Studi: Kurang Tidur Rentan Picu Disfungsi Seksual Perempuan

tim, CNN Indonesia | Jumat, 30/04/2021 23:15 WIB
North Korean leader Kim Jong Un attends a ceremony upon his departure from Russia, outside the railway station in the far-eastern Russian port of Vladivostok on April 26, 2019. (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP) Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, perempuan yang tidur kurang dari lima jam dalam semalam lebih mungkin melaporkan masalah seksual. (iStockphoto/estefanamer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kualitas tidur yang buruk ditemukan memengaruhi kualitas kehidupan seksual. Studi terbaru menemukan, kurang tidur pada perempuan rentan memicu disfungsi seksual.

Faktanya, studi menemukan, perempuan yang kurang tidur hampir dua kali lebih mungkin melaporkan masalah-masalah seksual, seperti kurangnya minat terhadap hubungan seks.

Sebaliknya, studi yang diterbitkan dalam The Journal of the North American Menopause Society ini menemukan bahwa kualitas tidur yang baik meningkatkan aktivitas seksual.


Hasil ini, menurut para peneliti, harus menjadi gambaran untuk para dokter agar mulai menanyakan pasien soal kebiasaan tidur dan fungsi seksual.

"Tidur mungkin akan sangat mudah untuk ditanyakan. Kurang tidur dikaitkan dengan begitu banyak dampak negatif. Jika dia tidak tidur nyenyak, maka mungkin saja ada yang salah dengan fungsi seksualnya," ujar penulis studi, Stephani Faubion, melansir CNN.

Studi ini melibatkan lebih dari 3.400 perempuan sebagai responden. Mereka diminta mengisi kuesioner tentang kualitas tidur antara Desember 2016-September 2019.

Peserta juga menjalani evaluasi klinis untuk disfungsi seksual. Mereka diminta untuk menilai secara mandiri tingkat kehidupan seks masing-masing.

Hasilnya, perempuan yang kurang tidur kurang dari lima jam dalam semalam lebih mungkin melaporkan masalah seksual.

Namun, bukan hanya perempuan yang rentan disfungsi seksual akibat kurang tidur. Pria juga memiliki risiko yang sama,

Studi tahun 2009 menemukan, gangguan tidur seperti sleep apnea, dapat berpengaruh terhadap fungsi seksual pria. Tidur yang terganggu juga ditemukan meningkatkan risiko disfungsi ereksi.

Di sisi lain, ada sejumlah alasan bahwa hubungan seks yang baik terkait dengan kualitas tidur yang lebih baik. Orgasme tak hanya membuat tubuh rileks yang dapat memicu tidur, tapi juga meningkatkan hormon tertentu yang membantu perempuan dan laki-laki tertidur setelah berhubungan seks.

Pada perempuan, misalnya, kadar estrogen meningkat setelah orgasme. Meningkatnya kadar estrogen dapat meningkatkan siklus REM dan membuat tidur jadi lebih nyenyak.

Sementara pada pria, orgasme meningkatkan produksi hormon prolaktin yang mendorong gelombang tidur.

(asr/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK