Menyoal Disfungsi Ereksi Akibat Covid-19 dan Penyebabnya
CNN Indonesia
Selasa, 13 Jul 2021 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Tanpa disadari, ada ancaman lainnya yang mengintai laki-laki akibat covid-19, yakni disfungsi ereksi. (iStockphoto/Anut21ng)
Jakarta, CNN Indonesia --
Virus Covid-19 diketahui menyerang sistem saluran pernapasan, sehingga menyebabkan sesak napas. Tapi tanpa disadari, ada ancaman lainnya yang mengintai pasien Covid-19 laki-laki, yakni disfungsi ereksi.
Virus SARS-CoV-2 menempel pada reseptor ACE-2 yang ada dalam sel-sel sistem saluran pernapasan dan pencernaan. Tak heran jika beberapa gejala pasien Covid-19 yang ditemukan seperti sesak napas, flu, batuk, gangguan sistem pencernaan seperti diare, sakit perut, mual dan muntah.
Namun tidak hanya itu, ancaman Covid-19 lainnya yakni risiko disfungsi ereksi. Bagaimana Covid-19 memicu disfungsi ereksi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis urologi dan konsultan di RSCM, Nur Rasyid mengatakan gangguan disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 bisa terjadi disebabkan oleh reaksi organik dalam tubuh.
Covid-19 yang menginfeksi paru menyebabkan fungsi paru tidak kembali normal. Akibatnya, kadar oksigen di darah tidak pernah cukup, atau selalu rendah, tidak seperti seseorang yang belum terserang Covid-19.
Kekurangan oksigen secara terus menerus akan mempengaruhi jaringan yang memengaruhi ereksi pada penis terganggu. Sehingga menyebabkan disfungsi ereksi, meski orang tersebut sudah negatif Covid-19.
"Infeksi Covid-19 pada paru itu bisa menyebabkan kerusakan permanen, sehingga risiko terjadinya disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 lebih tinggi," kata Rasyid saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/7).
Ereksi pada penis sendiri dimungkinkan ketika pembuluh darah melebar untuk membiarkan lebih banyak darah mengalir. Begitu darah sampai di penis, tekanan akan membuat darah berdiam diri di dalam korpus kavernosum. Penis akan mengembang dan akhirnya mengeras.
Sementara pada pasien Covid-19, paru-paru menjadi rusak dan berakibat membuat peredaran oksigen dalam darah terganggu. Alhasil, risiko disfungsi ereksi semakin tinggi.
Rasyid mengatakan, kondisi itu serupa seperti orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang memiliki risiko mengalami disfungsi ereksi hingga 80-90 persen. Beberapa PPOK seperti bronkitis, emfisema, atau kerusakan paru lainnya yang menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah.
Namun, Rasyid juga menjelaskan, disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 bisa juga terjadi karena masalah psikis. Stres karena terserang Covid-19, khawatir akan pemburukan, atau bahkan stigma pasien Covid-19, bisa membebani seseorang hingga mengacaukan kepercayaan dirinya. Kondisi ini juga bisa meningkatkan kemungkinan disfungsi ereksi.
"Bisa juga gangguannya lebih dilatarbelakangi oleh psikis, orang habis sakit berat khawatir ini-itu, stres, akibatnya disfungsi ereksi," kata Rasyid.
Dibutuhkan pemeriksaan medis untuk mengetahui apakah penyintas Covid-19 yang mengalami disfungsi ereksi disebabkan karena rusaknya organ paru, atau lebih pada masalah psikis.
"Apalagi kalau pasien masih muda dan tidak punya komorbid, ini kemungkinan karena psikis," ucap Rasyid.
Virus SARS-CoV-2 sendiri belum terbukti bisa menyerang organ reproduksi.
Meski demikian, sebuah studi yang terbit di National Institutes of Health pada 2021 mengatakan reseptor ACE-2 juga bisa diproduksi oleh sel Leydig yang terdapat pada testis. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 pria.
Di Indonesia sendiri, belum dilaporkan kasus disfungsi ereksi pada pasien Covid-19. Data Satgas Covid-19 melaporkan beberapa gejala yang sering ditemukan pada pasien Covid-19 yang sering ditemukan seperti batuk (63,3 persen), riwayat demam (43,1 persen), demam (38 persen), pilek (35,5 persen), lemas (26 persen), sesak napas (23,7 persen), sakit tenggorokan (23,1 persen), sakit kepala (23 persen), dan kram otot (14,9 persen).
Jakarta, CNN Indonesia --
Virus Covid-19 diketahui menyerang sistem saluran pernapasan, sehingga menyebabkan sesak napas. Tapi tanpa disadari, ada ancaman lainnya yang mengintai pasien Covid-19 laki-laki, yakni disfungsi ereksi.
Virus SARS-CoV-2 menempel pada reseptor ACE-2 yang ada dalam sel-sel sistem saluran pernapasan dan pencernaan. Tak heran jika beberapa gejala pasien Covid-19 yang ditemukan seperti sesak napas, flu, batuk, gangguan sistem pencernaan seperti diare, sakit perut, mual dan muntah.
Namun tidak hanya itu, ancaman Covid-19 lainnya yakni risiko disfungsi ereksi. Bagaimana Covid-19 memicu disfungsi ereksi?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis urologi dan konsultan di RSCM, Nur Rasyid mengatakan gangguan disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 bisa terjadi disebabkan oleh reaksi organik dalam tubuh.
Covid-19 yang menginfeksi paru menyebabkan fungsi paru tidak kembali normal. Akibatnya, kadar oksigen di darah tidak pernah cukup, atau selalu rendah, tidak seperti seseorang yang belum terserang Covid-19.
Kekurangan oksigen secara terus menerus akan mempengaruhi jaringan yang memengaruhi ereksi pada penis terganggu. Sehingga menyebabkan disfungsi ereksi, meski orang tersebut sudah negatif Covid-19.
"Infeksi Covid-19 pada paru itu bisa menyebabkan kerusakan permanen, sehingga risiko terjadinya disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 lebih tinggi," kata Rasyid saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/7).
Ereksi pada penis sendiri dimungkinkan ketika pembuluh darah melebar untuk membiarkan lebih banyak darah mengalir. Begitu darah sampai di penis, tekanan akan membuat darah berdiam diri di dalam korpus kavernosum. Penis akan mengembang dan akhirnya mengeras.
Sementara pada pasien Covid-19, paru-paru menjadi rusak dan berakibat membuat peredaran oksigen dalam darah terganggu. Alhasil, risiko disfungsi ereksi semakin tinggi.
Rasyid mengatakan, kondisi itu serupa seperti orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang memiliki risiko mengalami disfungsi ereksi hingga 80-90 persen. Beberapa PPOK seperti bronkitis, emfisema, atau kerusakan paru lainnya yang menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah.
Alasan Lain Disfungsi Ereksi
Ilustrasi. Tanpa disadari, ada ancaman lainnya yang mengintai laki-laki akibat covid-19, yakni disfungsi ereksi. (iStockphoto/Business)
Namun, Rasyid juga menjelaskan, disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 bisa juga terjadi karena masalah psikis. Stres karena terserang Covid-19, khawatir akan pemburukan, atau bahkan stigma pasien Covid-19, bisa membebani seseorang hingga mengacaukan kepercayaan dirinya. Kondisi ini juga bisa meningkatkan kemungkinan disfungsi ereksi.
"Bisa juga gangguannya lebih dilatarbelakangi oleh psikis, orang habis sakit berat khawatir ini-itu, stres, akibatnya disfungsi ereksi," kata Rasyid.
Dibutuhkan pemeriksaan medis untuk mengetahui apakah penyintas Covid-19 yang mengalami disfungsi ereksi disebabkan karena rusaknya organ paru, atau lebih pada masalah psikis.
"Apalagi kalau pasien masih muda dan tidak punya komorbid, ini kemungkinan karena psikis," ucap Rasyid.
Virus SARS-CoV-2 sendiri belum terbukti bisa menyerang organ reproduksi.
Meski demikian, sebuah studi yang terbit di National Institutes of Health pada 2021 mengatakan reseptor ACE-2 juga bisa diproduksi oleh sel Leydig yang terdapat pada testis. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi disfungsi ereksi pada pasien Covid-19 pria.
Di Indonesia sendiri, belum dilaporkan kasus disfungsi ereksi pada pasien Covid-19. Data Satgas Covid-19 melaporkan beberapa gejala yang sering ditemukan pada pasien Covid-19 yang sering ditemukan seperti batuk (63,3 persen), riwayat demam (43,1 persen), demam (38 persen), pilek (35,5 persen), lemas (26 persen), sesak napas (23,7 persen), sakit tenggorokan (23,1 persen), sakit kepala (23 persen), dan kram otot (14,9 persen).