Hari Kopi Sedunia:

Pandemi, Adaptasi, dan Kopi

tim, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 19:04 WIB
Pandemi virus corona menuntut kemampuan adaptasi banyak hal, termasuk kopi. Bagaimana nasibnya kini? Pandemi virus corona menuntut kemampuan adaptasi banyak hal, termasuk kopi. Bagaimana nasibnya kini?(CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi virus corona menuntut kemampuan adaptasi banyak hal, termasuk kopi. Kopi pun mau tak mau bermanuver demi tetap bisa 'menemui' penikmatnya. Jika biasanya cangkir, mungkin kini Anda lebih akrab dengan gelas plastik dan botol dalam satuan liter.

Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Speciality & Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (BPP AEKI) mengamini pandemi memang punya dampak besar terhadap industri kopi. Jika bicara dampak, ini bisa dilihat dari dua sisi yakni, hulu dan hilir.

"Dampak di hulu, kopi arabika premium yang paling terdampak, permintaannya drop sekali hingga hampir 50 persen. Sedangkan hilir yang terpukul besar UMKM," kata Moelyono saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (30/9).


Industri hulu berkaitan langsung dengan petani dan perkebunan kopi. Hulu terbagi dua yakni, robusta dan arabika. Moelyono menjelaskan robusta terbilang mendingan atau jauh lebih baik kondisinya ketimbang arabika. Permintaan masih stabil walau sempat ada penurunan di April, Mei dan Juni.

Dia menjelaskan penurunan ini terkait pengiriman kopi ke luar negeri. Sebenarnya sudah ada komitmen kontrak jual-beli tetapi pengapalan harus tertunda sekitar 3-4 bulan dan sebagian kecil lain batal.

Di sisi lain, arabika harus 'meringis'. Kebanyakan arabika merupakan kopi-kopi 'high class quality' atau kopi speciality. Permintaan arabika drop sampai tinggal 25 persen karena restoran, hotel, kafe tutup. Terlebih untuk ekspor, negara-negara tujuan ekspor arabika kebanyakan memberlakukan lockdown, misalnya Italia. Mulai Januari hingga Juni 2020, total konsumsi arabika menurun drastis.

"Sampai saat ini Sumatera Utara dan Aceh, yang panen kopi April-Mei, ada beberapa lot yang belum terserap pasar. Panen di Jawa dan Toraja yang tahun ini, di Juli-Agustus, ada yang belum terserap juga. Yang perlu kita khawatirkan Aceh dan Sumatera Utara, nanti Oktober-November akan panen raya kopi arabika. Robusta, di segitiga kopi Indonesia (Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan), itu panen sudah selesai di September," jelasnya.

Ilustrasi Minum Kopi HitamFoto: epicantus/Pixabay
Ilustrasi Minum Kopi Hitam

Sementara itu, industri hilir bisa terbagi ke dalam industri besar, pabrikan dan industri kecil atau UMKM. Semua terdampak tetapi Moelyono melihat UMKM yang paling 'babak belur'.

Belakangan perkembangan kedai kopi, roastery kecil mulai pesat. Pandemi membuat omset menurun. Pria yang juga salah satu pemilik kedai kopi di Jakarta Selatan ini merasakan omzet kedai menurun hingga maksimal tinggal 20 persen.

"Kemudian kan PSBB dikendorkan, omset sempat naik ke level 50 persen di weekdays dan weekend 60 persen. Sekarang ada PSBB lagi, turun lagi ke 30 persen. Paling berat memang untuk industri kecil dan UMKM," imbuhnya.

Memanfaatkan momen

Selama pandemi industri hulu, lebih fokus pada peningkatan mutu kopi. Ada arah untuk meningkatkan mutu robusta sehingga nantinya ada varian robusta premium atau fine robusta. Lalu peningkatan produktivitas juga kesejahteraan petani kopi. Pandemi utamanya jadi momen berbenah sekaligus penyuluhan untuk petani.

AEKI, lanjutnya, memanfaatkan masa pandemi dengan mengadakan apresiasi petani kopi di Lampung dan Sumatera Selatan. Sebanyak 160 sampel kopi dikumpulkan, dinilai dan akan disaring untuk masuk final di November 2020 mendatang.

Sementara di industri hilir, siasat kopi dalam botol dan jualan lewat media sosial makin santer selama pandemi. Kopi yang dibilang kekinian makin dituntut untuk kekinian tak hanya soal ramuan rasa tetapi juga 'gimmick' jualan. Sebagai penikmat kopi, lanjut Moelyono, yang bisa dilakukan adalah mendorong konsumsi dalam negeri.

Petani merawat buah kopi jelang masa panen di perkebunan kopi Desa Jabal Antara, Aceh Utara, Aceh, Minggu (20/9/2020). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total nilai ekspor biji kopi dan kopi olahan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2020 turun 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu terdampak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Rahmad.Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD
Petani merawat buah kopi jelang masa panen di perkebunan kopi Desa Jabal Antara, Aceh Utara, Aceh, Minggu (20/9/2020). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total nilai ekspor biji kopi dan kopi olahan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2020 turun 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu terdampak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Rahmad.

Bayangkan, Indonesia dengan 260juta penduduk 'hanya' mengonsumsi rata-rata 5,2 juta karung kopi per tahun. Bandingkan dengan Jepang dengan 128 juta penduduk tapi konsumsi kopinya mencapai 7,5 juta karung per tahun. Moelyono menilai Indonesia minimal bisa mencapai 11 juta karung per tahun atau cukup 8 juta karung saja yang setara dengan penyerapan 70-80 persen panen kopi lokal.

Ia pun mengakui peran besar kopi kekinian untuk lebih memasyarakatkan kopi. Kopi kekinian jadi tren kemudian di satu titik Moelyono yakin black coffee akan kembali berjaya.

"Pemerintah seharusnya jelas dalam membuat aturan. Sebentar longgar, (kafe, restoran) boleh buka, sebentar enggak. Ini mempengaruhi habit dari konsumen. Lama-lama kan konsumen malas," ujarnya. 

(els/chs)

[Gambas:Video CNN]