7 Persiapan Wisata di Italia, dari Alas Kaki sampai Lidah
CNN Indonesia
Senin, 12 Jul 2021 11:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto sebelum pandemi. Pemandangan Colosseum di Roma, Italia. (AFP PHOTO / FILIPPO MONTEFORTE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Italia berhasil jadi juara Euro 2020 (Euro 2021) usai mengalahkan Inggris lewat adu penalti 3-2 (1-1) di Stadion Wembley, London, Senin (12/7) dini hari WIB.
Selain teratas dalam urusan sepakbola, Italia juga teratas dalam urusan pariwisata. Sepanjang tahun 2019, Italia tercatat dikunjungi 95,40 juta wisatawan mancanegara.
Angka tersebut tentu saja melorot setelah pandemi virus Corona melanda dunia dan Italia terdampak sangat parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di saat perjalanan wisata menjadi kembali aman, tentu saja Italia patut dipertimbangkan untuk menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner.
Perlu dicatat, tax refund di kota Milan bisa mencapai 12 persen, tertinggi se-Eropa, sehingga wisata belanja di sana bisa sangat menyenangkan.
Sebelum pelesir di Italia, berikut sejumlah hal yang patut diperhatikan:
Jangan mengucapkan kata 'Ciao' untuk menyapa orang yang baru dikenal, karena kata itu hanya ditujukan untuk kerabat yang akrab.
Sebagai gantinya, ucapkan 'Buon Giorno' (selamat pagi) atau 'Buona Sera' (selamat siang atau malam).
Penduduk Italia sangat senang jika ada wisatawan mancanegara yang mencoba berbincang dengan bahasanya - meski yang diucapkan hanya kalimat dasar - bahkan mereka yang ditemui di pinggir jalan.
2. Waspada copet
Seperti halnya kota besar lainnya, wisatawan harus sangat berhati-hati dengan barang bawaannya.
Saat berkeliling di tempat ramai, pastikan untuk menyimpan barang beharga seperti dompet, kamera dan paspor di bagian tas yang tertutup dan aman dari tangan-tangan usil.
Jangan langsung percaya dengan sekelompok orang yang menawarkan bantuan saat kita kerepotan, karena bisa jadi itu kawanan copet yang mengincar kelengahan kita.
Kuliner Italia, seperti pasta, pizza dan kopi sudah sangat terkenal di penjuru dunia. Tapi sebagian besar rasanya yang ada di luar Italia sudah "dimodifikasi" sehingga cocok di lidah penduduk lokal.
Jadi, siapkan lidah untuk mencicipi kuliner Italia di Italia yang rasanya asli Italia, yang mungkin "berbeda dari ekspektasi". Tapi itulah maksud dari wisata kuliner: melatih lidah mengecap rasa baru.
Sehingga jangan heran jika pelayan restoran di Italia terlihat merasa aneh jika kita meminta banyak keju, sambal atau gula.
Perlu dicatat juga, penduduk Italia menyantap makan malam di waktu yang cukup larut, sekitar pukul 20.00 atau 22.00. Di musim panas, di saat langit masih cerah setelah sore, makan malam bakal lebih larut.
Kalau ingin memberi tip sebaiknya cek dulu bonnya, apakah sudah termasuk tip atau belum, karena di Italia tidak ada tradisi khusus mengenai pemberian tip.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
4. Menyeberang
Penduduk Italia terbiasa berkendara dengan kecepatan tinggi, bahkan di tengah ruas jalan yang sibuk.
Sebelum menyeberang, sebaiknya lihat ke arah kanan dan kiri dulu dengan pasti, baru melangkahkan kaki. Karena bukan tidak mungkin ada Fiat atau Vespa yang menerobos lampu merah yang baru sedetik berganti.
5. Jalan batu dan tangga
Ada banyak ruas jalan Italia yang masih dibiarkan kuno, lengkap dengan bebatuan yang belum halus. Sebaiknya kenakan alas kaki yang nyaman, sehingga mudah saat melangkah.
Begitu juga dengan barang bawaan. Kemas seringkas mungkin, sehingga tak perlu membawa banyak koper yang bakal susah dibawa berjalan.
Rumah-rumah di Italia juga bertangga curam dan kecil, sehingga membawa koper turun naik bakal sangat merepotkan.
Sebagai salah satu kiblat fesyen dunia, tentu saja penduduk Italia sangat menjunjung tinggi soal gaya. Berpakaianlah yang kekinian - hindari busana yang terlalu turis seperti sandal jepit, namun jangan juga terlalu berlebihan sehingga membuat diri sendiri tak nyaman.
7. Ramah lingkungan
Banyak tempat makan dan tempat belanja di Italia yang memberi kantong belanja tipis sehingga meminimalisir volume sampah. Bawa sendiri kantong belanja bisa jadi jalan keluarnya.
Kalau hendak makan di restoran, sebaiknya pesan menu secukupnya, karena mereka biasanya tak menyediakan sarana bungkus bawa pulang untuk makanan yang tersisa - penduduk Italia selalu menghabiskan makanannya, oleh karena itu porsi makanan bakal terlihat kecil.
Jika ingin makan di luar museum atau taman, jangan berkerumun di area sibuk dan jangan lupa buang sampah pada tempatnya.
Di tengah pandemi virus Corona, perjalanan wisata masih dikategorikan sebagai perjalanan bukan darurat, sehingga sebaiknya tidak dilakukan demi mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, terutama di daerah yang masih minim fasilitas kesehatannya.
Jika hendak melakukan perjalanan antarkota atau antarnegara, jangan lupa menaati protokol kesehatan pencegahan virus Corona, dengan mengenakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak fisik antarpengunjung. Jangan datang saat sakit dan pulang dalam keadaan sakit.
