Mulut Kering Diklaim Sebagai Gejala Baru Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 19/04/2021 15:15 WIB
Laporan terbaru dari National Institute of Health (NIH) menemukan, setengah dari pasien mengalami gejala Covid-19 pada mulut, salah satunya mulut kering. Ilustrasi. Laporan terbaru dari National Institute of Health (NIH) menemukan, setengah dari pasien mengalami gejala Covid-19 pada mulut, salah satunya mulut kering. (iStockphoto/Tetiana Mandziuk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hingga saat ini, para ilmuwan masih terus mempelajari berbagai gejala klinis yang ditimbulkan virus corona penyebab Covid-19. Seperti salah satunya mulut kering yang disebut-sebut sebagai gejala baru Covid-19.

Dalam beberapa waktu ke belakang, sejumlah pasien melaporkan beberapa gejala baru. Laporan terbaru dari National Institute of Health (NIH) menyebutkan, sekitar setengah dari pasien mengalami gejala tersebut.

Salah satunya adalah mulut kering yang juga dikenal dengan istilah xerostomia. Kondisi ini disebut bisa menjadi gejala awal Covid-19. Pasien dapat mengalami gejala ini beberapa hari sebelum demam, sakit tenggorokan, atau gejala umum lainnya.


"Tubuh tak mampu memproduksi air liur untuk melindungi mulut dari patogen. Pasien akan merasakan kekeringan dan air liur jadi lebih kental," ujar konsultan penyakit dalam, Samrat Shah, mengutip The Indian Express.

Sekitar setengah dari pasien Covid-19, tulis penelitian NIH, mengalami gejala mulut, termasuk kehilangan kemampuan mengecap rasa, mulut kering, dan luka pada mulut. Namun, tidak jelas apakah SARS-CoV-2 bisa langsung menginfeksi dan bereplikasi di jaringan mulut.

Diketahui sebelumnya bahwa virus tersebut menginfeksi sel di hidung, saluran pernapasan atas, dan paru-paru. Penelitian terbaru dari NIH menemukan bahwa mulut, melalui sel yang terinfeksi, memainkan peran lebih besar dalam infeksi ini. Rongga mulut dan air liur dianggap sebagai jalur potensial masuknya SARS-CoV-2.

"Orang dengan Covid-19 memiliki tingkat virus yang lebih tinggi dalam air liurnya," tulis para peneliti.

Para peneliti menduga, setidaknya dalam beberapa kasus, air liur yang mengandung virus mungkin berasal dari jaringan yang terinfeksi di dalam mulut, bukan dari saluran hidung atau yang dikeluarkan oleh paru-paru.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, gejala Covid-19 berupa mulut kering sebetulnya sudah muncul sejak 2020. Zubairi menjelaskan, sebuah studi di University Florida Health Center Integrated Data pada 2020 menunjukkan bahwa 1.772 orang dengan mulut kering, 9 persen diantaranya didiagnosis Covid-19.

"Jadi sebenarnya itu bukan gejala baru. Gejala mulut kering pada pasien Covid-19 itu sudah ada sejak 2020," kata Zubairi kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

Ada beberapa faktor yang mendasari munculnya gejala mulut kering pada pasien virus corona. Menurut Zubairi, pertama adalah karena infeksi SARS-CoV-2 juga menyerang sistem kelenjar air liur. Karena terserang virus, air liur menjadi sedikit dan sulit diproduksi.

"Virus Covid-19 ini menginfeksi kelenjar air liur, itu yang bisa menyebabkan mulut jadi kering dan air liur sedikit, dan ternyata sekarang sudah dapat dibuktikan bahwa air ludah mengandung virus corona," ujarnya.

Selain itu, reaksi autoimun juga bisa menyebabkan pasien Covid-19 mengalami gejala mulut kering. Pasien Covid-19 dengan komorbid seperti diabetes juga lebih dimungkinkan menderita gejala mulut kering.

Zubairi juga menyebut, konsumsi obat-obatan yang digunakan pasien Covid-19 juga bisa jadi penyebab mulut kering.

"Jadi mulut kering pada pasien Covid-19 bisa disebabkan oleh virusnya langsung menginfeksi kelenjar air liur, kedua oleh reaksi autoimun, ketiga oleh penyakit yang diderita, keempat oleh obat-obat yang dikonsumsi," tuturnya.

Ia juga menambahkan, baik virus yang belum bermutasi atau yang telah bermutasi bisa menimbulkan gejala mulut kering pada pasien yang terinfeksi. 

(mel/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK