Ilustrasi. Adjie Santosoputro menjelaskan bahwa pertemuan secara virtual tidak bisa benar-benar memulihkan rasa kesepian secara utuh. (iStockphoto/FilippoBacci)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesepian terkadang memang tidak membuat nyaman. Hal itu yang lantas mendorong sebagian orang mencari pelarian dari rasa kesepian.
Salah satunya Ismi, seorang pegawai swasta ini memilih langsung menghubungi kawannya - meski sekadar lewat pesan teks - saat merasa kesepian. Buatnya, mengobrol via teks lumayan dapat membantu meredakan kesepian. '
Hanya saja, ia tak memungkiri bahwa tetap tak ada yang menggantikan obrolan tatap muka seperti dulu sebelum pandemi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ketemu langsung, pembahasannya bisa lebih banyak, terus tahu reaksi dari lawan bicara," katanya saat bercerita kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Kamis (25/2).
Perasaan kesepian seperti yang Ismi juga bisa dialami oleh siapa pun. Bahkan, praktisi mindfulness, Adjie Santosoputro, juga mengatakan ia mengalami pengalaman serupa.
Adjie menyadari bahwa pertemuan secara virtual tidak bisa benar-benar memulihkan rasa kesepian secara utuh.
Dia menjelaskan itu terjadi karena manusia adalah social animal sehingga ada kebutuhan untuk bertemu secara fisik, bukan hanya lewat layar. Padahal jika dipikir-pikir, pertemuan secara virtual secara teknis lebih mudah.
Sebut saja penggunaan aplikasi Zoom, Clubhouse, Google Meet, atau bertatap muka semudah video call via WhatsApp dan Instagram. Namun menurutnya, kemudahan ini rupanya membawa efek bumerang.
"Manusia memang mahkluk sosial yang perlu interaksi. Kekurangan interaksi bisa mengerikan, sebaliknya kelebihan interaksi bikin kita kelelahan. Itu yang menjadi PR saya terutama, mungkin teman-teman lain juga merasakan," kata Adjie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Online, serba digital membuat kita mudah sekali terpeleset berlebihan interaksi lalu jadi fatigue, capek, lelah dan mudah merasa kesepian."
Hyperconnected atau kelebihan interaksi kemudian memunculkan rasa lelah (fatigue) dan berujung pada kesepian. Namun, lanjut Adjie, jika ingin dibedah kesepian sebenarnya memiliki dua tahap yakni, kesepian akibat hubungan jauh dengan orang sekitar lalu kedua, kesepian berkat persoalan terputusnya hubungan kita dengan diri sendiri.
Hubungan yang jauh dengan orang sekitar
Memiliki banyak kawan, pengikut di media sosial rupanya bukan jaminan bebas dari rasa kesepian. Adjie berkata perihal kesepian itu bukan kuantitas melainkan seberapa berkualitas hubungan dengan orang sekitar.
Menurut dia, akan lebih baik memiliki sedikit hubungan tapi kualitasnya baik daripada hubungan yang sangat banyak tapi kualitasnya kurang baik atau kurang rekat.
Bagaimana cara mengetahui jika memiliki hubungan berkualitas dengan orang lain?
Adjie mengatakan kualitas hubungan yang baik dapat ditunjukkan dari bagaimana cara orang mencoba menghubungi selagi ada musibah.
"Saat saya mengalami musibah banjir, kehilangan keluarga, ada yang meninggal, lalu teman menghubungi saya, telepon, WhatsApp saya, kirim personal message, itu salah satu tanda, 'Oh dia menganggap hubungan ini hubungan yang rekat dengan diri saya,'" ungkap Adjie.
"Kalau responsnya hanya di media sosial, ada unsur ingin menunjukkan kalau orang tersebut punya hubungan dengan saya. Beda dengan kalau dia meninggalkan itu semua, lalu reach out. Itu merupakan kualitas yang baik," jelasnya lebih lanjut.
"Begitu pula sebaliknya. Saya juga enggak sebatas komentar di media sosial, saya berusaha menjangkau, mengecek secara langsung."
Meski memiliki banyak teman, kualitas hubungan bagus, tapi jika hubungan dengan diri sendiri tidak seimbang maka ada kemungkinan kesepian.
Artinya, perlu ada upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan diri sendiri. Bagaimana caranya?
Simak halaman selanjutnya untuk mengetahui cara membangun koneksi dengan diri.
Meski memiliki banyak teman, kualitas hubungan bagus, jika hubungan dengan diri sendiri kualitasnya kurang bagus maka ada kemungkinan kesepian.
Artinya, perlu ada upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan diri sendiri. Bagaimana caranya?
Adjie merangkum terdapat empat langkah untuk membangun hubungan dengan diri sendiri.
1. Meluangkan waktu untuk jeda
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Bukan meditasi, bukan melamun tapi sesederhana tidak melakukan apapun, duduk diam, mengamati sekitar.
Duduk diam dan tidak berbuat apapun memang aktivitas yang kerap dihindari manusia modern. Diam bakal mendatangkan bayang-bayang kenangan sekaligus masa depan yang tak jarang menakutkan.
"Ketika kita enggak ngapa-ngapain, menjalin hubungan dengan bertemu diri sendiri, memori masa lalu akan muncul, kita sadari. Memori yang selama ini berusaha kita lupakan, termasuk imajinasi perihal masa depan yang menakutkan, kita akan notice," katanya.
2. Menyadari fisik
Latihan kedua adalah berlatih menyadari fisik atau tubuh. Anda bisa menyadari perut yang kembang kempis atau bahu yang naik turun saat bernapas.
Kemudian berkaitan dengan panca indera, Anda mulai mendengarkan dengan seksama musik yang diputar lewat ponsel. Saat mandi, mulai menyadari air yang dingin saat bersentuhan dengan kulit juga aroma sabun mandi.
Di sini Anda menyadari napas yang keluar masuk melalui hidung.
Menurut Adjie, latihan ini lebih menantang daripada latihan menyadari fisik sebab napas jauh lebih halus dan nyaris tidak terasa menyentuh hidung bahkan saat lewat tenggorokan.
Saat pikiran 'bertualang' ke mana-mana, napas akan membawa Anda ke momen kini dan di sini.
4. Menyadari pikiran dan perasaan
Adjie menyebut duduk diam ini jadi momen di mana kita menjalin hubungan, berelasi dengan diri kita sendiri. Ada rasa nyaman dengan kenangan maupun imajinasi yang bermunculan.
Nyaman, lanjutnya, berarti tidak ada upaya untuk melawan, mengubah atau melarikan diri darinya. Semua cukup disadari saja.
"Sayangnya manusia modern itu kerap tergesa-gesa melarikan diri, mencari distraksi. Modern loneliness, kita asing dengan diri sendiri," katanya.
Upayakan untuk tidak larut dalam pikiran dan perasaan sehingga berujung pada lamunan. Adjie mengatakan di momen ini Anda menjadi pengamat atas pikiran juga perasaan yang muncul. Dia mengumpamakannya seperti aktivitas menonton film.
Saat menonton film, penonton tidak terlibat dengan apa yang dialami para pemain di dalamnya.
"Ketika kita mengamati perasaan kita, oh aku sedang mikirin itu, muncul kenangan, kekhawatiran, kecemasan, amati saja, tanpa mengubah, melarikan diri," imbuhnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesepian terkadang memang tidak membuat nyaman. Hal itu yang lantas mendorong sebagian orang mencari pelarian dari rasa kesepian.
Salah satunya Ismi, seorang pegawai swasta ini memilih langsung menghubungi kawannya - meski sekadar lewat pesan teks - saat merasa kesepian. Buatnya, mengobrol via teks lumayan dapat membantu meredakan kesepian. '
Hanya saja, ia tak memungkiri bahwa tetap tak ada yang menggantikan obrolan tatap muka seperti dulu sebelum pandemi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ketemu langsung, pembahasannya bisa lebih banyak, terus tahu reaksi dari lawan bicara," katanya saat bercerita kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Kamis (25/2).
Perasaan kesepian seperti yang Ismi juga bisa dialami oleh siapa pun. Bahkan, praktisi mindfulness, Adjie Santosoputro, juga mengatakan ia mengalami pengalaman serupa.
Adjie menyadari bahwa pertemuan secara virtual tidak bisa benar-benar memulihkan rasa kesepian secara utuh.
Dia menjelaskan itu terjadi karena manusia adalah social animal sehingga ada kebutuhan untuk bertemu secara fisik, bukan hanya lewat layar. Padahal jika dipikir-pikir, pertemuan secara virtual secara teknis lebih mudah.
Sebut saja penggunaan aplikasi Zoom, Clubhouse, Google Meet, atau bertatap muka semudah video call via WhatsApp dan Instagram. Namun menurutnya, kemudahan ini rupanya membawa efek bumerang.
"Manusia memang mahkluk sosial yang perlu interaksi. Kekurangan interaksi bisa mengerikan, sebaliknya kelebihan interaksi bikin kita kelelahan. Itu yang menjadi PR saya terutama, mungkin teman-teman lain juga merasakan," kata Adjie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Online, serba digital membuat kita mudah sekali terpeleset berlebihan interaksi lalu jadi fatigue, capek, lelah dan mudah merasa kesepian."
Hyperconnected atau kelebihan interaksi kemudian memunculkan rasa lelah (fatigue) dan berujung pada kesepian. Namun, lanjut Adjie, jika ingin dibedah kesepian sebenarnya memiliki dua tahap yakni, kesepian akibat hubungan jauh dengan orang sekitar lalu kedua, kesepian berkat persoalan terputusnya hubungan kita dengan diri sendiri.
Hubungan yang jauh dengan orang sekitar
Memiliki banyak kawan, pengikut di media sosial rupanya bukan jaminan bebas dari rasa kesepian. Adjie berkata perihal kesepian itu bukan kuantitas melainkan seberapa berkualitas hubungan dengan orang sekitar.
Menurut dia, akan lebih baik memiliki sedikit hubungan tapi kualitasnya baik daripada hubungan yang sangat banyak tapi kualitasnya kurang baik atau kurang rekat.
Bagaimana cara mengetahui jika memiliki hubungan berkualitas dengan orang lain?
Adjie mengatakan kualitas hubungan yang baik dapat ditunjukkan dari bagaimana cara orang mencoba menghubungi selagi ada musibah.
"Saat saya mengalami musibah banjir, kehilangan keluarga, ada yang meninggal, lalu teman menghubungi saya, telepon, WhatsApp saya, kirim personal message, itu salah satu tanda, 'Oh dia menganggap hubungan ini hubungan yang rekat dengan diri saya,'" ungkap Adjie.
"Kalau responsnya hanya di media sosial, ada unsur ingin menunjukkan kalau orang tersebut punya hubungan dengan saya. Beda dengan kalau dia meninggalkan itu semua, lalu reach out. Itu merupakan kualitas yang baik," jelasnya lebih lanjut.
"Begitu pula sebaliknya. Saya juga enggak sebatas komentar di media sosial, saya berusaha menjangkau, mengecek secara langsung."
Meski memiliki banyak teman, kualitas hubungan bagus, tapi jika hubungan dengan diri sendiri tidak seimbang maka ada kemungkinan kesepian.
Artinya, perlu ada upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan diri sendiri. Bagaimana caranya?
Simak halaman selanjutnya untuk mengetahui cara membangun koneksi dengan diri.
4 Cara Membangun Koneksi dengan Diri Sendiri
Ilustrasi. (Pixabay/uveX)
Meski memiliki banyak teman, kualitas hubungan bagus, jika hubungan dengan diri sendiri kualitasnya kurang bagus maka ada kemungkinan kesepian.
Artinya, perlu ada upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan diri sendiri. Bagaimana caranya?
Adjie merangkum terdapat empat langkah untuk membangun hubungan dengan diri sendiri.
1. Meluangkan waktu untuk jeda
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Bukan meditasi, bukan melamun tapi sesederhana tidak melakukan apapun, duduk diam, mengamati sekitar.
Duduk diam dan tidak berbuat apapun memang aktivitas yang kerap dihindari manusia modern. Diam bakal mendatangkan bayang-bayang kenangan sekaligus masa depan yang tak jarang menakutkan.
"Ketika kita enggak ngapa-ngapain, menjalin hubungan dengan bertemu diri sendiri, memori masa lalu akan muncul, kita sadari. Memori yang selama ini berusaha kita lupakan, termasuk imajinasi perihal masa depan yang menakutkan, kita akan notice," katanya.
2. Menyadari fisik
Latihan kedua adalah berlatih menyadari fisik atau tubuh. Anda bisa menyadari perut yang kembang kempis atau bahu yang naik turun saat bernapas.
Kemudian berkaitan dengan panca indera, Anda mulai mendengarkan dengan seksama musik yang diputar lewat ponsel. Saat mandi, mulai menyadari air yang dingin saat bersentuhan dengan kulit juga aroma sabun mandi.
Di sini Anda menyadari napas yang keluar masuk melalui hidung.
Menurut Adjie, latihan ini lebih menantang daripada latihan menyadari fisik sebab napas jauh lebih halus dan nyaris tidak terasa menyentuh hidung bahkan saat lewat tenggorokan.
Saat pikiran 'bertualang' ke mana-mana, napas akan membawa Anda ke momen kini dan di sini.
4. Menyadari pikiran dan perasaan
Adjie menyebut duduk diam ini jadi momen di mana kita menjalin hubungan, berelasi dengan diri kita sendiri. Ada rasa nyaman dengan kenangan maupun imajinasi yang bermunculan.
Nyaman, lanjutnya, berarti tidak ada upaya untuk melawan, mengubah atau melarikan diri darinya. Semua cukup disadari saja.
"Sayangnya manusia modern itu kerap tergesa-gesa melarikan diri, mencari distraksi. Modern loneliness, kita asing dengan diri sendiri," katanya.
Upayakan untuk tidak larut dalam pikiran dan perasaan sehingga berujung pada lamunan. Adjie mengatakan di momen ini Anda menjadi pengamat atas pikiran juga perasaan yang muncul. Dia mengumpamakannya seperti aktivitas menonton film.
Saat menonton film, penonton tidak terlibat dengan apa yang dialami para pemain di dalamnya.
"Ketika kita mengamati perasaan kita, oh aku sedang mikirin itu, muncul kenangan, kekhawatiran, kecemasan, amati saja, tanpa mengubah, melarikan diri," imbuhnya.