SUDUT CERITA

Cemooh Tetangga dan Cerita Kelam si Janda Muda

CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 18:10 WIB
Sulit membayangkan hidup menjanda di usia muda. Kehadiran seorang anak membuat cemooh tetangga tak bisa dihindari. Sulit membayangkan hidup menjanda di usia muda. Kehadiran seorang anak membuat cemooh tetangga tak bisa dihindari. (iStockphoto/AntonioGuillem)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masih terbayang di benak Intan wajah-wajah 'asem' para tetangga yang melihatnya. Mata-mata itu memandang Intan seolah mencibir hanya karena statusnya sebagai seorang janda muda dengan satu anak.

Perceraian tak membuat hidup Intan--bukan nama sebenarnya--menjadi damai meski telah lepas dari kekerasan suami. Bisik tetangga tak lagi bisa terbendung.

"Rumah [pernah] didatangi ketua RT, nanyain suaminya ke mana? Terus aku cerita kalau aku sudah cerai. Aku inget banget mimik muka pak RT dan bu RT, langsung berubah asem," ujar Intan, saat bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang janda pada CNNIndonesia.com, Rabu (23/6). Cibiran itu muncul saat Intan sedang menyusui si buah hati.


Sulit rasanya bagi Intan membayangkan hidup menjanda di usia muda, dengan seorang anak di pangkuan. Perempuan berambut pendek itu harus menelan status janda di usianya yang baru menginjak 22 tahun.

Kelam, adalah satu kata yang kiranya tepat mendeskripsikan masa lalu Intan. Tapi, baginya tak ada kata menyesal. Masa lalu biar lah berlalu, kita hidup melihat masa depan, sebagaimana tertulis dalam status WhatsApp-nya.

Usia Intan saat ini masih terbilang sangat muda. Tepat pada Agustus mendatang, Intan akan menginjak usia 28 tahun. Tapi, di usianya yang belia itu, Intan harus membesarkan Raden, si buah hati, dengan seorang diri.

"Mungkin orang melihat saya enggak punya cita-cita, tapi sebetulnya saya punya impian, hanya saja tak terwujud seperti orang kebanyakan," kata Intan.

Menikah di Usia Muda

Ia menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki pilihan keluarga. Sang suami bisa dibilang adalah orang yang tak kekurangan dana, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga yang religius.

Sementara Intan harus rela tak melanjutkan bangku kuliah karena dana keluarganya tak cukup untuk membiayai, bahkan sang adik laki-laki keukeuh ingin kuliah.

Keputusan Intan dan keluarganya bisa dibilang bukan hal tepat. Ia yang menikah setelah lulus SMA tak mencicipi indahnya pernikahan dalam waktu lama.

Setahun pertama pernikahannya mungkin jadi satu-satunya hal manis saat itu. Namun setelahnya, tabiat kasar dan arogan sang suami begitu mengganggunya. Ia juga pernah mendapati sang suami bersama dengan perempuan lain.

Woman's hand showing gesture STOP. Violence against women concept.Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. (Istockphoto/iweta0077)

Sang suami juga kerap melakukan kekerasan verbal pada Intan. Meski tak sampai memukul, setiap kata-kata yang pernah terlontar amat menyakiti hati.

"Aku pernah lupa masukin bekal makan siang buat dia di kantor karena aku juga sibuk banget pagi-pagi. Dia pulang ke rumah marah-marah sambil nunjuk-nunjuk, nyebut aku enggak becus jadi istri lah, enggak ngotak lah, sering banget dia hina aku," kata Intan.

Empat tahun pernikahannya ia putuskan karena tak tahan menanggung amarah sang suami yang selalu dilampiaskan padanya.

Belum lagi, saat itu, ia didorong oleh banyak pihak untuk punya anak. Seolah-olah kelahiran anak bisa membuat sang suami kembali berbaik hati padanya.

"Orang-orang pada bilang, makanya punya anak biar suami tambah sayang," ujar perempuan berkulit kuning langsat tersebut.

Sakit hati meski ditelan Intan mentah-mentah. Saat hamil anak pertamanya di usia 22 tahun, Intan mesti menerima kenyataan bahwa suaminya 'bermain' dengan perempuan lain.

"Aku langsung pergi ke rumah orang tua, aku cerita semuanya, aku minta cerai. Waktu itu aku hamil 7 bulan," tuturnya.

Pahit Kehidupan Menjanda dengan Satu Anak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK