Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian pasangan mungkin lebih memilih untuk menunda kehamilan. Sebabnya, dilandasi berbagai macam faktor, seperti masalah finansial yang belum terpenuhi, belum siap menjadi orang tua, atau ada juga yang ingin menghabiskan lebih banyak waktu hanya bersama pasangan.
Menunda kehamilan bisa dilakukan dengan banyak cara. Bahkan pemerintah punya program Keluarga Berencana (KB) untuk mengatur angka kelahiran anak. Program ini pula yang menjadi cikal bakal kemunculan berbagai alat kontrasepsi di Indonesia.
Ada berbagai macam jenis alat kontrasepsi yang bisa jadi pilihan, tapi setiap alat dan metode kontrasepsi yang dipakai juga punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Beberapa jenis alat kontrasepsi seperti kondom, pil KB, suntik, hingga implan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Pengurus Ikatan Bidan Indonesia, Emi Nurjasmi mengatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir jenis KB suntik merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak diminati.
Ada dua jenis KB suntik yang biasa digunakan di Indonesia, yakni KB suntik 1 bulan dan KB suntik 3 bulan. Terbaru, kini ada KB suntik 2 bulan yang sama-sama efektif menunda kehamilan.
"Semakin banyak varian baru KB suntik sehingga bisa memberikan banyak pilihan untuk masyarakat yang mau menggunakan kontrasepsi," kata Emi dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (27/4).
Jenis-jenis KB suntik
Emi mengatakan, biasanya bidan atau dokter kandungan akan menyarankan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti pemasangan implan, atau IUD. Namun masyarakat biasanya cenderung memilih KB suntik karena khawatir akan benda yang ditanamkan di rahim, serta KB suntik dinilai lebih ekonomis.
Ada 2 jenis KB suntik yang beredar di pasaran, yaitu KB suntik setiap bulan dan KB suntik 3 bulanan. Keduanya sama-sama mencegah kehamilan, hanya saja interval penyuntikan berbeda dan memiliki efek samping yang berbeda pula.
Pada KB suntik 1 bulan, interval penyuntikan dilakukan setiap 30 hari. Alat kontrasepsi ini memiliki dua kandungan hormon yakni progesteron dan estrogen sintetik, sehingga tidak menghambat siklus menstruasi.
Sementara pada KB suntik 3 bulan hanya menggunakan hormon progesteron sehingga menghambat siklus menstruasi, ditambah ada risiko osteoporosis jika penggunaannya dilakukan jangka panjang. Namun interval penyuntikan lebih panjang, yakni setiap 90 hari.
Simak penjelasan terkait KB suntik dua bulan dan efek sampingnya di halaman berikut.
KB Suntik 2 Bulan dan Efek Sampingnya
Ilustrasi. KB suntik 1 bulan dan 3 bulan adalah alat kontrasepsi yang biasa digunakan di Indonesia. Kini, ada pula KB suntik 2 bulan, apa perbedaan serta efek sampingnya? (Pexels)
KB suntik 2 bulan
KB suntik 2 bulan merupakan alat kontrasepsi jenis baru. Kandungannya mirip seperti KB suntik 1 bulan yang menggunakan dua hormon, yaitu progesteron dan estrogen sintetik.
Namun, dosis pada KB suntik 2 bulan lebih tinggi dari pada KB suntik 1 bulan sehingga interval waktu penyuntikan akan lebih panjang.
Sama seperti KB suntik 1 bulan, alat kontrasepsi baru ini juga tidak mengganggu siklus menstruasi dan tidak berpengaruh pada rekam medis seseorang. Berbeda dengan KB suntik 3 bulan yang menghambat menstruasi.
Efek samping
Meski punya efektivitas mencegah kehamilan hingga 99 persen, KB suntik punya beberapa efek samping bagi tubuh. Dokter Obgyn Dinda Derdameisya mengatakan, KB suntik merupakan alat kontrasepsi hormonal sehingga bisa mempengaruhi suasana hati dan kerja hormon alami dalam tubuh.
"Kemungkinan efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal pada umumnya seperti mual, sakit kepala, perubahan pola menstruasi, perubahan suasana hati. Namun efek samping tersebut tidak pasti terjadi dan tergantung reaksi tubuh masing-masing," kata Dinda.
Namun KB suntik masih lebih praktis ketimbang alat kontrasepsi jenis lain, seperti kondom, atau pil KB. KB suntik hanya disuntikkan berkala sesuai jadwal dan jenisnya, misalnya suntik 1 bulan, 2 bulan, atau 3 bulan. Berbeda dengan pil KB yang harus diminum setiap hari secara teratur.
Selain itu, Dinda juga menjelaskan penggunaan KB suntik bisa dihentikan kapan pun ketika sudah memutuskan untuk memiliki momongan. Tingkat kesuburan juga bisa kembali, terutama pada pengguna KB suntik 1 bulan dan 2 bulan.
Meski punya keuntungan lebih dan harganya lebih ekonomis ketimbang alat kontrasepsi IUD atau implan, Dinda menekankan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum memilih suntik KB. Sebab tak semua orang bisa menerima suntik KB, terutama perempuan di atas usia 35 tahun dan punya riwayat kanker.
"Selalu konsultasikan dengan dokter atau bidan ketika ingin memulai program KB, karena tak semua jenis KB bisa digunakan pada seseorang," tutur Dinda.