Jakarta, CNN Indonesia --
Italia berhasil jadi juara Euro 2020 (Euro 2021) usai mengalahkan Inggris lewat adu penalti 3-2 (1-1) di Stadion Wembley, London, Senin (12/7) dini hari WIB.
Selain teratas dalam urusan sepakbola, Italia juga teratas dalam urusan pariwisata. Sepanjang tahun 2019, Italia tercatat dikunjungi 95,40 juta wisatawan mancanegara.
Angka tersebut tentu saja melorot setelah pandemi virus Corona melanda dunia dan Italia terdampak sangat parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di saat perjalanan wisata menjadi kembali aman, tentu saja Italia patut dipertimbangkan untuk menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner.
Perlu dicatat, tax refund di kota Milan bisa mencapai 12 persen, tertinggi se-Eropa, sehingga wisata belanja di sana bisa sangat menyenangkan.
Sebelum pelesir di Italia, berikut sejumlah hal yang patut diperhatikan:
Jangan mengucapkan kata 'Ciao' untuk menyapa orang yang baru dikenal, karena kata itu hanya ditujukan untuk kerabat yang akrab.
Sebagai gantinya, ucapkan 'Buon Giorno' (selamat pagi) atau 'Buona Sera' (selamat siang atau malam).
Penduduk Italia sangat senang jika ada wisatawan mancanegara yang mencoba berbincang dengan bahasanya - meski yang diucapkan hanya kalimat dasar - bahkan mereka yang ditemui di pinggir jalan.
2. Waspada copet
Seperti halnya kota besar lainnya, wisatawan harus sangat berhati-hati dengan barang bawaannya.
Saat berkeliling di tempat ramai, pastikan untuk menyimpan barang beharga seperti dompet, kamera dan paspor di bagian tas yang tertutup dan aman dari tangan-tangan usil.
Jangan langsung percaya dengan sekelompok orang yang menawarkan bantuan saat kita kerepotan, karena bisa jadi itu kawanan copet yang mengincar kelengahan kita.
Kuliner Italia, seperti pasta, pizza dan kopi sudah sangat terkenal di penjuru dunia. Tapi sebagian besar rasanya yang ada di luar Italia sudah "dimodifikasi" sehingga cocok di lidah penduduk lokal.
Jadi, siapkan lidah untuk mencicipi kuliner Italia di Italia yang rasanya asli Italia, yang mungkin "berbeda dari ekspektasi". Tapi itulah maksud dari wisata kuliner: melatih lidah mengecap rasa baru.
Sehingga jangan heran jika pelayan restoran di Italia terlihat merasa aneh jika kita meminta banyak keju, sambal atau gula.
Perlu dicatat juga, penduduk Italia menyantap makan malam di waktu yang cukup larut, sekitar pukul 20.00 atau 22.00. Di musim panas, di saat langit masih cerah setelah sore, makan malam bakal lebih larut.
Kalau ingin memberi tip sebaiknya cek dulu bonnya, apakah sudah termasuk tip atau belum, karena di Italia tidak ada tradisi khusus mengenai pemberian tip.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
7 Persiapan Wisata di Italia, dari Alas Kaki sampai Lidah
Foto sebelum pandemi. Pemandangan Colosseum di Roma, Italia. (AFP PHOTO / FILIPPO MONTEFORTE)
4. Menyeberang
Penduduk Italia terbiasa berkendara dengan kecepatan tinggi, bahkan di tengah ruas jalan yang sibuk.
Sebelum menyeberang, sebaiknya lihat ke arah kanan dan kiri dulu dengan pasti, baru melangkahkan kaki. Karena bukan tidak mungkin ada Fiat atau Vespa yang menerobos lampu merah yang baru sedetik berganti.
5. Jalan batu dan tangga
Ada banyak ruas jalan Italia yang masih dibiarkan kuno, lengkap dengan bebatuan yang belum halus. Sebaiknya kenakan alas kaki yang nyaman, sehingga mudah saat melangkah.
Begitu juga dengan barang bawaan. Kemas seringkas mungkin, sehingga tak perlu membawa banyak koper yang bakal susah dibawa berjalan.
Rumah-rumah di Italia juga bertangga curam dan kecil, sehingga membawa koper turun naik bakal sangat merepotkan.
Sebagai salah satu kiblat fesyen dunia, tentu saja penduduk Italia sangat menjunjung tinggi soal gaya. Berpakaianlah yang kekinian - hindari busana yang terlalu turis seperti sandal jepit, namun jangan juga terlalu berlebihan sehingga membuat diri sendiri tak nyaman.
7. Ramah lingkungan
Banyak tempat makan dan tempat belanja di Italia yang memberi kantong belanja tipis sehingga meminimalisir volume sampah. Bawa sendiri kantong belanja bisa jadi jalan keluarnya.
Kalau hendak makan di restoran, sebaiknya pesan menu secukupnya, karena mereka biasanya tak menyediakan sarana bungkus bawa pulang untuk makanan yang tersisa - penduduk Italia selalu menghabiskan makanannya, oleh karena itu porsi makanan bakal terlihat kecil.
Jika ingin makan di luar museum atau taman, jangan berkerumun di area sibuk dan jangan lupa buang sampah pada tempatnya.
Di tengah pandemi virus Corona, perjalanan wisata masih dikategorikan sebagai perjalanan bukan darurat, sehingga sebaiknya tidak dilakukan demi mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, terutama di daerah yang masih minim fasilitas kesehatannya.
Jika hendak melakukan perjalanan antarkota atau antarnegara, jangan lupa menaati protokol kesehatan pencegahan virus Corona, dengan mengenakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak fisik antarpengunjung. Jangan datang saat sakit dan pulang dalam keadaan sakit.