Alun-alun Marrakesh yang Sekarat Disandera Corona

CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 16:27 WIB
Alub-alun Jamaa El Fna di Marrakesh, Maroko, selalu ramai turis dan warga. Kini keriuhan di Situs UNESCO itu lenyap akibat disandera pandemi virus corona. Alun-alun Jemaa el-Fna di Marrakesh, Maroko, yang kini terlihat sepi akibat pandemi virus corona. (AFP/FADEL SENNA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penjinak ular, pendongeng, dan kerumunan turis; alun-alun legendaris Jamaa El Fna di Marrakesh, Maroko, selalu ramai oleh turis dan warga lokal hingga akhirnya pandemi virus corona mengguncang industri pariwisata sedunia.

Bisnis pariwisata yang selama ini mendatangkan cuan bagi Marrakesh juga ikut kena imbas dengan pembatasan ketat dari pemerintah yang diberlakukan untuk membendung penyebaran virus corona.

Sekarang situs Warisan Dunia UNESCO abad ke-11 itu hampir kosong, dan kota ini menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.


"Sebelumnya, harus menunggu giliran untuk mendapatkan meja," kata Bachir, pelayan yang telah bekerja di alun-alun selama dua dekade.

Tetangganya, Mohamed Bassir, mengkhawatirkan masa depan.

"Ini pertama kalinya saya melihat Jamaa El Fna begitu kosong," kata penjual jus jeruk itu sambil duduk di belakang kiosnya yang didekorasi dengan buah plastik.

"Itu bikin saya sedih," kata Bassir sambil menunggu pelanggan.

Biasanya dipadati oleh orang-orang, alun-alun ini tampak menyedihkan dan kosong dari para pengamen, penjual suvenir, dan peramal yang biasanya memeriahkan suasana dengan sorak-sorainya.

Maroko mengumumkan keadaan darurat kesehatan pada pertengahan Maret dan menutup perbatasannya untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19.

Negara Afrika Utara dengan 35 juta penduduk telah mencatat lebih dari 1.500 kematian akibat virus korona dan lebih dari 86.600 kasus yang dikonfirmasi.

Runtuh

Di labirin gang yang mengarah dari Jamaa El Fna, jalan-jalan sempit yang dulunya dipenuhi kios-kios yang menjual segala sesuatu mulai dari sandal hingga rempah-rempah sebagian besar ditutup.

Hanya sedikit yang buka, tetapi pemilik toko memiliki sedikit harapan.

"Sebagian besar pedagang telah menutup toko mereka," kata Mohamed Challah, penjual jubah kaftan yang mengalir.

"Yang lain buka untuk menghabiskan waktu karena tidak ada yang bisa dilakukan di rumah," katanya, seraya menambahkan bahwa tokonya "tidak lagi menjual apa pun".

Setelah pembatasan pandemi awal dilonggarkan, pedagang dan operator wisata berharap pariwisata domestik dapat mengurangi kerugian mereka.

Tetapi kemudian pengumuman mengejutkan tentang pembatasan baru, termasuk penutupan Marrakesh dan tujuh kota lainnya, menghancurkan harapan akan kebangkitan kembali.

Tahun lalu, kota itu menarik tiga dari 13 juta turis yang datang ke negara itu.

Bagi Jalil Habti Idrissi, yang menjalankan biro perjalanan berusia 45 tahun, akan "sangat sulit untuk bangkit kembali".

"Kami telah mengalami krisis besar di masa lalu, tetapi tidak pernah sebesar ini," kata Idrissi, seraya menambahkan bisnisnya telah "runtuh".

Di media sosial, ada seruan untuk "menyelamatkan" kota, dengan banyak yang menggunakan tagar 'Marrakesh suffocates (Marrakesh mati lemas'.

Kerugian massal

Tetapi banyak juga yang khawatir dengan krisis Covid-19 itu sendiri, dengan banyaknya unggahan gambar pasien yang menderita virus tersebut di media sosial.

Mereka menunjukkan pasien tidur di lantai rumah sakit di Marrakesh.

Laboratorium pengujian kota kewalahan.

Marrakesh, bersama dengan ibu kota ekonomi Casablanca, adalah salah satu kota yang paling terpengaruh.

Seperti semua pemerintah, pihak berwenang harus mempertimbangkan tindakan penguncian terhadap kebutuhan untuk menjaga ekonomi tetap hidup.

Angka resmi memperkirakan pandemi dapat mendorong negara itu ke dalam resesi terburuk sejak 1996, dengan kontraksi lebih dari lima persen dari PDB-nya.

Dalam keputusasaan, beberapa turun ke jalan untuk memprotes, meminta bantuan pemerintah.

"Virus korona tidak akan punya waktu untuk membunuh kami, kelaparan akan membereskannya sebelumnya," bunyi satu spanduk yang dipegang oleh pengunjuk rasa di Marrakesh pada 11 September.

Operator wisata berpegang teguh pada secercah harapan, dengan pemerintah mengizinkan pelancong yang tidak memerlukan visa untuk terbang ke Maroko - setelah presentasi reservasi hotel dan tes virus corona negatif.

Tapi itu hanya "pembukaan perbatasan sebagian", kata Ibtissam Jamili, yang mengelola hotel bintang lima di Marrakesh, berduka atas apa yang disebutnya "kerugian massal".

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]