Geliat Wisata Kebun Anggur di Yogyakarta

CNN Indonesia | Selasa, 15/12/2020 13:36 WIB
Kebun anggur mulai banyak bermunculan di Yogyakarta. Wisata kuliner sekaligus edukasi bisa dilakukan selama kunjungan ke sana. Ilustrasi kebun anggur. (jill111/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sarman El Hakim, seorang warga Sawangan, Bogor, tampak terkesima dan tidak henti-hentinya berdecak kagum saat menyaksikan buah anggur segar yang bergelantungan di perkebunan Jogja Anggur di kawasan Bantul, Yogyakarta, pada minggu lalu.

Bersama istri dan dua anaknya, Sarman sengaja naik mobil pribadi dari kediamannya untuk berkunjung ke perkebunan anggur tersebut, hanya untuk melepaskan rasa penasaran perihal buah yang berasal dari Armenia itu.

"Selama ini saya mendengar kalau anggur itu hanya tumbuh di negara dengan iklim empat musim, terutama di Eropa. Ternyata anggur juga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah tropis, seperti Indonesia," kata Sarman seperti yang dikutip dari ANTARA pada Selasa (15/12).


Kahar dan Saidah, dua anak Sarman, yang masing-masing duduk di bangku kelas 2 SMA dan kelas 2 SMP, dengan penuh antusias segera menjelajahi kebun anggur seluas 800 meter persegi dengan sekitar 500 batang anggur berbagai jenis itu.

Mereka kemudian mengeluarkan gawai masing-masing, mencari posisi strategis untuk berswafoto dengan latar belakang buah anggur yang sebagian besar adalah varietas impor dengan buah yang rata-rata berwarna merah dan ukuran lebih besar dibanding jenis lokal.

Tidak sulit untuk menemukan kebun anggur milik dua bersaudara Arief Wahyudianto dan Agustinus Danang itu karena berlokasi persis di pinggir Jalan Bakulan Imogiri , sekitar enam kilometer dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pengunjung akan disambut dengan suasana akrab pegawai Jogja Anggur di depan pintu gerbang yang dilengkapi bangunan berbentuk joglo.

Karena masih kondisi pandemi COVID-19, pengunjung pun diingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, saat memasuki kebun.

Untuk memasuki kebun wisata anggur tersebut, pengunjung dewasa dipungut biaya Rp15 ribu pada hari biasa dan Rp10 ribu untuk anak-anak, sementara pada akhir pekan atau hari libur, masing-masing Rp20 ribu dan Rp15 ribu.

"Tapi untuk saat ini pengunjung belum bisa memetik buah karena belum matang. Diperkirakan akan matang sekitar akhir Desember ini," kata Arief yang mengaku baru tiga bulan ini membuka kebun tersebut secara komersial.

Selain menyediakan buah anggur segar untuk nantinya dipetik langsung dengan perkiraan harga Rp100 ribu per kg, Arief juga menyediakan puluhan bibit yang semuanya varietas impor dengan harga mulai Rp150 ribu.

Bahkan untuk bibit di dalam planterbag kapasitas 75 liter yang sudah berbuah, harga yang dipatok adalah Rp3,5 juta.

"Dari sekitar 50 jenis bibit yang kami jual, kami memprioritaskan empat varietas saja untuk pengunjung, yaitu laura, gos-V, helioz dan everest. Mengapa? Karena jenis itulah yang paling manis dan berbuah lebih besar," kata Arief.

[Gambas:Instagram]



Kampung Anggur

Berjarak sekitar lima kilometer dari Joga Anggur, ada Kampung Anggur, berupa pemukiman warga yang halaman rumahnya ditanami buah anggur jenis ninel yang disebut berasal dari Ukraina.

Meski tidak memiliki ratusan pohon anggur dan jauh dari kesan perkebunan komersial, setiap rumah yang memiliki kebun anggur, juga menyediakan kafe sederhana dengan menu berbagai minuman tradisional.

Setiap kafe didesain unik, salah satunya seperti Satriya Grape milik Rio Aditya.

Halaman Satriya Grape dengan luas sekitar 150 meter persegi tampak rindang dengan buah anggur yang bergelantung di penopang baja ringan dan menutupi hampir seluruh halaman.

Di bawah kanopi pohon anggur yang menjalar ke berbagai arah, terdapat kursi dan meja kayu jati yang menyediakan minuman segar dan makanan ringan.

Di Kampung Anggur, pengunjung bebas untuk mengunjungi rumah warga yang menyediakan buah dan bibit anggur, tanpa dipungut bayaran, tidak ubahnya seperti pengunjung di pusat perbelanjaan.

Belum puas dengan satu kebun anggur, pengunjung bisa berpindah ke kebun anggur warga lain di sebelahnya.

Belum Populer

Perkebunan anggur atau wisata petik anggur memang belum begitu populer di Tanah Air.

Alasannya karena masih adanya anggapan dalam masyarakat umum bahwa anggur adalah tananam yang hanya cocok di negara dengan empat musim, terutama Eropa.

Kebun anggur yang akhir-akhir ini viral di media sosial pada umumnya adalah kegiatan perorangan atau kelompok yang lebih banyak untuk sekadar atraksi wisata dan edukasi, sehingga belum ada pihak yang mengembangkan dalam skala industri, seperti halnya jenis buah-buahan lainnya.

Seperti dikutip dari laman Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, sentra produksi anggur di Indonesia terdapat di Kediri, Probolinggo, Pasuruan, Situbondo (Jawa Timur), Singaraja (Bali) dan Kupang (NTT).

Sebagai negara tropis, Indonesia sebenarnya juga punya beberapa keunggulan, di samping beberapa kelemahannya.

Produktivitas anggur di kawasan tropis, lebih rendah dibanding dengan kawasan subtropis.

Kalau di kawasan subtropis hasil optimal anggur bisa mencapai 20 ton per hektare per tahun, sementara di Indonesia hanya separuhnya.

Namun demikian, panen anggur di kawasan subtropis hanya bisa sekali dalam setahun, sementara di Indonesia bisa hampir tiga kali karena waktu panen bisa diatur sepanjang tahun.

Panas matahari ini sangat penting dalam proses fotosintesis tanaman anggur. Pada saat musim panas, matahari di lembah-lembah penghasil anggur di Prancis bisa bersinar selama 17 jam per hari.

Ditambah dengan faktor suhu dan kelembapan udara, angin dan struktur tanah, itulah yang membuat kawasan tersebut menjadi penghasil anggur terbaik di dunia.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa produksi buah anggur pada 2018 hanya mencapai 10.867 ton dan berada di posisi ke-22 dari total produksi buah-buahan secara nasional, terpaut jauh dari buah pisang yang menempati peringkat teratas dengan 7,2 juta ton, atau mangga di peringkat kedua dengan 2,6 juta ton.

(ANTARA/ard)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK