7 Taman 'Ajaib' Korea Selatan, dari Tema Toilet sampai Penis
CNN Indonesia
Minggu, 21 Mar 2021 10:26 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Ilustrasi. (Ed JONES / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Korea Selatan bukan hanya destinasi belanja, wisata kuliner, atau konser K-pop. Di negara ini banyak juga objek wisata unik dan bersejarah yang bisa dikunjungi, mulai dari museum toilet sampai taman penis.
Jika hendak berwisata ke Korea Selatan usai pandemi virus Corona, berikut sejumlah taman bertema "ajaib" yang bisa dikunjungi di sana:
1. Mr Toilet House
Mr Toilet House. (JUNG Yeon-Je / AFP)
Museum Haewoojae (juga dikenal sebagai Mr Toilet House) dibuka di Suwon pada tahun 2007. Dibangun oleh mantan walikota Suwon Sim Jae-duck, yang dikenal sebagai Mr Toilet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namanya demikian karena kabarnya ia lahir di toilet rumah kakek neneknya lalu memiliki ketertarikan pada toilet sepanjang hidupnya.
Selama masa jabatannya, dia fokus pada perbaikan pipa ledeng dan kamar mandi umum Korea, dan rumahnya selama 30 tahun dihancurkan untuk menandai lahirnya World Toilet Organisation (Organisasi Toilet Dunia) pada tahun 2001.
Sebagai gantinya, dia membangun sebuah rumah berbentuk toilet, dirancang oleh arsitek Go Gi Wong. Bangunan ini dinobatkan sebagai patung toilet terbesar di dunia oleh Korea Record Institute pada tahun 2007.
Bangunan itu disumbangkan ke kota setelah Mr Toilet wafat pada tahun 2009, dan hari ini museum dan taman yang didedikasikan untuk kakus.
Pengunjung dapat mempelajari sejarah dan teknologi toilet di dunia, dari Roma Kuno hingga toilet pembilas bersejarah pertama di Korea.
Imsil Cheese Theme Park. (Tourism Korean Culture/Jeon Han)
Seluruh area taman hiburan ini dikhususkan untuk keju, mulai dari wahana permainan hingga museumnya.
Imsil adalah tempat pertama di Korea Selatan yang memproduksi keju pada pertengahan 1960-an, dan saat ini merupakan produsen utama di negara tersebut.
Keju sekarang menjadi bagian penting dari masakan Korea Selatan.
Ada juga toko tempat Anda bisa membeli keju Imsil dan barang-barang terkait.
5. Jindo-Modo Landbridge
Orang Korea Selatan juga punya cerita yang mirip dengan kisah Nabi Musa saat membelah lautan.
Versi mereka adalah Pulau Jindo diserang oleh harimau ganas. Semua orang melarikan diri, kecuali seorang wanita tua yang malang.
Diceritakan bahwa dia berdoa kepada dewa laut, meminta dewa tersebut untuk membuka air dan mengizinkannya untuk lewat ke pulau tetangga, Modo. Keinginannya dikabulkan.
Saat ini, penduduk lokal dan turis di Pulau Jindo dan Pulau Modo dapat merasakan kembali momen penyeberangan itu di Laut Kuning.
Dua kali setahun, sekali di bulan Mei dan sekali di pertengahan Juni, air laut yang sangat surut membuka jalan lintas alam yang menghubungkan Jindo dan Modo.
Jalan lintas ini hampir sepanjang dua mil dan lebarnya lebih dari 120 kaki. Dua kali setahun, pengunjung dan turis dari masing-masing pulau bisa berjalan ke tengah Laut Kuning.
Foto: iStockphoto/kittijaroon Paju, South Korea - April 14, 2015: Dora Observatory in Paju, South Korea. Visitors can see the North Korean state in Demilitarized Zone (DMZ) through binoculars from this observatory.
Jika ingin melihat sekilas kehidupan di Korea Utara tanpa benar-benar mengunjungi Korea Utara, Dora Observatory adalah tempatnya.
Dibangun pada tahun 1987 oleh pemerintah Korea Selatan, Dora sebenarnya adalah pengganti stasiun pengamatan yang lebih tua, Pos Pengamatan Songaksan.
Areanya mencakup lusinan teropong yang dioperasikan dengan koin, peta DMZ, dan auditorium dengan 500 kursi.
Beberapa landmark Korea Utara yang terlihat dari Dora termasuk Desa Propaganda Kijong-dong di DMZ, dan pinggiran kota Kaesong di Korea Utara.
Pada hari yang sangat cerah, Anda mungkin bisa melihat beberapa orang Korea Utara yang mengendarai sepeda melalui teropong.
Anda juga dapat mendengarkan siaran radio Korea Utara melalui speaker observatorium.
7. Samcheok Haesindang Park
Samcheok Haesindang Park. (Ed JONES / AFP)
Yang ingin mengetahui serba-serbi penis sebagai anggota tubuh sampai barang seni bisa mengunjungi Samcheok Haesindang Park alias Taman Penis.
Koleksi seni lingga berkisar dari pajangan gantung hingga batang kayu pahatan setinggi tiga meter, dan berbagai karya yang berpusat pada penis dari berbagai era yang berbeda.
Ada juga museum kecil yang mengeksplorasi sejarah komunitas nelayan setempat.