CELOTEH WISATA

Berburu 'Hidden Gems' Lezat dari Dalam Gang Indonesia

Yulia Adiningsih | CNN Indonesia
Minggu, 05 Sep 2021 08:18 WIB
Berburu 'Hidden Gems' Lezat dari Dalam Gang Indonesia
Ilustrasi. Ada banyak tempat makan legendaris di Indonesia yang lahir dari dalam gang, asalkan kita mau melangkahkan kaki menyusuri ke dalamnya. (iStockphoto/chpua)

Jangan takut tersesat

Selain nilai historis, ada juga faktor kekhasan suatu wisata kuliner dalam gang yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Salah satunya makanan khas Singkawang.

Ade Putri, yang dikenal sebagai seorang culinary storyteller, juga punya rekomendasi tempat makan khas Singkawang di dalam gang yang enak. Ia juga menyebut tempat makan ini hanya satu-satunya di Jakarta. Jadi sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

"Apa ada makanan khas Singkawang di daerah lain non-gang di Jakarta?" ucapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanan itu bisa ditemukan di Gang Krendang, Jakarta Barat. Menunya beragam, ada Bubur Singkawang, Bubur Pedah, nasi babi, mie sampai pengkang.

[Gambas:Instagram]

Astrid Enricka Dhita, pegiat kuliner yang juga pengurus Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI), juga mengaku sering menjajal kuliner di gang.

Dalam mengisi waktu luangnya, ia seringkali melakukan perjalanan acak ke gang-gang kecil. Tak jarang keisengan itu mengantarkannya pada makanan-makanan gang yang lezat.

Suatu hari ia pernah datang ke Gang Mangga di Jl. Kemurnian IV, Taman Sari, Kota Jakarta Barat. Di situ ia menemukan bakmi yang enak, Bakmi Aheng. Pemiliknya bernama Ahok, orangnya ramah.

Tempat makannya berbentuk tenda. Namun, suasana di tempat makan itu sangat akrab.

"Kayak everybody knows everybody," ucapnya. Saat masuk ke tempat makannya, air liur di mulutnya seakan sudah tak tahan.

"Saya yang mencium rasa, aroma bakminya memang enak banget," kata Astrid.

Benar saja. Ketika ia menyuapkan bakmi itu ke mulutnya, ia serasa tak ingin menyisakannya.

Rasa dan suasana makan Bakmi Ahok ini sangat berkesan bagi Astrid. Sampai-sampai ia meminta kontak sang pemilik warung bakmi.

"Supaya jika next time kami ke sana lagi, saya dan teman-teman ke sana, akan booking tempat lah," ucapnya.

Sekitar 100-200 meter dari Bakmi Aheng, Astrid juga menemukan bakmi yang tak kalah enaknya yaitu Bakmi Gang Mangga. Namun, bakmi ini lebih mahal dari pada Bakmi Aheng.

Di perjalanan antara Museum Bank Mandiri menuju Jalan Kemurinia, kawasan Pancoran, Jakarta Barat, Astrid menemukan Pempek Eirin 10 Ulu.

"Seinget saya, Pempek 10 ulu Eirin itu cuko-nya lumayan nampol. Asemnya ada, sambelnya juga ada. Jadi rasanya enggak malu-malu dan lumayan berkesan," ucapnya.

[Gambas:Instagram]



Dari Jakarta, Astrid pindah ke Bogor. Menjajal makanan yang ada di gang-gang di sana. Salah satunya adalah Gang Awut di sekitar Pasar Suryakencana.

"Kalau keluar dari pasar gila deh jajanannya," celetuknya.

Makanan pertama yang Astrid coba adalah Toge Goreng Ibu Evon. Toge itu dibungkus dengan patat, daun yang mirip dengan daun kunyit, tapi dia lebih solid.

Meski namanya toge goreng, namun sebenarnya toge itu tidak digoreng.

"Dia itu basically di-stir fry (ditumis) namun memakai air," ucapnya.

Selain itu, di gang ini juga ada lumpia basah. Menurutnya, lumpia itu salah satu yang terbaik karena dimasak dadakan.

"Saya itu memang penikmat makanan yang makanannya bisa dibuat di depan mata," ucapnya.

Toge itu ditumis-tumis, goreng-goreng, dibungkus lah itu dengan kulitnya.

"Terus dimakan dengan sumpit. Oh My God! The best!" seru Astrid.

Kejutan-kejutan itu lah yang membuat Astrid selalu ketagihan untuk menjajal wisata kuliner di dalam gang.

"Let's get lost. Apapun yang kita temukan dan sekiranya menarik, langsung saja dicoba. Itu pengalaman terbaik. Dan yang penting kita harus berusaha akrab dengan penjualnya," pungkasnya.

(ard)


[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Rasanya kini butuh waktu lebih lama untuk urusan mengisi perut, karena ada banyak tempat makan menarik yang menjual rasa, konsep, sampai sejarah.

Biasanya sebelum datang ke sebuah tempat makan, orang-orang akan melihat artikel ulasan mengenai tempat makan tersebut. Semakin tinggi ratingnya, kemungkinan semakin enak. Apalagi yang sudah pernah dicicipi oleh food blogger.

Tapi kebahagiaan tak selalu bisa dipukul rata dengan harga atau ulasan. Bagi pegiat kuliner Kevindra Prianto Soemantri misalnya, wisata kuliner di gang kecil juga memberinya kepuasan tersendiri, tak kalah dengan pengalaman makan di restoran berbintang Michelin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menyusuri gang kecil bagi Kevin sama dengan menyusuri kuliner Indonesia. Sebab, sejarah kuliner sendiri tak dapat dipisahkan dari gang.

Setiap gang bisa melahirkan suatu makanan yang berbeda-beda, yang kita kenal sekarang sebagai street food alias jajanan kaki lima. Inilah, kata Kevin, yang membedakan kuliner di Eropa dan Asia, terutama Indonesia.

"Kalau kita ke luar negeri, ke Eropa misalnya, hanya ada beberapa kuliner yang bisa ditemukan di dalam gang. Tapi kalau budaya Asia sangat kental sekali," kata Kevin saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com pada beberapa waktu yang lalu.

Kevin menuturkan, kuliner yang lahir dari gang kecil awalnya biasanya dibuat untuk konsumsi komunitas sekitar, bukan disengaja agar terkenal. Sehingga umumnya makanan di gang adalah makanan khas rumahan.

Selain soal rasa, suasana wisata kuliner dari dalam gang biasanya memberikan pengalaman yang unik.

"Suasana guyubnya. Tak perlu dibandingkan dengan restoran yang ada di dalam mal, suasana guyub saat wisata kuliner di dalam gang itu lebih terasa," ungkapnya.

Pembawa acara 'Street food: Asia' episode 'Yogyakarta, Indonesia' di Netflix itu memberikan rekomendasi sederet gang yang kaya akan kulinernya. Mari mulai dari Ibu Kota Jakarta, dari yang paling umum yaitu Gang Gloria.

Gang Gloria ada di sekitar Pasar Petak Sembilan, kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Gangnya tidak terlalu panjang, mungkin 150 meter saja tidak akan sampai. Bisa dijajal dengan jalan kaki tanpa khawatir kaki pegal-pegal.

Makanan yang paling direkomendasikan Kevin di sini adalah Kopi Es Tak Kie, Soto Betawi Afung, ayam kalasan dan Kari Lam.

"Kari Medan yang memang khas, kuahnya gulainya gulai Melayu. Bukan gulai India, ini gulai peranakan," ucapnya.

Untuk pecinta kuliner berbahan babi, juga bisa memesan makanan olahan seperti sate dan bakmi. Ada dua bakmi yang terkenal yaitu, bakmi Sasak dan Amoy.

[Gambas:Instagram]



Bergeser ke dekat Pasar Jatinegara, tepatnya di Gang Banten. Ia menyebut, tempat makan di gang itu adalah hidden gems.

Di Gang Banten ini, Kevin menemukan menu Pindang Betawi yang menurutnya terenak di Jakarta. Nama tempat makannya Warung Pojok Ibu Suro.

Menurutnya, masih banyak orang yang belum tahu menu pindang tersebut karena pengunjungnya masih warga sekitar. Padahal, rasanya sangat nikmat.

"Itu legit, pedes, manis, asem. Itu makan kuah sama nasinya mata merem melek. Gak pernah ada diekspos di mana-mana. Itu yang menurut saya harus dicoba. Itu wajib," ucap Kevin bersemangat.

Selain rasanya yang nikmat, tempat makan di gang ini juga menyenangkan. Selama makan di sana Kevin memperhatikan, pemilik tempat makan itu ramah tidak pandang bulu. Siapa pun dilayani dengan baik dengan gaya santai.

[Gambas:Instagram]



Mari pindah ke Sumatera. Kevin menyebut gang-gang kuliner di Sumatera juga tak kalah recomended. Terutama di daerah-daerah pecinan di Medan.

Ada Gang Buntu dan Bantul. Di sana ada ada Sate Memeng, menu sate yang sudah ada sejak tahun 1945. Nama sate itu diambil dari nama panggilan sang peracik awal, yaitu Muhammad Saimin alias Memeng.

Potongan dagingnya terkenal tebal dan bumbunya yang meresap rata. Rasanya sedikit manis dan ada sensasi pedas dari cabai, bawang dan merica.

Pindah ke Pulau Bali. Di sana, kata Kevin, ada Gang Arjuna. Makanan yang dapat disantap salah satunya yaitu Ayam Betutu Pak Assanur.

Saat makan di sana Kevin merasakan atmosfer kekeluargaan. Sebab, masakan itu dibuat di depan rumah pemiliknya.

"Kayak kita bertamu ke rumah dia," ucapnya.

Penulis 'Jakarta a Dining History' itu mengatakan, kuliner gang di Indonesia tak akan pernah mati meskipun ribuan tempat makan baru bermunculan. Kuliner yang populer dari dalam gang punya nilai historis sendiri.

"Kita ngomongin aspek yang legendaris ya. Ngomongin sesuatu yang udah ikonik, itu yang akan terus terjaga," ucapnya.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Berburu 'Hidden Gems' Lezat dari Dalam Gang Indonesia

Ilustrasi. Ada banyak tempat makan legendaris di Indonesia yang lahir dari dalam gang, asalkan kita mau melangkahkan kaki menyusuri ke dalamnya. (iStockphoto/chpua)

Jangan takut tersesat

Selain nilai historis, ada juga faktor kekhasan suatu wisata kuliner dalam gang yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Salah satunya makanan khas Singkawang.

Ade Putri, yang dikenal sebagai seorang culinary storyteller, juga punya rekomendasi tempat makan khas Singkawang di dalam gang yang enak. Ia juga menyebut tempat makan ini hanya satu-satunya di Jakarta. Jadi sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

"Apa ada makanan khas Singkawang di daerah lain non-gang di Jakarta?" ucapnya.

Makanan itu bisa ditemukan di Gang Krendang, Jakarta Barat. Menunya beragam, ada Bubur Singkawang, Bubur Pedah, nasi babi, mie sampai pengkang.

[Gambas:Instagram]

Astrid Enricka Dhita, pegiat kuliner yang juga pengurus Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI), juga mengaku sering menjajal kuliner di gang.

Dalam mengisi waktu luangnya, ia seringkali melakukan perjalanan acak ke gang-gang kecil. Tak jarang keisengan itu mengantarkannya pada makanan-makanan gang yang lezat.

Suatu hari ia pernah datang ke Gang Mangga di Jl. Kemurnian IV, Taman Sari, Kota Jakarta Barat. Di situ ia menemukan bakmi yang enak, Bakmi Aheng. Pemiliknya bernama Ahok, orangnya ramah.

Tempat makannya berbentuk tenda. Namun, suasana di tempat makan itu sangat akrab.

"Kayak everybody knows everybody," ucapnya. Saat masuk ke tempat makannya, air liur di mulutnya seakan sudah tak tahan.

"Saya yang mencium rasa, aroma bakminya memang enak banget," kata Astrid.

Benar saja. Ketika ia menyuapkan bakmi itu ke mulutnya, ia serasa tak ingin menyisakannya.

Rasa dan suasana makan Bakmi Ahok ini sangat berkesan bagi Astrid. Sampai-sampai ia meminta kontak sang pemilik warung bakmi.

"Supaya jika next time kami ke sana lagi, saya dan teman-teman ke sana, akan booking tempat lah," ucapnya.

Sekitar 100-200 meter dari Bakmi Aheng, Astrid juga menemukan bakmi yang tak kalah enaknya yaitu Bakmi Gang Mangga. Namun, bakmi ini lebih mahal dari pada Bakmi Aheng.

Di perjalanan antara Museum Bank Mandiri menuju Jalan Kemurinia, kawasan Pancoran, Jakarta Barat, Astrid menemukan Pempek Eirin 10 Ulu.

"Seinget saya, Pempek 10 ulu Eirin itu cuko-nya lumayan nampol. Asemnya ada, sambelnya juga ada. Jadi rasanya enggak malu-malu dan lumayan berkesan," ucapnya.

[Gambas:Instagram]



Dari Jakarta, Astrid pindah ke Bogor. Menjajal makanan yang ada di gang-gang di sana. Salah satunya adalah Gang Awut di sekitar Pasar Suryakencana.

"Kalau keluar dari pasar gila deh jajanannya," celetuknya.

Makanan pertama yang Astrid coba adalah Toge Goreng Ibu Evon. Toge itu dibungkus dengan patat, daun yang mirip dengan daun kunyit, tapi dia lebih solid.

Meski namanya toge goreng, namun sebenarnya toge itu tidak digoreng.

"Dia itu basically di-stir fry (ditumis) namun memakai air," ucapnya.

Selain itu, di gang ini juga ada lumpia basah. Menurutnya, lumpia itu salah satu yang terbaik karena dimasak dadakan.

"Saya itu memang penikmat makanan yang makanannya bisa dibuat di depan mata," ucapnya.

Toge itu ditumis-tumis, goreng-goreng, dibungkus lah itu dengan kulitnya.

"Terus dimakan dengan sumpit. Oh My God! The best!" seru Astrid.

Kejutan-kejutan itu lah yang membuat Astrid selalu ketagihan untuk menjajal wisata kuliner di dalam gang.

"Let's get lost. Apapun yang kita temukan dan sekiranya menarik, langsung saja dicoba. Itu pengalaman terbaik. Dan yang penting kita harus berusaha akrab dengan penjualnya," pungkasnya.


HALAMAN:
1 2