Hati-hati Cemburu Berlebihan Bisa Jadi Tanda Sindrom Othello

tim, CNN Indonesia | Senin, 07/09/2020 14:08 WIB
Cemburu itu wajar dalam hubungan, tapi kalau cemburu berlebihan bisa jadi Anda mengidap sindrom othello. Cemburu itu wajar dalam hubungan, tapi kalau cemburu berlebihan bisa jadi Anda mengidap sindrom othello. (iStockphoto/dragana991)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cemburu dalam sebuah hubungan sebenarnya sah-sah saja. Namun yang jadi masalah adalah kalau sedikit-sedikit cemburu buta dan ujung-ujungnya ngambek pada pasangan tanpa alasan yang jelas.

Si dia telat pulang, Anda cemburu dan menuduhnya selingkuh. Dia bersama teman-temannya, dicemburui. Kalau sudah cemburu berlebihan begini bisa jadi Anda mengidap sindrom Othello.

Cemburu adalah emosi kompleks yang umum dialami sebagian besar orang di waktu tertentu dalam periode kehidupannya. Semua orang memiliki tingkat kecemburuan.


Namun, belum adanya definisi tegas dan batasan atau konsensus jelas tentang apa yang disebut kecemburuan normal dan kecemburuan patologis membuat sindrom Othello belum begitu populer di kalangan masyarakat.

Kecemburuan umumnya ditandai sebagai reaksi emosional negatif yang muncul saat seseorang kehilangan (atau takut kehilangan) hubungan yang berharga karena ancaman saingan, baik bersifat nonfiktif maupun imajinatif.

Cemburu patologis terutama mengacu ke kondisi irasional. Kingham dan Gordon (2004) menyatakan bahwa kondisi ini merupakan sekumpulan emosi dan pikiran irasional, dengan perilaku ekstrem atau tidak dapat diterima, di mana tema dominan tentang ketidaksetiaan pasangan tetapnya, yang tidak berbasis bukti.

Mengenal Sindrom othello

"Sindrom Othello adalah kepercayaan yang salah bahwa pasangan dirinya atau kekasihnya tidak setia. Istilah sindrom Othello pertama kali dikemukakan oleh psikiatris Inggris, John Todd dan K Dewhurst, melalui publikasi di Journal of Nervous and Mental Disorder tahun 1955, berjudul "The Othello Syndrome: a study in the psychopathology of sexual jealousy," ungkap dr Dito Anurogo MSc, dosen FKIK Unismuh Makassar dikutip dari Antara.

Fenomena sindrom Othello pada demensia diinvestigasi pertama kali secara komprehensif tahun 1997. Sindrom Othello dijumpai di berbagai tipe demensia degeneratif dan non-degeneratif.

Tuduhan perselingkuhan atau ketidaksetiaan berkembang secara paralel seiring dengan deteriorasi fungsi kognitif. Di tahap awal penyakit, gejala lebih sering muncul di malam hari. Seiring berlalunya waktu, tuduhan itu menjelma konstan.

Dalam terminologi medis, sindrom Othello bersinonim dengan cemburu patologis, cemburu psikotik, sindrom cemburu erotis (erotic jealousy syndrome), conjugal paranoia, delusion of infidelity, delusional jealousy, morbid jealousy, pathological jealousy, sexual jealousy.

Dito mengungkapkan prevalensi sindrom Othello dilaporkan 1,1 persen pada pasien rawat inap psikiatri dan 7 persen pasien dengan gangguan mental neurobiologis. Onset usia rata-rata sindrom Othello adalah 68 tahun, dengan rentang usia antara 25-94 tahun.

"Sekitar 61,9 persen penderita sindrom Othello adalah kaum pria. Studi lain menemukan bahwa perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan pria pada kelompok pasien psikiatris dengan sindrom Othello," ucapnya.

Berbagai referensi menyebutkan bahwa sebagian besar kaum Adam tersangkut kasus pembunuhan karena tragedi cemburu. Hal ini bukan berarti pria lebih cemburu dibandingkan perempuan.

Kecemburuan patologis merupakan kondisi berbahaya pada pria. Kemungkinan inilah sebab mengapa para psikiater lebih memperhatikan para pria yang cemburu. Perilaku mereka lebih sering terlibat kasus pembunuhan dan bunuh diri.

Gejala sindrom othello, cemburu berlebihan

Penderita sindrom Othello menunjukkan perubahan mental yang nyata, misalnya agresi berlebihan, sikap permusuhan, dan mudah tersinggung.

Para penderita sindrom Othello dapat mengumpulkan bukti berbasis kejadian atau peristiwa secara acak, merekam percakapan, screenshoot media sosial di gawai, barang-barang atau perabotan rumah tangga yang salah tempat untuk mendukung kecurigaan mereka.

ilustrasi cemburuFoto: iStockphoto/dragana991
ilustrasi cemburu

Perspektif forensik sindrom ini juga telah dijelaskan di beragam referensi, yakni kecemburuan delusional yang merupakan faktor risiko terjadinya kekerasan, pembunuhan, dan tindakan kriminal lainnya. Sekitar 20 persen individu dengan sindrom Othello telah melakukan percobaan bunuh diri.

Terdapat perubahan personaliti dan perilaku yang signifikan pada penderita sindrom Othello. Jelaslah bahwa penderita sindrom Othello berpotensi membahayakan diri mereka sendiri.

Penyebab cemburu berlebihan

Sindrom Othello umumnya terkait erat dengan gangguan sistem persarafan, neurodegeneratif (penuaan terkait sistem saraf), serta kejiwaan, berupa gangguan psikotik fungsional.

Sindrom Othello (SO) dipertimbangkan sebagai salah satu manifestasi dari sindrom disregulasi dopamin.

Delusi sebagai gejala utama sindrom Othello terkait erat dengan gangguan fungsi (disfungsi) otak di bagian lobus frontal, terutama lobus frontal kanan.

(chs)

[Gambas:Video CNN]