Pandemi, 68 Persen Peserta Swaperiksa Alami Masalah Kejiwaan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 17:45 WIB
Temuan perhimpunan dokter spesialis kesehatan jiwa mendapati 68 % atau lebih 3.800 peserta swaperiksa kesehatan jiwa mengalami masalah mental selama pandemi. Ilustrasi: Temuan perhimpunan dokter spesialis kesehatan jiwa mendapati 68 % atau lebih 3.800 peserta swaperiksa kesehatan jiwa mengalami masalah mental selama pandemi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 disebut mempengaruhi kesehatan jiwa sebagian orang di Indonesia. Temuan terbaru dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mendapati mayoritas peserta swaperiksa kesehatan jiwa mengaku mengalami gangguan psikologis selama pandemi virus corona.

Kesimpulan didapat dari hasil swaperiksa atau pemeriksaan sendiri terhadap kondisi kesehatan jiwa yang dilakukan secara online melalui website PDSKJI. Peluncuran swaperiksa online ini dimulai sejak 4 April lalu.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan instrumen khusus yang sudah divalidasi secara internasional.


Sejak diluncurkan hingga pekan pertama Oktober, terdapat 5.661 orang dari 31 provinsi yang melakukan swaperiksa kondisi kesehatan jiwa.

Hasilnya, mayoritas atau 68 persen memiliki masalah psikologis. Sementara, 32 persen tidak terindikasi punya masalah psikologis.

Pada orang yang memiliki masalah psikologis, sebanyak 67,4 persen mengalami gejala cemas. Ketua Umum PSDKJI, Diah Setia Utami memaparkan, gejala kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok umur di bawah 30 tahun.

"Kelompok usia di bawah 30 tahun mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka seperti harus kuliah daring, tidang bisa kongkow, dan ini mempengaruhi kesehatan jiwa mereka," kata dokter spesialis kedokteran jiwa, Diah Setia Utami saat menjelaskan temuannya dalam webinar, Rabu (14/10).

Infografis tentang informasi seputar gejala, pencegahan dan penyebab depresi.Foto: Astari Kusumawardhani
Infografis tentang informasi seputar gejala, pencegahan dan penyebab depresi.

Sebanyak 67,3 persen juga mengalami gejala depresi dengan 48 persen di antaranya berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri sendiri.

"Jika sudah muncul pikiran untuk mati dan melukai diri sendiri atau orang lain artinya sudah masuk dalam kategori sedang hingga berat," ucap Diah.

Sebanyak 74,2 persen juga mengalami gejala trauma psikologis. Gejala ini juga paling banyak ditemukan pada kelompok usia 30 persen.

Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah waspada terus menerus dan merasa sendirian atau reisolasi.

Menurut Diah, pandemi Covid-19 memberikan banyak stresor atau tekanan bagi banyak orang. Mulai dari rasa takut tertular, gerak yang tidak bebas, dampak pada ekonomi, mempengaruhi kehidupan sosial, dan juga pendidikan.

Diah pun menyarankan agar setiap orang dapat beradaptasi dengan situasi pandemi untuk mencegah masalah kejiwaan yang semakin parah. Bagi setiap orang yang memiliki masalah jiwa juga disarankan untuk segera mencari bantuan dengan berkonsultasi ke psikolog maupun dokter spesialis kejiwaan atau dikenal dengan psikiater.

"Bisa ke psikolog atau psikiater. Tapi, jika gejala sudah mengganggu aktivitas, sudah timbul pikiran bunuh diri atau perilaku membahayakan diri sendiri dan orang lain, maka membutuhkan pengobatan psikotropika sehingga harus ditangani psikiater," Diah menyarankan.

DISCLAIMER BUNUH DIRIFoto: CNN Indonesia/Fajrian
(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]