Kisah Sehidup Semati Pasangan Pemotret Gunung Berapi

CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2020 10:10 WIB
Maurice dan Katia Krafft dikenang sebagai pasangan peneliti dan pemotret gunung berapi yang tak segan berada dekat dengan kawah dan lahar panas. Kawah Marum, di Kepulauan Ambrym, Vanuatu. (Wikimedia Commons/Geophile71)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peristiwa alam memiliki daya tariknya masing-masing. Keindahan alam memang mengandung banyak misteri bagi umat manusia, tak jarang alam mempersatukan atau merenggut manusia.

Dua momen tersebut dialami oleh pasangan asal Prancis yang sama-sama mencintai gunung berapi. Mereka bersatu karena sama-sama tertarik dengan gunung berapi, dan tewas dikarenakan hal yang sama.

Maurice Krafft mencintai gunung berapi lebih dari mencintai hidupnya sendiri. Pria yang lahir pada tahun 1946 ini terpesona dengan gunung berapi, bahkan jika ada gunung berapi meletus, ia bukannya menyelamatkan diri, justru tidak segan-segan segera menuju aliran lahar panas.


Kondisi serupa juga dialami Katia Krafft, yang sama-sama mencintai gunung berapi dengan sepenuh hidupnya. Ia lahir pada tahun 1942 dan telah tertarik dengan gunung api sejak kecil.

Keduanya bertemu di Universitas Strasbourg, saling mengenal dan belajar vulkanologi bersama-sama membuat benih cinta tumbuh di antara mereka. Keduanya yang sama-sama tertarik dengan gunung berapi dan mengumpulkan uang untuk mendokumentasikan setiap letusan dalam foto dan film.

Pada tahun 1970 mereka menikah, keduanya meneguhkan hati berkarir sebagai vulkanologis. Meski kondisi keuangan cukup sulit, keduanya berhasil menabung untuk pergi ke destinasi gunung berapi.

"Mereka [gunung api] sangat kuat, sangat cantik, jadi kamu bisa jatuh cinta padanya," kata Katia Krafft dalam sebuah wawancara, mengutip Volcanogeek.

Apa yang mereka dokumentasikan menarik minat banyak orang, tidak sedikit di antaranya adalah pejabat publik yang harus berurusan dengan ancaman gunung berapi.

Setelah melihat rekaman erupsi milik pasangan Krafft, mereka mendapat banyak kerja sama dan dihormati oleh para vulkanologis di dunia.

Finansial mulai bangkit, pasangan tersebut lantas mengunjungi berbagai gunung berapi di seluruh dunia. Mereka mendokumentasikan detik-detik erupsi dari jarak paling dekat.

Pasangan Krafft benar-benar tidak kenal takut gunung berapi, hasrat mereka sepenuhnya mengesampingkan semua rasa takut akan kematian mereka sendiri.

Mereka adalah orang pertama yang tiba di gunung berapi aktif manapun dan sering kali berada dalam jarak hanya beberapa meter dari aliran lava.

Maurice dan Katia juga berhasil merekam letusan Nevada del Ruiz pada tahn 1985. Hasil rekaman tersebut diberikan kepada Presiden Filipina saat itu, Corazon Aquino, dan meyakinkannya untuk mengevakuasi seluruh area di sekitar Pegunungan Pinatubo sebelum meletus. Dalam hal ini mereka telah menyelamatkan ratusan bahkan ribuan nyawa.

Selama 25 tahun berkarier, pasangan Krafft mengabadikan ribuan klise foto erupsi gunung berapi, 300 jam rekaman video, sejumlah buku, dan artikel sains yang diterbitkan dalam 'Bulletin of Volcanology'.

Pada suatu waktu, Maurice mengatakan bermimpi untuk menaiki perahu di bawah lahar vulkanik. Dia yakin, suatu saat mimpi itu bisa diwujudkan dengan bantuan teknologi.

"Suhu lahar hanya sekitar 1.000 derajat Celcius, ini tentang berpikir positif," kata Maurice.

Pada tahun 1991, Gunung Unzen, di Jepang, meletus. Tak pikir panjang pasangan itu segera berangkat ke Negeri Sakura.

"Saya tidak pernah takut, karena saya telah melihat begitu banyak letusan dalam 23 tahun sehingga meskipun saya mati besok saya tidak peduli," kata Maurice dalam sebuah wawancara.

Tidak lama setelah itu, Maurice, Katia, dan 41 orang lainnya naik ke kendaraan mereka dan pergi ke dataran rendah, sekitar dua mil dari puncak Unzen di mana mereka merasa dapat mengamati dan mendokumentasikan letusan dengan aman.

Namun aliran piroklastik yang tidak terduga menewaskan 43 orang tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan, jenazah Maurice dan Katia berada paling dekat dengan lahar. Keduanya meninggal dunia di usia 45 dan 44 tahun.

Meski kematian keduanya adalah kehilangan besar bagi dunia sains dan vulkanologi, pasangan suami istri itu sudah mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, yaitu meninggal dunia di gunung berapi.

(mln/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK