Berkenalan dengan Tiwie, Si Pemakan Cokelat Profesional

Agniya Khoiri | CNN Indonesia
Rabu, 11 Agu 2021 08:05 WIB
Seorang Chef dari Bali, Ida Ayu Pratiwisari Pidada baru-baru ini memperoleh gelar sebagai pemakan cokelat profesional. Apa tugasnya? Seorang Chef dari Bali,Ida Ayu Pratiwisari Pidada baru-baru ini memperoleh gelar sebagai pemakan cokelat profesional. Apa tugasnya? (dok. Arsip Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau Anda mendambakan punya pekerjaan yang bisa makan enak setiap saat lalu dibayar, mungkin Anda bisa menjadi seorang pemakan cokelat profesional bersertifikat. 

Pekerjaan impian ini digeluti oleh seorang chef dari Bali, Ida Ayu Pratiwisari Pidada. Namun soal predikat sebagai pencicip cokelat profesional pertama di Indonesia, dia masih belum bisa memastikannya. 

"Saya sendiri enggak bisa memastikan, tapi belum pernah ketemu yang lain," ucap perempuan yang disapa Tiwie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com. 

Selama beberapa bulan terakhir, Tiwie ini menyandang gelar Professional Chocolate Sensory Analyst, atau dapat diartikan sebagai pemakan atau pencicip cokelat profesional.

Namun, benarkah tugasnya hanya sekadar makan cokelat tapi dapat bayaran?

Secara definisi, Tiwie tentu saja mengamini kalau pekerjaan seorang pemakan cokelat profesional dapat disebut demikian.

Namun menelisik dari apa yang dikerjakannya, ini tidak hanya sekadar makan cokelat, lalu menentukan enak atau tidak.

"Makan cokelat sih ya, tapi sebenarnya kami mencicipi cokelat lalu mencari cacatnya, mencari apa yang tidak boleh ada di dalam cokelat artisan. Kemudian, menentukan kualitas dan melakukan penilaian," katanya.

Perempuan berdarah Bali ini kemudian menjelaskan bahwa meski terdengar asing, profesi yang ditekuninya sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan Q Grader soal kopi dan Sommelier dalam hal wine. Yang berbeda, objeknya adalah cokelat.

Penilaiannya pun bukan mencari enak atau tidak, tapi kualitas terbaik untuk bisa disebut sebagai cokelat artisan.

Cokelat artisan merupakan istilah yang mengacu pada cokelat yang dibuat oleh perajin, umumnya memiliki jumlah kakao yang lebih tinggi dan punya cita rasa yang lebih kaya.

Sementara, cokelat yang banyak beredar di pasaran dikategorikan sebagai permen cokelat karena rasa yang dimiliki cenderung hanya manis saja.

Menurut Tiwie, untuk mendapatkan kualitas cokelat artisan, ada 10 atribut yang perlu dianalisa oleh seorang Professional Chocolate Sensory Analyst, seperti dirinya.

Beberapa di antaranya termasuk intensitas (terbagi dalam tiga bagian: high, middle, dan low intensity), kemudian ada pula penilaian dari segi flavour, aroma, fragrance, mouthfeel, acidity, astringent, dan sebagainya.

"Bukan cari enak enggak enak, jadi mencari apakah dalam cokelat yang kami cicip ada hal-hal yang seharusnya tidak ada dalam cokelat artisan. Ada banyak cokelat yang banyak cacatnya, entah kegagalan dari bahan baku, prosesnya, atau bisa dari pengemasan yang terkontaminasi," tutur Tiwie.



Jika mendapat hasil yang terbaik, cokelat artisan ini memiliki cita rasa yang memuaskan.

"Kalau makan chocolate artisan banyak sekali rasa yang bisa muncul. Mirip seperti specialty coffee atau wine, terutama kalau makannya yang dark chocolate," katanya.

"Itu enggak cuma ada rasa manis tapi pahitnya cokelat itu pleasant bitterness, dia pahit tapi menyenangkan. Dan manisnya itu enggak tok gula."

Beberapa rasa yang dapat muncul antara lain jeruk, beri, madu, bahkan rempah seperti jahe, serta kopi.

Kekayaan rasa ini, dikatakan Tiwie, muncul berkat sejumlah proses dari cara penanaman, memanen, fermentasi, pengolahan, hingga pengemasan.

Simak kelanjutan kisah Tiwie menggeluti dunia percokelatan di halaman berikut.

Tiwie Wonka dan mimpi bangun Belgia-nya Asia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER