Belajar dari Keberhasilan Vaksin Usir Polio

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Rabu, 18/11/2020 15:15 WIB
Vaksin pernah jadi senjata utama bagi Indonesia dalam upaya mengusir polio. Untuk menghadapi Covid-19, masyarakat diminta belajar dari kesuksesan vaksin polio. Vaksin pernah jadi senjata utama bagi Indonesia dalam upaya mengusir polio. Untuk menghadapi Covid-19, masyarakat diminta belajar dari kesuksesan vaksin polio. (Foto: AP/Tatan Syuflana)
Jakarta, CNN Indonesia --

Imunisasi dengan vaksin terbukti berhasil memberantas berbagai penyakit di dunia, termasuk Indonesia. Program seperti ini dapat dilihat sebagai investasi masa depan bagi anak Indonesia.

Penasihat Field Epidemiology Training Program (FETP), I Nyoman Kandun, mengungkap pemberian vaksin oral polio pada rentang 1995-1997 berhasil memberantas penyakit polio. Pemberian vaksin kala itu dilakukan kepada seluruh masyarakat melalui program Pekan Imunisasi Nasional (PIN).

"Vaksin ini diberikan pada siapa saja, tanpa memandang seseorang itu sudah diberikan vaksin polio secara rutin atau belum. Bagi yang telah mendapat imunisasi polio rutin, maka pemberian kembali vaksin polio akan memperkebal daya tahan tubuhnya. Mereka yang belum mendapat vaksin polio, maka bisa dikatakan mendapatkan imunisasi dasar", ujar Nyoman dalam acara 'Dialog Produktif bertema Belajar dari Sukses PIN Polio' yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) pada Selasa (17/11).


Imunisasi merupakan bagian dari penanganan penyakit menular, yaitu mengontrol, mengeliminasi, dan mengeradikasi. Mengontrol adalah menekan insiden penyakit menular. Sedangkan mengeliminasi adalah menekan hingga angka yang sangat rendah, bisa sampai nol, tapi virusnya tidak hilang.

"Mengeradikasi artinya, di samping kita bisa menekan penularan sampai nol, virusnya juga bisa hilang. Seperti misalnya cacar yang tidak ditemukan lagi adanya virus cacar sehingga kita bisa dikatakan mengeradikasi cacar", terang Nyoman.

Program imunisasi rutin polio sempat menurun akibat terdampak krisis 1998. Tetapi, pada 2002 pemerintah melakukan PIN kembali. Pada 2005 virus polio liar (wild polio virus) teridentifikasi di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat. Penanganan virus polio di Cidahu dilakukan dalam tindakan cepat yang dikenal sebagai sub PIN, supaya virus polio liar yang masuk Cidahu tidak menyebar.

Tapi, virus tersebut menyebar ke Sumatera dan wilayah lainnya. Pemerintah kemudian menetapkan polio sebagai KLB dan kembali menjalankan PIN. Hasilnya, polio kembali sukses diberantas pada 2006. Kemudian pada 2014, label bebas polio diberikan Organisasi Kesehatan Dunia WHO kepada Indonesia.

"Sampai saat ini tidak ditemukan lagi penderita polio yang disebabkan virus polio liar. Jadi apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus? Cakupan imunisasi harus setinggi-tingginya, bila perlu 100 persen", lanjut Nyoman.

Konsultan Imunisasi dan Pengawasan Lembaga Pencegahan dan Pengendalian penyakit CDC Atlanta untuk perwakilan Indonesia, Jane Soepardi menyatakan Imunisasi melalui vaksin, terbukti sebagai pendekatan kesehatan masyarakat yang paling efektif. Program imunisasi pada manusia tidak bisa berhasil tanpa vaksin.

Kunci sukses untuk membebaskan Indonesia dari polio menurut dr. Jane adalah dukungan dari jajaran pemerintah yang memiliki keinginan kuat untuk menghapus virus ini dari Indonesia. Selain itu, dukungan sumber daya tenaga kesehatan dan logistik yang cukup juga membantu Indonesia terbebas dari polio.

Komunikasi dengan masyarakat melalui berbagai media terlaksana dengan baik sehingga imunisasi dengan vaksin yang sesuai mampu diterima dan terbukti sebagai pendekatan kesehatan yang efektif.

Jane berpesan agar masyarakat meyakini vaksin sebagai jalan keluar pemberantasan penyakit. Membuat vaksin jauh lebih sulit dan syaratnya lebih berat daripada membuat obat. Karena vaksin diciptakan untuk orang yang masih sehat, sedangkan obat untuk orang yang sudah sakit.

"Oleh karena itu, syarat utama bagi vaksin adalah keamanannya. Target pemberian vaksin adalah, agar orang sehat tetap sehat dan menjadi kebal terhadap vaksin tertentu," ucapnya.

Sebelum vaksin ditemukan ataupun diedarkan, pandemi ataupun wabah seperti Covid-19 dapat disikapi dengan pelaksanaan protokol kesehatan. Protokol ini seperti yang tengah dikampanyekan oleh #SatgasCovid19, yakni #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan.

Nyoman dan Jane sepakat imunisasi merupakan investasi masa depan bagi anak Indonesia. Pembekalan imunisasi melindungi mereka dari penyakit menular, anak Indonesia pun bisa tumbuh sehat secara fisik dan mental.

(ayo/fjr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK