pandemi mempengaruhi kesehatan mental pekerja seperti meningkatkan stres, burnout, kecemasan, bahkan depresi. Cuti bisa jadi solusi untuk mengatasi hal-hal tersebut.(Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pandemi Covid-19 membuat para pekerja berpikir dua kali untuk ambil cuti. Pasalnya, cuti yang identik dengan pergi berlibur kini tak bisa dilakukan karena virus corona.
Namun, cuti tak melulu menyoal realisasi rencana bepergian. Cuti bisa dilakukan untuk rehat sejenak dari pekerjaan kantor seperti me time di rumah, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang tersayang.
Psikolog klinis Desi Wulansari menuturkan kondisi pandemi mempengaruhi kesehatan mental pekerja seperti meningkatkan stres, burnout, kecemasan, bahkan depresi. Cuti bisa jadi solusi untuk mengatasi hal-hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pandemi ini jadi stressor. Ada ketakutan, ketidakpastian kapan kondisi normal, juga penyesuaian dengan kondisi baru. Enggak cuma penyakit, tapi juga banyak konsekuensi gangguan psikologis yang muncul," kata Desi dalam gelaran CNN Health, Jumat (20/8).
Menurut Desi, tanda yang jelas terlihat adalah yang berkaitan dengan performa kerja. Anda perlu cuti saat segala sesuatu berkaitan dengan performa kerja menurun. Misalnya, tidak bisa memenuhi deadline padahal biasanya pekerjaan selesai tepat waktu, hasil kerja kurang maksimal, kesulitan bekerja sama dengan rekan kerja.
"Kita harus tahu, ada yang 180 derajat berbeda dengan situasi biasanya. Ada perubahan pola kerja yang cukup drastis. Kemudian secara sosial jadi enggak nyaman pas kerja dengan yang lain," kata Desi yang saat ini bertugas di Wisma Atlet menangani pasien Covid-19.
2. Susah tidur
Masalah tidur atau bangun dalam kondisi cemas soal pekerjaan merupakan salah satu tanda stres. Saat kualitas dan kuantitas tidur menurun, aktivitas bekerja dan di rumah pun bisa terbengkalai.
Sebaiknya ambil jeda dengan istirahat atau mengambil cuti. Perbaiki pola tidur agar kesehatan fisik maupun mental membaik.
Stres juga ditandai dengan menjadi lebih reaktif atau mudah marah dari biasanya. Jika emosi mulai tak terkendali, ini saatnya untuk ambil cuti dan menenangkan diri.
"Jika seseorang merasa kewalahan atau terbebani, mereka cenderung lebih mudah marah. Jika mereka meledak, mereka mulai mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak terhubung seperti biasanya," kata terapis JF Benoist dikutip dari dari Eat This.
Simak 7 tanda Anda perlu ambil cuti dari kantor di halaman berikut.
4. Kerap membuat kesalahan
Tubuh lelah akan membuat sulit konsentrasi, sehingga cenderung membuat lebih banyak kesalahan. Misalnya, lebih banyak salah ketik pada email, atau kesalahan memasukkan data pelanggan.
Saat terlalu banyak membuat kesalahan, berarti saatnya memberikan diri kesempatan istirahat.
5. Berat badan naik
Berat badan naik bisa menandakan Anda perlu cuti. Berat badan yang naik dikaitkan dengan kenaikan tingkat stres.
Stres memicu hormon kortisol yang membuat metabolisme melambat dan perasaan lapar pun meningkat sehingga makan lebih banyak. Stres juga membuat orang malas berolahraga.
"Saat kortisol naik metabolisme kita lambat dan rasa lapar meningkat," kata praktisi olahraga Alex Tauberg.
Kehilangan motivasi dan semangat saat bekerja juga jadi tanda Anda butuh cuti dari kantor. Tanda-tanda kehilangan motivasi meliputi malas bekerja, menunda bangun meski alarm sudah berbunyi, banyak menarik napas panjang, dan kerap menghitung hari menuju akhir pekan.
Segera ambil cuti untuk mengingat atau menumbuhkan kembali motivasi Anda.
7. 'Doping' yang tak sehat
Tuntutan kerja yang tinggi sering kali membuat orang mencari cara untuk bisa lebih semangat atau rileks dari segala tekanan. Misalnya menggunakan 'doping' yang tak sehat seperti alkohol dan obat tidur.
"Ini adalah indikator jelas bahwa Anda perlu istirahat dari kerja," kata ahli kesehatan mental Ray Sadoun.
Itulah tanda Anda perlu cuti dari kantor. Isi cuti Anda dengan kegiatan yang menyenangkan dan meredakan stres.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pandemi Covid-19 membuat para pekerja berpikir dua kali untuk ambil cuti. Pasalnya, cuti yang identik dengan pergi berlibur kini tak bisa dilakukan karena virus corona.
Namun, cuti tak melulu menyoal realisasi rencana bepergian. Cuti bisa dilakukan untuk rehat sejenak dari pekerjaan kantor seperti me time di rumah, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang tersayang.
Psikolog klinis Desi Wulansari menuturkan kondisi pandemi mempengaruhi kesehatan mental pekerja seperti meningkatkan stres, burnout, kecemasan, bahkan depresi. Cuti bisa jadi solusi untuk mengatasi hal-hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pandemi ini jadi stressor. Ada ketakutan, ketidakpastian kapan kondisi normal, juga penyesuaian dengan kondisi baru. Enggak cuma penyakit, tapi juga banyak konsekuensi gangguan psikologis yang muncul," kata Desi dalam gelaran CNN Health, Jumat (20/8).
Menurut Desi, tanda yang jelas terlihat adalah yang berkaitan dengan performa kerja. Anda perlu cuti saat segala sesuatu berkaitan dengan performa kerja menurun. Misalnya, tidak bisa memenuhi deadline padahal biasanya pekerjaan selesai tepat waktu, hasil kerja kurang maksimal, kesulitan bekerja sama dengan rekan kerja.
"Kita harus tahu, ada yang 180 derajat berbeda dengan situasi biasanya. Ada perubahan pola kerja yang cukup drastis. Kemudian secara sosial jadi enggak nyaman pas kerja dengan yang lain," kata Desi yang saat ini bertugas di Wisma Atlet menangani pasien Covid-19.
2. Susah tidur
Masalah tidur atau bangun dalam kondisi cemas soal pekerjaan merupakan salah satu tanda stres. Saat kualitas dan kuantitas tidur menurun, aktivitas bekerja dan di rumah pun bisa terbengkalai.
Sebaiknya ambil jeda dengan istirahat atau mengambil cuti. Perbaiki pola tidur agar kesehatan fisik maupun mental membaik.
Stres juga ditandai dengan menjadi lebih reaktif atau mudah marah dari biasanya. Jika emosi mulai tak terkendali, ini saatnya untuk ambil cuti dan menenangkan diri.
"Jika seseorang merasa kewalahan atau terbebani, mereka cenderung lebih mudah marah. Jika mereka meledak, mereka mulai mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak terhubung seperti biasanya," kata terapis JF Benoist dikutip dari dari Eat This.
Simak 7 tanda Anda perlu ambil cuti dari kantor di halaman berikut.
7 Tanda Anda Perlu Ambil Cuti dari Kantor
Salah satu tanda perlu cuti adalah kerap membuat kesalahan saat bekerja.(Foto: iStockphoto)
4. Kerap membuat kesalahan
Tubuh lelah akan membuat sulit konsentrasi, sehingga cenderung membuat lebih banyak kesalahan. Misalnya, lebih banyak salah ketik pada email, atau kesalahan memasukkan data pelanggan.
Saat terlalu banyak membuat kesalahan, berarti saatnya memberikan diri kesempatan istirahat.
5. Berat badan naik
Berat badan naik bisa menandakan Anda perlu cuti. Berat badan yang naik dikaitkan dengan kenaikan tingkat stres.
Stres memicu hormon kortisol yang membuat metabolisme melambat dan perasaan lapar pun meningkat sehingga makan lebih banyak. Stres juga membuat orang malas berolahraga.
"Saat kortisol naik metabolisme kita lambat dan rasa lapar meningkat," kata praktisi olahraga Alex Tauberg.
Kehilangan motivasi dan semangat saat bekerja juga jadi tanda Anda butuh cuti dari kantor. Tanda-tanda kehilangan motivasi meliputi malas bekerja, menunda bangun meski alarm sudah berbunyi, banyak menarik napas panjang, dan kerap menghitung hari menuju akhir pekan.
Segera ambil cuti untuk mengingat atau menumbuhkan kembali motivasi Anda.
7. 'Doping' yang tak sehat
Tuntutan kerja yang tinggi sering kali membuat orang mencari cara untuk bisa lebih semangat atau rileks dari segala tekanan. Misalnya menggunakan 'doping' yang tak sehat seperti alkohol dan obat tidur.
"Ini adalah indikator jelas bahwa Anda perlu istirahat dari kerja," kata ahli kesehatan mental Ray Sadoun.