Studi: Covid-19 Berisiko Sebabkan Disfungsi Ereksi

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jul 2021 07:30 WIB
Studi: Covid-19 Berisiko Sebabkan Disfungsi Ereksi
Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa Covid-19 dikhawatirkan juga bisa berdampak pada organ reproduksi, termasuk menyebabkan disfungsi ereksi. (Istockphoto/Staras)

Penelitian yang juga dilakukan pada 31 pasien Covid-19 pria di Italia, mengidentifikasi bahwa pasien mengalami sindrom perkembangan pubertas atau hipogonadisme hipergonadotropik (HH) setelah terinfeksi Covid-19. Kadar testosteron pada 31 penyintas Covid-19 tersebut diketahui menjadi lebih rendah, sehingga berisiko mengganggu perkembangan sistem reproduksinya.

Namun penelitian tersebut belum bisa menjawab berapa lama sindrom HH akan menyerang tubuh. Sindrom tersebut bersifat permanen atau sementara masih belum diketahui.

Meski demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah virus SARS-CoV-2 bisa menyerang sistem reproduksi. Sebab studi tersebut mengatakan, belum ada bukti ditemukannya virus Covid-19 dalam sperma.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski dalam penelitian juga mengatakan bahwa disfungsi ereksi bisa terjadi disebabkan berbagai hal seperti tekanan psikologis, gangguan hemodinamik paru, disfungsi endotel, dan berbagai kemungkinan lainnya. Namun Covid-19 dapat memperburuk kondisi kardiovaskular sehingga meningkatkan risiko terkena DE.

Selain itu, hipotesis sementara penelitian menunjukkan bahwa pasien Covid-19 pria lebih berisiko pada pemburukan hingga kematian karena berkurangnya kadar testosteron pada tubuh.

Diketahui testosteron bertindak sebagai modulator dan menekan peradangan dengan meningkatkan kadar sitokin anti inflamasi (IL-10) dan mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi. Kekurangan hormon ini menyebabkan risiko kematian pada pria yang terinfeksi Covid-19 jadi lebih tinggi.

(mel/chs)


[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari satu tahun Covid-19 menjadi ancaman serius di Indonesia. Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa Covid-19 dikhawatirkan juga bisa berdampak pada organ reproduksi, termasuk menyebabkan disfungsi ereksi.

Sebuah studi yang terbit di National Institutes of Health pada 2021 mengatakan, Covid-19 bisa menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi pria. Namun studi terbaru ini bukan satu-satunya penelitian yang menunjukkan kemungkinan kaitan antara Covid-19 dan gangguan pada sistem reproduksi pria.

Sebuah laporan awal gangguan reproduksi pria telah dilaporkan dalam jurnal National Institute of Health pada 2020 lalu. Diketahui dua orang pasien laki-laki berusia 44 tahun dan 31 tahun yang terinfeksi Covid-19 dan menjalani perawatan di ICU mengalami anorgasmia atau ketidakmampuan untuk mencapai orgasme setelah negatif Covid-19.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski belum ada bukti yang tegas menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 bisa menyerang organ genital, namun para peneliti menduga bahwa Covid-19 bisa turut menginfeksi organ reproduksi.

Studi terbaru menunjukkan pasien Covid-19 laki-laki yang telah sembuh kemungkinan mengalami disfungsi ereksi sebagai konsekuensi dari infeksi virus SARS-CoV-2. Metode yang digunakan adalah penelitian literatur berdasarkan beberapa temuan pada pasien Covid-19 yang dirawat di ICU dan mengalami DE meski telah negatif Covid-19.

Sebagaimana diketahui, virus SARS-CoV-2 masuk dengan menempel pada reseptor ACE-2 di sel tubuh. Reseptor ini terdapat pada sel-sel di sistem saluran pernapasan dan pencernaan.

Menurut studi terbaru, reseptor ACE-2 juga bisa diproduksi pada sel Leydig yang terdapat pada testis. Sehingga virus bisa turut menginfeksi sistem reproduksi pria dan menyebabkan kerusakan pada testis.

Sebagai informasi, sel Leydig membentuk hormonluteinizing(LH) dan menghasilkan testosteron. Studi menunjukkan, ada penurunan rasio pembentukan testosteron pada pasien Covid-19. Selain itu, studi juga menunjukkan ada gangguan pembentukan hormon steroid (steroidogenesis) akibat disfungsi pada testis.

Pemeriksaan jaringan testis pada 12 pasien Covid-19 menunjukkan sel Leydig berkurang secara signifikan. Pemeriksaan itu juga menunjukkan terjadi penumpukan cairan di antara sel (edema) dan peradangan.

Studi: Covid-19 Berisiko Sebabkan Disfungsi Ereksi

Ilustrasi. Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa Covid-19 dikhawatirkan juga bisa berdampak pada organ reproduksi, termasuk menyebabkan disfungsi ereksi. (iStockphoto/Nutshanon Manmuang)

Penelitian yang juga dilakukan pada 31 pasien Covid-19 pria di Italia, mengidentifikasi bahwa pasien mengalami sindrom perkembangan pubertas atau hipogonadisme hipergonadotropik (HH) setelah terinfeksi Covid-19. Kadar testosteron pada 31 penyintas Covid-19 tersebut diketahui menjadi lebih rendah, sehingga berisiko mengganggu perkembangan sistem reproduksinya.

Namun penelitian tersebut belum bisa menjawab berapa lama sindrom HH akan menyerang tubuh. Sindrom tersebut bersifat permanen atau sementara masih belum diketahui.

Meski demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah virus SARS-CoV-2 bisa menyerang sistem reproduksi. Sebab studi tersebut mengatakan, belum ada bukti ditemukannya virus Covid-19 dalam sperma.

Meski dalam penelitian juga mengatakan bahwa disfungsi ereksi bisa terjadi disebabkan berbagai hal seperti tekanan psikologis, gangguan hemodinamik paru, disfungsi endotel, dan berbagai kemungkinan lainnya. Namun Covid-19 dapat memperburuk kondisi kardiovaskular sehingga meningkatkan risiko terkena DE.

Selain itu, hipotesis sementara penelitian menunjukkan bahwa pasien Covid-19 pria lebih berisiko pada pemburukan hingga kematian karena berkurangnya kadar testosteron pada tubuh.

Diketahui testosteron bertindak sebagai modulator dan menekan peradangan dengan meningkatkan kadar sitokin anti inflamasi (IL-10) dan mengurangi kadar sitokin pro-inflamasi. Kekurangan hormon ini menyebabkan risiko kematian pada pria yang terinfeksi Covid-19 jadi lebih tinggi.


HALAMAN:
1 2