5 Mitos Seputar Disinfektan yang Salah Kaprah

Tim, CNN Indonesia | Senin, 30/11/2020 11:15 WIB
Di tengah pandemi, banyak informasi tersebar mengenai disinfektan. Namun, sering kali informasi itu justru cuma mitos yang menyesatkan. Ilustrasi. Di tengah pandemi, banyak informasi tersebar mengenai disinfektan. (iStockphoto/Maridav)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyaknya informasi yang berseliweran mengenai berbagai jenis pembersih terbaik di tengah pandemi ini terasa memusingkan. Sering kali informasi itu justru menyesatkan. Kenali beberapa mitos seputar disinfektan yang kerap salah kaprah.

Faktanya, rumah dan berbagai permukaan benda yang ada di dalamnya tak pernah benar-benar bersih seperti yang Anda kira.

Salah satu strategi terbaik untuk membersihkannya adalah dengan disinfektan. Namun, Anda juga perlu tahu cara menggunakannya dengan tepat.


Untuk mengatasi kesalahpahaman yang paling umum mengenai kebersihan ini, kenali beberapa mitos soal disinfektan berikut, mengutip Good Housekeeping.

Mitos #1: Sanitasi sama dengan disinfektan

Meski sekilas hampir sama, tapi pembersihan, sanitasi, dan disinfektan adalah tiga hal yang berbeda. Center for Disease and Prevention Control (CDC) AS menyebut, pembersihan hanya menghilangkan kotoran dan debu yang terlihat dari permukaan dengan mencuci serta membilasnya dengan sabun dan air. Namun, cara ini tidak secara otomatis mendisinfeksi.

Sanitasi merupakan tindakan pengurangan risiko penularan penyakit dengan mengurangi beberapa bakteri yang teridentifikasi pada produk. Sementara disinfeksi dapat membunuh sebagian besar bakteri dan virus yang teridentifikasi.

Mitos #2: Cuka dapat membunuh kuman

Banyak orang menganggap cuka sebagai salah satu pembersih yang efektif. Namun, CDC menyebut bahwa cuka tak terdaftar sebagai produk disinfektan.

Selain itu, efektivitas cuka dalam mengusir virus dan bakteri juga belum terbukti secara ilmiah. Untuk memastikan proses disinfeksi dengan benar, pilih-lah produk-produk disinfektan yang terdaftar.

Mitos #3: Larutan pemutih dan air dapat digunakan dalam waktu lama

Sama halnya dengan cuka, larutan pemutih dan air juga kerap disebut-sebut sebagai salah satu pembersih yang efektif. Banyak orang bahkan menyimpan larutan itu dalam waktu lama agar dapat digunakan untuk mendisinfeksi permukaan.

Benar bahwa larutan pemutih memiliki kemampuan mendisinfeksi. Hanya saja, setelah dicampur dengan air, pemutih akan kehilangan efektivitasnya setelah sekitar satu hari pencampuran.

Mitos #4: Produk disinfektan bekerja dengan instan

Disinfektan tetap membutuhkan waktu, tak peduli produk apa yang Anda gunakan. Biasanya, beberapa produk disinfektan mencantumkan petunjuk penggunaan untuk berbagai jenis permukaan.

Anda perlu tahu mengenai berapa lama permukaan keras dan tidak berpori harus tetap didiamkan dalam keadaan basah agar memberi waktu bagi disinfektan untuk membunuh kuman.

Mitos #5: Permukaan lunak seperti bantal dapat didisinfeksi

Disinfektan hanya bekerja pada permukaan yang keras dan tidak berpori. Jika disinfektan digunakan dalam permukaan lunak, sifatnya hanya membersihkan, bukan mendisinfeksi.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK