Mengenal Obesitas pada Anak, Bahaya hingga Cara Mencegahnya

tim, CNN Indonesia | Kamis, 25/03/2021 11:07 WIB
Obesitas pada anak bisa berbahaya karena memiliki kecenderungan mengalaminya kembali saat masa dewasa. Berikut penyebab dan cara mencegahnya. Ilustrasi. Obesitas pada anak bisa berbahaya karena memiliki kecenderungan mengalaminya kembali saat masa dewasa. Berikut penyebab dan cara mencegahnya.: skeeze/pixabay
Jakarta, CNN Indonesia --

Obesitas tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak. Obesitas pada anak bisa berbahaya karena cenderung berdampak lanjutan pada usia dewasa.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) pada 2018, 1 dari 7 remaja Indonesia mengalami kelebihan berat badan yang berpeluang besar menjadi obesitas. Di samping itu, angka obesitas pada anak usia 5-12 tahun juga tinggi yakni 9,2 persen, 13-15 tahun 4,8 persen, dan usia 16-18 tahun 4 persen.

Meski bisa disembuhkan sejak dini, tapi orang dewasa yang memiliki riwayat obesitas saat usia anak tidak bisa bebas sepenuhnya dari penyakit ini.


Dokter Spesialis Anak I Gusti lanang Sidiartha mengatakan, anak yang sudah mengidap obesitas sejak masa balita memiliki kecenderungan mengalami obesitas kembali di masa dewasa, meski sempat sembuh.

Lanang mengatakan, kondisi tersebut bisa terjadi karena metabolisme yang sudah dimiliki tubuh terbiasa dengan obesitas. 

"Meskipun di masa remaja dia langsing, tapi mudah sekali jadi obesitasnya karena metabolisme tubuhnya itu 'metabolisme obes', makanya ada orang makan banyak tapi dia enggak gemuk, nah ini bisa jadi dia obesitas," kata Lanang dalam webinar, Rabu (23/4).

Selain itu, obesitas sejak dini juga berpotensi menimbulkan penyakit lain ketika masa dewasa, seperti diabetes dan penyakit jantung. Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan dr Erna Mulati juga mengatakan, obesitas di usia anak bisa menyebabkan anak tumbuh tidak percaya diri saat masa dewasa.

"Ada stigma dalam masyarakat yang menyebabkan anak obesitas tidak tumbuh percaya diri saat dewasa, obesitas pada anak juga bisa membuat prestasi anak menurun," katanya.

Penyebab obesitas pada anak

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Erna Mulati mengatakan, tingginya angka obesitas pada anak bisa disebabkan beberapa hal. Pertama, karena makanan yang dikonsumsi terlalu banyak mengandung gula sementara nutrisinya rendah. Anak juga kerap menjadi sasaran produk makanan tinggi gula yang dijual bebas di pasaran.

Selain itu, Erna mengatakan, data Riskesda 2018 juga menunjukkan 96 persen anak usia 10-19 tahun kurang mengonsumsi buah dan sayur. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab angka obesitas tinggi pada usia anak.

"Di samping itu juga karena aktivitas fisik anak rendah, 64 persen anak Indonesia kurang beraktivitas secara fisik," kata Erna.

Obesitas pada anak juga bisa disebabkan karena faktor genetik bawaan dari orang tua. Sehingga penting menjaga berat badan dan gizi seimbang saat hamil untuk menekan kemungkinan kelahiran anak dengan berat badan lebih (overweight).

Cara mencegah anak obesitas

Lanang mengatakan bahwa tidak sulit mencegah obesitas pada anak. Pertama, ialah dengan mengurangi asupan nutrisi berlebih pada anak yang biasanya terkandung dalam camilan, dan makanan cepat saji.

"Obesitas itu prinsipnya terjadi ketidakseimbangan dari asupan dan kebutuhan. Asupan itu apa? Makanan, camilan, minuman manis soft drink. Mudah saja menghilangkan risiko obesitas pada anak, misalnya hilangkan minuman manis dan camilan, kemudian meningkatkan aktivitas fisik," jelasnya.

Sementara untuk balita dengan berat badan berlebih, Lanang menyarankan agar diberikan air susu ibu (ASI) optimal hingga berusia dua tahun. ASI eksklusif terbukti dapat menekan resiko terkena obesitas. Pemberian ASI eksklusif di bawah usia 4 bulan juga menurunkan resiko terserang obesitas hingga 2,9 persen.

"Pemberian ASI di atas 6 bulan juga bisa menghambat obesitas karena makanan padat yang masuk ke tubuh berkurang," kata Lanang.

(mel/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK