping. Selain itu, kurangi distraksi seperti mengejutkan mereka meski niatnya untuk mencairkan suasana.

2. Komunikasi Sederhana

Dalam berkomunikasi dengan ODD, disarankan untuk berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Juga, gunakan pernyataan langsung yang tak berbelit-belit.

Perlu dipahami bahwa ODD kerap lupa dengan apa yang hendak dilakukannya. Misalnya, jika ODD lupa meminum air yang dimintanya, ingatkan mereka dengan bahasa sederhana dan jangan mempertanyakan motif dari perilaku mereka.

Sri menyebut biasanya mereka hanya lupa dan jika diingatkan dengan kalimat sopan, komunikasi tak seharusnya menyulitkan.

Lebih lanjut, jangan perlakukan ODD seperti anak kecil dan jika mengingatkan mereka akan hal-hal sepele seperti mengancing baju atau menyisir rambut, gunakan kalimat positif dan hindari membuat ODD merasa kecil hati.


Jika masih tak berhasil, tunjukkan cara melakukan hal tersebut secara bertahap. Jika ODD merasa dipermalukan, bisa jadi reaksi yang ditunjukkan menjadi negatif dan komunikasi akan sulit dilakukan.


Untuk komunikasi non-verbal, prinsipnya sama. Jangan terburu-buru, tenang, dan gunakan bahasa tubuh dan nada yang tidak menekan. Juga, jaga kontak mata sejajar agar instruksi dapat dipahami. 
Bila perlu berikan sentuhan fisik. Namun, jangan sampai melanggar privasi ODD. 

3. Akui Perasaan ODD 


Sri mengatakan sebagai pendamping, pahami jika penderita demensia mudah merasa sedih karena realita yang dihadapi. Mereka jadi sering marah dan bersikap menyulitkan. Bisa jadi, rasa kesal ditunjukkan karena ODD ingin dipahami.


Meski menantang, namun ini bukan alasan bagi pendamping untuk balik menunjukkan rasa frustrasi. Biasanya, jika pendamping bersikap lembut dan mengakui kekhawatiran ODD, komunikasi  akan berubah arah.

Dia juga menyarankan untuk menggunakan petunjuk non-verbal seperti anggukan, gelengan, dan senyuman dalam merespons.

4. Dukungan

Ditekankan kepada pendamping untuk tidak membicarakan ODD atau yang lebih parah, mengolok perilaku atau ucapan di hadapannya. Dia juga menyebut hal yang sering luput oleh pendamping yaitu secara tak sengaja mengeluh di depan ODD. Ini dapat membuat pengidap demensia merasa menyusahkan pendamping dan secara tidak langsung membentuk dinding pemisah.


Serta, dengarkan apa yang mereka sampaikan meski percakapan telah diulang berkali-kali. Jangan buat ODD merasa mereka pikun dan apa yang mereka katakan tak menarik.

Yang terpenting, cari tahu alasan komunikasi dengan ODD bermasalah, apakah itu komunikasi yang tak efektif, keinginan yang tak terpenuhi, atau lingkungan yang tak mendukung. 
Biasanya, lanjut Sri, ODD merupakan faktor terakhir dari pemicu perilaku yang tidak menyenangkan dari interaksi yang terjalin.

Ia juga menyebut normal untuk para pendamping merasa stres dan jangan malu untuk meminta pertolongan dari tenaga ahli atau dukungan keluarga jika memang dibutuhkan.

(wel/dea)

[Gambas:Video CNN]