Studi: Oksimeter Tak Bekerja pada Orang dengan Kulit Gelap

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 03/03/2021 13:41 WIB
Oksimeter ditemukan menunjukkan hasil yang tidak atau kurang akurat pada orang berkulit gelap. Ilustrasi. Oksimeter ditemukan menunjukkan hasil yang tidak atau kurang akurat pada orang berkulit gelap. (AFP/ARUN SANKAR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Oksimeter merupakan salah satu alat penting bagi dokter dan pasien Covid-19 untuk mengukur saturasi oksigen di dalam darah. Namun, sejumlah studi menunjukkan oksimeter bisa tidak berfungsi dengan baik untuk orang yang berkulit gelap.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan, oksimeter dapat menunjukkan hasil yang tidak akurat pada orang yang berkulit gelap. Panduan klinis Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS juga menunjukkan pigmentasi kulit dapat mempengaruhi oksimeter.

Studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine terhadap 10 ribu pasien menunjukkan penggunaan oksimeter pada orang berkulit terang atau putih dapat memberikan kesalahan hingga 3,6 persen. Sedangkan pada orang berkulit gelap atau hitam, kesalahan dapat mencapai 11,7 persen.


Penelitian ini lalu menyimpulkan, 1 dari 10 pasien berkulit gelap mungkin mendapatkan hasil yang tidak akurat dalam penggunaan oksimeter.

Dikutip dari CNN, temuan lain dari penelitian ini adalah penggunaan oksimeter pada orang berkulit gelap juga tiga kali lebih mungkin tidak mencatat kadar oksigen yang sangat rendah atau dikenal dengan hipoksemia.

Menurut peneliti, hal ini terjadi karena oksimeter bekerja dengan mengirimkan sensor cahaya. Pada orang berkulit gelap, penyerapan cahaya cenderung tidak maksimal. Selain orang berkulit gelap, penggunaan cat kuku atau kuteks yang gelap juga bisa memberikan efek serupa

Para ahli menyarankan agar dokter dan pasien mempertimbangkan temuan ini sehingga dapat membuat diagnosis yang lebih akurat.

(ptj/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK