Provinsi '9 Bulan musim dingin, 3 Bulan Neraka' di Portugal
Anisa Subekti | CNN Indonesia
Minggu, 06 Jun 2021 13:51 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemandangan Desa rio de Onor di kota Bragança, Portugal. (Arsip Anisa Subekti)
Bragança, CNN Indonesia --
Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk berkunjung, sekalian bekerja dengan beberapa kru untuk membuat video di Provinsi Bragança, Portugal. Selama hampir dua minggu saya bekerja sekaligus menikmati alam di sana.
Provinsi Bragança terletak di pegunungan Trás os Montes, di ujung timur laut Portugal yang berbatasan dengan negara Spanyol (provinsi Zamora) yang jelas punya potensi alam yang besar. Lantaran posisinya dipojokkan, tidak banyak turis yang datang ke sini. Ditambah lagi saat pandemi, suasananya jadi semakin tenang.
Kota Bragança sendiri adalah kota kuno yang kastilnya masih mempertahankan inti kota abad pertengahan yang dikelilingi tembok tinggi. Memasuki benteng atau lapangan parade melalui Porta da Vila, segera saya melihat Pelourinho, berdasarkan lambang Lusitanian yang mengingatkan asal-usul Celtic di kawasan itu. Dari atas tembok kastil, saya dapat menikmati pemandangan kota yang sangat indah dan luasnya cakrawala pegunungan Trás os Montes yang mengelilinginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Provinsi ini merupakan bagian dari Cagar Biosfer Transfrontier Meseta Iberica yang sudah diakui oleh UNESCO. Tempat ini memiliki warisan alam yang indah dan keragaman yang langka, seperti vegetasi yang beragam di Taman Alam Montesinho, ngarai sungai bertebing kebun-kebun anggur di Taman Alam Internasional Douro, dan bebatuan unik di Taman Alam Regional Vale do Tua. Tidak heran jika slogan yang mereka gunakan adalah 'Bragança Naturalmente' yang artinya 'Alamiah Bragança'.
Salah satu tempat favorit saya di wilayah ini adalah Desa Rio de Onor. Letaknya kira-kira 26 km atau 30 menit dengan mobil dari pusat kota Bragança. Perjalanan ke sini terasa sangat cepat. Saya terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan pegunungan Trás os Montes sepanjang perjalanan.
Sesampai di Desa Rio de Onor, saya melihat masih banyak rumah-rumah tradisional di sini. Rumah tradisional di sini biasanya memiliki beranda kayu dengan balkon sempit, dinding berbatu sekis, bergenteng sekis gelap, dan berlantai dua: lantai dasar untuk menampung hewan; dan yang di atas, yang memanfaatkan panas yang datang dari bawah, berfungsi sebagai rumah keluarga.
Kastil Bragança. (Arsip Anisa Subekti)
Ketika saya melihat Sungai Onor yang mengalir jernih melintasi desa ini, saya langsung jatuh cinta. Rumah-rumah tradisional yang berwarna-warni menghiasi pinggiran sungai membuatnya semakin menawan. Tidak mengherankan jika pada tahun 2017, Rio de Onor menjadi desa pemenang '7 Keajaiban Portugal' dalam kategori 'Desa di Kawasan Lindung', dalam hal ini Taman Alam Montesinho.
Desa Rio de Onor berbatasan dengan negara Spanyol yang nama desanya menjadi Rihonor de Castilla. Meskipun negaranya berbeda dan nama desanya berbeda, orang-orang di desa ini tidak merasa berbeda. Malahan, mereka punya undang-undang tersendiri dan Bahasa lokal sendiri yang disebut bahasa Rionores.
Saya dengar sampai tahun 60-an yang lalu, tidak ada jalan yang mencapai Desa Rio de Onor. Kawasan ini hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ingat lirik lagu dalam kartun Ninja Hatori "mendaki gunung, lewati lembah"? Lirik lagu itu persis menggambarkan perjalanan dari kota Bragança sampa desa ini. Anda bisa membayangkan seberapa jauh desa Rio de Onor dan penduduknya terisolasi di jaman dulu.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Kalau ditanya kapan waktu yang paling pas mengunjungi Bragança, saya tidak bisa jawab karena tergantung minat masing-masing. Saya bisa bilang mengingat Taman Alam Montesinho menjadi semakin populer, jika memungkinkan, sebaiknya hindari akhir pekan dan puncak musim panas (terutama bulan Agustus). Pada saat-saat seperti ini, banyak pengunjung Portugis dan Spanyol yang "melarikan diri" ke provinsi Bragança sehingga bisa mengurangi daya tariknya.
Perlu juga diingat akan slogan terkenal yang saya sering dengar dari orang-orang Bragança, '9 bulan musim dingin, 3 bulan neraka' biasanya digunakan untuk menggambarkan iklim "tanah dingin" dan dataran tinggi Trás-os-Montes yang berlaku di distrik Bragança. Jadi siap-siap saja cuaca yang lumayan ekstrem di sini. Saya sendiri datang pada musim semi yang hanya bertahan tidak sampai sebulan karena 'neraka' segera mengambil alih provinsi ini. Haha...
Sedangkan di musim dingin, suhu di sekitar Provinsi Bragança bisa menjadi sangat rendah, dan salju bukanlah kejadian langka. Tetapi menurut saya, musim dingin sebenarnya bisa saja memberikan pesona khusus di provinsi ini. Terlebih lagi di akhir tahun dan awal tahun ketika Festival Anak Laki-laki (Festas dos Rapazes) diadakan.
Festival Anak Laki-laki ini terkenal dengan Caretos yang muncul secara berkelompok dari setiap sudut desa, berlari dan berteriak dengan penuh semangat, menakuti orang-orang dan "merampok" semua kilang anggur.
Caretos biasanya adalah laki-laki muda bertopeng yang mengenakan setelan yang terbuat dari selimut wol berwarna-warni, mengenakan topeng dengan berbagai macam bentuk dan bahan, dan mainan di ikat pinggang mereka. Di jaman sekarang, Caretos tidak lagi khusus untuk laki-laki. Perempuan juga bisa menjadi Careto kalau mereka mau.
Setiap desa di wilayah ini memiliki tradisi Caretos yang berbeda-beda dari leluhurnya untuk merayakan titik balik matahari musim dingin, yang asal-usulnya telah hilang.
Saya beruntung mengalami sedikit dari 'Festas dos Rapazes' ini dikarenakan ikut dalam proses pembuatan video. Kalau tidak, saya harus menunggu musim dingin untuk melihat langsung tradisi ini.
---
Anisa Subekti saat ini aktif bersepeda keliling dunia bersama Luís Simões yang menggagas World Sketching Tour. Kegiatan penulis bisa diketahui melalui Instagram-nya di @anyisa
Bragança, CNN Indonesia --
Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya saya berkesempatan untuk berkunjung, sekalian bekerja dengan beberapa kru untuk membuat video di Provinsi Bragança, Portugal. Selama hampir dua minggu saya bekerja sekaligus menikmati alam di sana.
Provinsi Bragança terletak di pegunungan Trás os Montes, di ujung timur laut Portugal yang berbatasan dengan negara Spanyol (provinsi Zamora) yang jelas punya potensi alam yang besar. Lantaran posisinya dipojokkan, tidak banyak turis yang datang ke sini. Ditambah lagi saat pandemi, suasananya jadi semakin tenang.
Kota Bragança sendiri adalah kota kuno yang kastilnya masih mempertahankan inti kota abad pertengahan yang dikelilingi tembok tinggi. Memasuki benteng atau lapangan parade melalui Porta da Vila, segera saya melihat Pelourinho, berdasarkan lambang Lusitanian yang mengingatkan asal-usul Celtic di kawasan itu. Dari atas tembok kastil, saya dapat menikmati pemandangan kota yang sangat indah dan luasnya cakrawala pegunungan Trás os Montes yang mengelilinginya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Provinsi ini merupakan bagian dari Cagar Biosfer Transfrontier Meseta Iberica yang sudah diakui oleh UNESCO. Tempat ini memiliki warisan alam yang indah dan keragaman yang langka, seperti vegetasi yang beragam di Taman Alam Montesinho, ngarai sungai bertebing kebun-kebun anggur di Taman Alam Internasional Douro, dan bebatuan unik di Taman Alam Regional Vale do Tua. Tidak heran jika slogan yang mereka gunakan adalah 'Bragança Naturalmente' yang artinya 'Alamiah Bragança'.
Salah satu tempat favorit saya di wilayah ini adalah Desa Rio de Onor. Letaknya kira-kira 26 km atau 30 menit dengan mobil dari pusat kota Bragança. Perjalanan ke sini terasa sangat cepat. Saya terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan pegunungan Trás os Montes sepanjang perjalanan.
Sesampai di Desa Rio de Onor, saya melihat masih banyak rumah-rumah tradisional di sini. Rumah tradisional di sini biasanya memiliki beranda kayu dengan balkon sempit, dinding berbatu sekis, bergenteng sekis gelap, dan berlantai dua: lantai dasar untuk menampung hewan; dan yang di atas, yang memanfaatkan panas yang datang dari bawah, berfungsi sebagai rumah keluarga.
Kastil Bragança. (Arsip Anisa Subekti)
Ketika saya melihat Sungai Onor yang mengalir jernih melintasi desa ini, saya langsung jatuh cinta. Rumah-rumah tradisional yang berwarna-warni menghiasi pinggiran sungai membuatnya semakin menawan. Tidak mengherankan jika pada tahun 2017, Rio de Onor menjadi desa pemenang '7 Keajaiban Portugal' dalam kategori 'Desa di Kawasan Lindung', dalam hal ini Taman Alam Montesinho.
Desa Rio de Onor berbatasan dengan negara Spanyol yang nama desanya menjadi Rihonor de Castilla. Meskipun negaranya berbeda dan nama desanya berbeda, orang-orang di desa ini tidak merasa berbeda. Malahan, mereka punya undang-undang tersendiri dan Bahasa lokal sendiri yang disebut bahasa Rionores.
Saya dengar sampai tahun 60-an yang lalu, tidak ada jalan yang mencapai Desa Rio de Onor. Kawasan ini hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ingat lirik lagu dalam kartun Ninja Hatori "mendaki gunung, lewati lembah"? Lirik lagu itu persis menggambarkan perjalanan dari kota Bragança sampa desa ini. Anda bisa membayangkan seberapa jauh desa Rio de Onor dan penduduknya terisolasi di jaman dulu.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Provinsi '9 Bulan musim dingin, 3 Bulan Neraka' di Portugal
Festival Anak Laki-laki atau Caretos. (Arsip Anisa Subekti)
Kalau ditanya kapan waktu yang paling pas mengunjungi Bragança, saya tidak bisa jawab karena tergantung minat masing-masing. Saya bisa bilang mengingat Taman Alam Montesinho menjadi semakin populer, jika memungkinkan, sebaiknya hindari akhir pekan dan puncak musim panas (terutama bulan Agustus). Pada saat-saat seperti ini, banyak pengunjung Portugis dan Spanyol yang "melarikan diri" ke provinsi Bragança sehingga bisa mengurangi daya tariknya.
Perlu juga diingat akan slogan terkenal yang saya sering dengar dari orang-orang Bragança, '9 bulan musim dingin, 3 bulan neraka' biasanya digunakan untuk menggambarkan iklim "tanah dingin" dan dataran tinggi Trás-os-Montes yang berlaku di distrik Bragança. Jadi siap-siap saja cuaca yang lumayan ekstrem di sini. Saya sendiri datang pada musim semi yang hanya bertahan tidak sampai sebulan karena 'neraka' segera mengambil alih provinsi ini. Haha...
Sedangkan di musim dingin, suhu di sekitar Provinsi Bragança bisa menjadi sangat rendah, dan salju bukanlah kejadian langka. Tetapi menurut saya, musim dingin sebenarnya bisa saja memberikan pesona khusus di provinsi ini. Terlebih lagi di akhir tahun dan awal tahun ketika Festival Anak Laki-laki (Festas dos Rapazes) diadakan.
Festival Anak Laki-laki ini terkenal dengan Caretos yang muncul secara berkelompok dari setiap sudut desa, berlari dan berteriak dengan penuh semangat, menakuti orang-orang dan "merampok" semua kilang anggur.
Caretos biasanya adalah laki-laki muda bertopeng yang mengenakan setelan yang terbuat dari selimut wol berwarna-warni, mengenakan topeng dengan berbagai macam bentuk dan bahan, dan mainan di ikat pinggang mereka. Di jaman sekarang, Caretos tidak lagi khusus untuk laki-laki. Perempuan juga bisa menjadi Careto kalau mereka mau.
Setiap desa di wilayah ini memiliki tradisi Caretos yang berbeda-beda dari leluhurnya untuk merayakan titik balik matahari musim dingin, yang asal-usulnya telah hilang.
Saya beruntung mengalami sedikit dari 'Festas dos Rapazes' ini dikarenakan ikut dalam proses pembuatan video. Kalau tidak, saya harus menunggu musim dingin untuk melihat langsung tradisi ini.
---
Anisa Subekti saat ini aktif bersepeda keliling dunia bersama Luís Simões yang menggagas World Sketching Tour. Kegiatan penulis bisa diketahui melalui Instagram-nya di @anyisa