Susur Sejarah 'Leiding' Jadi 'Ledeng' di Gedong Cai Tjibadak

CNN Indonesia | Senin, 27/09/2021 11:50 WIB
Dari Gedong Cai Tjibadak kita bisa belajar bahwa dulu Indonesia kaya akan air bersih. Ilustrasi. Dari Gedong Cai Tjibadak kita bisa belajar bahwa dulu Indonesia kaya akan air bersih. (LifeofPix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di Kota Bandung, ada sebuah bangunan tua peninggalan kolonial yang berfungsi menyalurkan air bersih. Namanya Gedong Cai Tjibadak, yang berlokasi di Jalan Cidadap Girang, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap.

Dalam rangka Hari Sungai Sedunia, pada Minggu (26/9) Komunitas Cai menggelar kegiatan susur sungai dari mata air di kawasan Ledeng. Hari Sungai Sedunia sendiri diperingati setiap tahun pada hari Minggu keempat bulan September.

Ada belasan peserta yang mengikuti kegiatan ini. Bagi Komunitas Cai yang diinisiasi warga RW 05, Kelurahan Ledeng, peringatan Hari Sungai Sedunia tahun ini adalah upaya menumbuhkan rasa cinta merawat sungai beserta ekosistem yang ada.


Mereka mengikuti kegiatan susur jalur air dengan menyusuri Jalan Sersan Surip, sebuah jalan kecil di belakang terminal Ledeng hingga ke Kampung Babakan di sebelah timur.

Dari Kampung Babakan, para peserta kemudian memasuki kawasan semi hutan yang sebagian lahannya diolah warga untuk berladang.

Tak hanya itu, peserta juga dibawa melintasi hutan dengan pohon-pohon lebat, ladang berundak-undak, dan jalan setapak yang masih tanah.

Bahkan, mereka ikut menyusuri jalur Sungai Cipaganti yang bersumber dari berbagai mata air yang berada di kawasan Ledeng.

Di kawasan semi-hutan inilah sejarah Ledeng bermula. Terdapat sebuah mata air yang sudah dipelihara Belanda sejak tahun 1921 alias satu abad yang lalu. Namanya, Gedong Cai Tjibadak.

Menurut warga asli sekitar Gedong Cai, asal usul kawasan yang kini dikenal dengan nama Ledeng ini mulanya bernama Kampung Cibadak.

Adapun nama Cibadak secara epistemologi berarti Cai Badag atau air yang melimpah.

Pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa ketika itu, menjadikan sumber mata air yang melimpah dari tempat ini dibendung dengan mendirikan bangunan pelindung mirip benteng.

Di Kota Bandung, ada sebuah bangunan tua peninggalan kolonial yang berfungsi menyalurkan air bersih. Namanya Gedong Cai Tjibadak yang berlokasi di Jalan Cidadap Girang, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap.Bangunan Gedong Cai Tjibadak. (CNN Indonesia/ Huyogo

Fungsi bangunan sendiri untuk menyadap air dari mata air kemudian dialirkan melalui saluran pipa besar yang ditanam di dalam tanah. Bangunan pelindung itulah yang kemudian dikenal dengan nama Gedong Cai.

Adapun pipa-pipa saluran air menjadi cikal bakal nama 'ledeng' yang diambil dari bahasa Belanda, 'leiding'.

Selain untuk mengaliri kebutuhan air ke seluruh kota dan perkebunan, pembangunan ini juga bertujuan dalam rangka mempersiapkan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda.

"Gedong Cai Tjibadak adalah bangunan zaman Belanda yang pembangunannya banyak dibantu sama orang pribumi. Dulu, ada yang merawatnya namanya Mbah Eman," kata Budi Nugraha, pegiat Komunitas Cai yang juga pemuda RW 05 Cidadap Girang.

Gedong Cai Tjibadak di masa awal mampu mengalirkan debit air 50 liter per detik. Kapasitas tersebut mampu memenuhi hampir 80 persen kebutuhan air masyarakat Kota Bandung saat itu.

Namun, kini hanya tersisa 19 liter per detik. Penurunan signifikan ini dipicu oleh minimnya resapan air dampak dari pembangunan di Ledeng dan sekitarnya.

"Sekarang bangunan ini jadi aset PDAM. Tapi debit airnya kecil karena banyak pembangunan. Kalau dulu bisa mengalir sampai Badaksinga, sekarang ini cuma mengaliri sampai Cipaganti," ujar Budi.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

Susur Sejarah 'Leiding' Jadi 'Ledeng' di Gedong Cai Tjibadak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK