HARI PNEUMONIA DUNIA

Kenali dan Cegah Pneumonia, Penyakit Mematikan pada Balita

tim, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2020 09:51 WIB
Pneumonia merupakan penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia setelah persalinan preterm dengan prevalensi 15,5 persen. Pneumonia merupakan penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia. (iStockphoto/Amax Photo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hari Pneumonia Sedunia diperingati setiap tahun pada 12 November. Terlepas dari Covid-19 yang saat ini belum mereda, pneumonia juga tidak boleh diabaikan, terutama pada balita.

Pneumonia merupakan penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia setelah persalinan preterm dengan prevalensi 15,5 persen. Tahun lalu, terdapat 467.383 kasus Pneumonia pada balita.

Berdasarkan data WHO pada 2017, terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut atau 17 persen dari seluruh kematian balita. Itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 di dunia sebagai negara dengan kasus pneumonia tertinggi.


Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nastiti Kaswandani memaparkan bahwa pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru-paru yang membuat paru-paru dipenuhi dengan cairan dan sel radang.

"Paling banyak penyebabnya infeksi. Jaringan paru ini merupakan organ penting untuk pertukaran oksigen, kalau ada masalah itu, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius dan tidak jarang menyebabkan kematian," katanya dalam acara diskusi daring, beberapa waktu lalu.

Selain itu, Nastiti mengungkapkan bahwa pneumonia juga sering terlambat disadari karena gejala awalnya yang sulit dibedakan dengan penyakit pernapasan lain yang ringan seperti pilek dan selesma (common cold).

"Akibatnya, banyak anak-anak yang mengidap pneumonia tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya dan berdampak fatal pada kesehatan mereka," papar Nastiti.

Untuk itu, ia kemudian membagikan tanda-tanda anak mengidap pneumonia yang perlu dicermati.

1. Batuk dan Demam yang Berkelanjutan

Gejala awal pneumonia adalah gejala yang menyerupai selesma (common cold) seperti batuk, pilek dan demam yang disertai lemas dan lesu yang berkepanjangan.

Gejala pneumonia biasanya bertahan relatif lebih lama daripada gejala pilek dan batuk karena selesma.

2. Kesulitan Bernapas

Anak-anak yang mengidap pneumonia sering mengalami kesulitan bernapas dengan ditandai:

- Frekuensi napas lebih cepat

- Napas cuping hidung

- Tarikan dinding dada dan perut

- Bibir dan kuku yang membiru akibat kekurangan oksigen dalam darah.

Kesulitan bernapas pada bayi lebih mudah diketahui ketika beraktivitas atau makan. Bayi yang mengalami kesulitan bernafas akan memprioritaskan mekanisme tubuhnya untuk bernapas sehingga ia akan makan lebih sedikit, gelisah, rewel, atau terlihat tidak nyaman.

Dokter Nastiti menyarankan untuk segera menemui dokter jika ragu atas gejala-gejala yang dialami anak.

"Kalau demam tidak turun selama dua tiga hari dan diikuti dengan nafas yang lebih cepat atau sesak nafas, maka segera bawa ke rumah sakit," kata Nastiti.

Upaya pencegahan dan perlindungan oleh orangtua, masyarakat dan semua pihak perlu ditingkatkan agar anak Indonesia bukan saja terhindar dari wabah pandemi namun juga terhindar dari penyakit mematikan lain yang masih mengancam mereka seperti Pneumonia.

Atas kondisi ini, CEO Save the Children Indonesia, Selina Sulung pun mengampanyekan gerakan STOP Pneumonia yang sudah digalakkan sejak 2018 untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. Kampanye itu sendiri berisi empat anjuran, yakni:

- ASI eksklusif enam bulan, menyusui ditambah MPASI sampai 2 tahun.

- Tuntaskan imunisasi untuk anak.

- Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit.

- Pastikan kecukupan gizi anak dan hidup bersih sehat.

(agn/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK