Ragam Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 29/10/2020 07:34 WIB
Terdapat ragam tradisi untuk merayakan peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Terdapat ragam tradisi untuk merayakan peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW. (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peringatan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW kerap dirayakan dengan sejumlah tradisi khusus di berbagai daerah di Indonesia.

Terdapat ragam tradisi mulai dari memasak bersama hingga arak-arakan.

Berikut beberapa tradisi khusus yang dilakukan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.


Tradisi Gerebeg Keres di Mojokerto

Tradisi gerebeg keres di Dusun Mengelo Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (3/12). Tradisi ini dilakukan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. (CNN Indonesia/Kurniawan Dian)Foto: CNN Indonesia/Kurniawan Dian
Tradisi gerebeg keres di Dusun Mengelo Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. (CNN Indonesia/Kurniawan Dian)

Setiap tahunnya, Maulid Nabi Muhammad SAW di Mojokerto kerap diramaikan dengan tradisi Gerebeg Keres, di mana para warga berkumpul dengan pohon keres yang digantungi berbagai barang hingga bahan makanan.

Tradisi gerebeg pohon kersen atau yang biasa disebut pohon keres oleh sebagian orang Jawa ini memilik makna dan filosofi tersendiri. Dalam satu pohon keres terdapat akar dan ranting yang banyak, hal itu menggambarkan tentang umat Nabi Muhammad yang selalu berpegang teguh pada ajaran-Nya.

"Tradisi ini sejak zaman orang-orang tua terdahulu, sekitar 1971-an. Sebelum itu, dulu pakai lidi yang ujungnya dikasih berbagai jenis makanan kemudian ditaruh di dalam masjid. Tapi sejak 1971 diganti dengan pohon keres," tutur Sonhaji, Takmir Masjid Darussalam Dusun Mengelo, 2017 silam.

Menurut Sonhaji, pohon keres memiliki akar yang kuat dan dapat tumbuh dengan cepat.

"Akar yang kuat membawa nilai semoga warga selalu bersatu dalam satu ukhuwah," ujarnya.

Tradisi Mauripee di Aceh

Masyarakat Banda Aceh memilih merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan memasak bersama. Kuah semacam kari dengan bahan baku daging sapi kerap menjadi menu utama dalam tradisi ini.

Seluruh warga biasanya menyiapkan perayaan ini secara urunan atau dalam bahasa Aceh disebut Mauripee. Uang hasil urunan itu digunakan untuk membeli berbagai bahan masakan serta kebutuhan lainnya.

Tradisi Sebar Udikan Madiun

Jamaah membaca sholawat nabi saat tradisi berebut koin di masjid Jami Jamsaren, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (8/11/2019) malam. Tradisi pembacaan sholawat nabi yang disertai dengan melempar dan berebut uang logam tersebut guna memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO/Prasetia FauzaniFoto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Jamaah membaca sholawat nabi saat tradisi berebut koin di masjid Jami Jamsaren, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (8/11/2019) malam.

Warga Madiun meramaikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara menyebarkan uang koin yang diwariskan nenek moyang atau biasa disebut Sebar Udikan.

Tradisi ini diramaikan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Untuk menghindari bentrokan, arena penyebaran uang koin untuk anak-anak dan orang dewasa biasanya dipisah.

Tradisi Grebeg Maulid di Yogyakarta

Warga berebut gunungan pada perayaan Grebeg Sekaten 2019 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/11/2019). Pihak Keraton menghadirkan dua pasang gunungan laki-laki dan perempuan untuk diperebutkan warga dalam puncak perayaan Sekaten 2019 dan Maulid Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww.Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Ilustrasi warga Yogyakarta saat berebut gunungan pada perayaan Grebeg Maulid.

Tak jauh berbeda dengan masyarakat Mojokerto, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Yogyakarta juga mengutamakan kegiatan berkumpul dan mengambil sejumlah barang atau makanan yang disediakan.

Nama tradisinya pun mirip, yakni Grebeg Maulid. Dalam acara tersebut, masyarakat berkumpul dan berusaha mengambil makanan yang ditata atau disebut gunungan.

Gunungan tersebut biasanya dikeluarkan oleh Keraton di halaman Masjid Besar Kauman.

Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi

Masyarakat Banyuwangi memiliki cara unik untuk mewujudkan semangat gotong-royong dalam peringatan Maulid Nabi.

Hal itu diwujudkan lewat tradisi Endhog-endhogan, yakni mengarak ratusan telur yang ditancapkan pada jodang pohon pisang dan ancak (wadah berisi nasi dan lauk pauk).

Setelah diarak, jodang dan ancak langsung dibawa ke masjid untuk dibacakan salawat dan doa. Acara diakhiri dengan pembagian telur, dan masyarakat makan bersama.

Tradisi tersebut juga memiliki filosofi tentang kepedulian sesama dengan berbagi.

(agn/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK