Waspada 'Toxic Positivity' dalam Sikapi Pandemi Covid-19

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 16:07 WIB
Bersikap seolah semua baik-baik saja atau biasa disebut 'toxic positivity' harus diwaspadai dalam menjalani hari-hari di tengah pandemi Covid-19. Bersikap seolah semua baik-baik saja atau biasa disebut 'toxic positivity' harus diwaspadai dalam menjalani hari-hari di tengah pandemi Covid-19. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bersikap merasa seolah baik-baik saja di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 bisa jadi merupakan gangguan psikologis. Sikap ini kerap disebut sebagai toxic positivity.

Psikolog Klinis dan Hipnoterapis Liza Marielly Djaprie mengungkap toxic positivity ini adalah sikap positif yang berlebihan. Seseorang mengatakan dirinya baik-baik saja tetapi tidak melakukan aksi apapun atas masalah yang menimpa dirinya.

"Ketika kami melakukan psychological first aid, pendampingan psikososial kepada pasien maupun penyintas bencana, ada kutipan yang bagus banget: reaksi dalam kondisi tidak normal justru menjadi normal," ucap Liza dalam talk show 'Update RS Darurat Covid-19: Bahagia Kunci Kesembuhan' di Media Center #SatgasCovid19 pada Senin lalu (9/11).


Ia menyebutkan sikap seolah baik-baik saja itu tidak lumrah, karena normalnya kondisi krisis termasuk dampak pandemi Covid-19 menimbulkan rasa khawatir bahkan stres. Rasa itu harus diakui, diterima, lalu diseimbangkan dengan analisa.

Analisa inilah yang kemudian membuat seseorang memiliki perencanaan aksi atas hidupnya. Aksi ini bisa saja rencana teknis soal memulai olahraga, menghubungi keluarga, atau melakukan pekerjaan tertentu.

Liza mengingatkan aktivitas yang dilakukan pasca 'olah rasa' ini dapat memicu hormon-hormon kebahagiaan. Alhasil stres dapat dihindari.

"Aktivitas itu bisa seperti olahraga tiap hari, mungkin aku happy. Atau  mau video call terus menerus dengan keluarga untuk jalin kerekatan. Akhirnya hormon-hormon bahagia akan tumbuh lagi," ucap dia.

Toxic positivity ini justru sebaliknya, ketika seseorang mengaku biasa saja dan merasa kuat maka orang itu tidak melakukan 'olah rasa'. Kemandekan 'olah rasa' ini justru membuat seseorang tidak produktif dan mereka tidak memiliki rencana apapun. Justru masalah psikologis akan menumpuk dan menjadi kian serius.

"Nggak bisa kita mengatakan, aku orangnya positif tetapi nggak berbuat apa-apa. Ada isu yang nggak selesai akhirnya menjadi tumpukan stress berikutnya," terang Liza.

(ayo/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK