4 Hormon Bahagia, Obat Stres di Tengah Pandemi

ayo & Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Senin, 16/11/2020 17:02 WIB
Psikolog Klinis dan Hipnoterapis Liza Djaprie menyebut ada 4 hormon yang bisa membikin happy. Hormon bahagia itu diproduksi otak manusia secara alami. Psikolog Klinis dan Hipnoterapis Liza Djaprie menyebut ada 4 hormon yang bisa membikin happy. Hormon bahagia itu diproduksi otak manusia secara alami. (Foto: Istock/xavierarnau)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berbagai pembatasan aktivitas sebagai langkah antisipasi pandemi Covid-19 rentan menyebabkan stres. Kabar baiknya, ada cara sederhana untuk meningkatkan rasa bahagia dan mengubah mood atau suasana hati menjadi lebih baik.

Psikolog Klinis dan Hipnoterapis Liza Marielly Djaprie menjelaskan terdapat empat hormon yang bisa membikin happy. Empat hormon bahagia ini diproduksi otak manusia secara alami.

Ia menganalogikan, otak memiliki berbagai tombol dan kemudian kita memilih memencet tombol 'happy'.


"Kalau kita pencet maka dia akan mengalirkan hormon bahagia tersebut," ucapnya dalam ucap dia dalam Talkshow 'Update RS Darurat Covid-19: Bahagia Kunci Kesembuhan' di Media Center #SatgasCovid19 yang diunggah akun YouTube BNPB, Senin (9/11).

Ia menyebutkan setidaknya ada empat hormon yang memicu rasa bahagia, yakni endorfin, dopamin, oksitosin, dan serotonin. Namun munculnya hormon ini harus dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain, walaupun dalam lingkup yang terbatas.

Psikolog California State University East Bay, Loretta G. Breuning, menuliskan dalam Psychological Today, keempat hormon ini dikeluarkan otak karena terpicu beberapa sebab. Berikut penjelasannya:

  1. Dopamin, hormon ini dipicu ketika anda mendapat hadiah baru. Hormon ini akan memicu seseorang untuk meraih tujuan.
  2. Oksitosin, hormon ini dipicu karena rasa percaya terhadap orang-orang sekitar. Rasa percaya ini berdasar ikatan seperti ibu, anak, atau pasangan seks.
  3. Serotonin, hormon ini dipicu ketika seseorang merasa penting dan berguna bagi orang lain.
  4. Endorfin, hormon ini dipicu oleh rasa sakit fisik sebagai naluri bertahan hidup.


Pada masa pandemi seperti ini, kata Liza, kita harus memicu tumbuhnya hormon ini agar bahagia. Semua pihak yang terkena dampak Covid-19, karena tertular ataupun dampak ekonomi, dapat melakukan kegiatan agar tak semakin terpuruk.

Menurut dia aktivitas ini penting untuk kebutuhan psikologis maupun fisik. Karena rasa bahagia itu bisa memicu imunitas tubuh.

"Untuk pasien Covid-19, bisa mereka bilang mau video call terus-terusan. Ini momentum untuk menjalin kerekatan, akhirnya hormon-hormon bahagia tumbuh lagi," jelas dia.

Atau bagi orang yang merasa ruang gerak beraktivitas terbatas bisa memulai dengan menyediakan waktu untuk olahraga setiap hari. Olahraga ini membantu menguatkan fisik juga melepaskan stres.

(fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK