SURAT DARI RANTAU

Menikmati Kepadatan Hong Kong di Tengah Pandemi

Dilla Rakhiemah, CNN Indonesia | Minggu, 26/09/2021 16:33 WIB
Objek wisata alam di Hong Kong memang tak sebanyak Indonesia. Namun, tetap bisa menjadi pelipur lara penduduk kota padat ini selama pandemi. Pemandangan distrik bisnis di Hong Kong dari ketinggian. (Dale DE LA REY / AFP)
Hong Kong, CNN Indonesia --

Dulu saya berpikir bahwa akan sulit untuk menyeimbangkan kehidupan di Hong Kong, karena kota ini serba sibuk. Nyatanya selama empat tahun hijrah ke sini untuk melanjutkan pendidikan S3, saya akhirnya bisa juga menikmati kenyamanan Hong Kong.

Survei Biaya Hidup Tahunan ke-27 yang dirilis Mercer pada Juni 2021 menulis bahwa Hong Kong ialah kota termahal ke-dua di dunia, di bawah Ashgabat (Turkmenistan) dan bahkan dua posisi di atas Tokyo (Jepang).

Pemerintah Hong Kong memang menetapkan pajak yang tinggi, namun diganjar dengan banyaknya layanan publik yang mumpuni, seperti biaya sekolah gratis dari SD sampai SMP, dan biaya rumah sakit umum yang cukup murah.


Banyak juga kampus di Hong Kong yang masuk dalam '50 Universitas Terbaik di Dunia' yang memberikan beasiswa bagi mereka yang hendak menuntut ilmu di sini. Mahasiswa lokal yang melanjutkan studinya ke jenjang pascasarjana juga dibebaskan dari biaya kuliah.

Dan yang bisa menjadi contoh banyak negara termasuk Indonesia, pemerintah Hong Kong memberikan perhatian yang cukup besar pada sektor pendidikannya dalam hal gaji pendidik, terutama profesor di universitas, termasuk yang tertinggi di dunia untuk bidang akademisi.

Biaya hidup yang tinggi memunculkan banyak pemukiman padat di Hong Kong. Penduduk kelas menengah ke bawah rasanya tak keberatan tinggal di hunian yang berukuran mungil, sering disebut micro-apartment, agar tetap bisa mengakses pusat kota.

Salah satu contohnya pemukiman The Monster Building, kompleks apartemen padat yang menjulang di Quarry Bay, yang sebelum pandemi virus corona ramai didatangi wisatawan mancanegara untuk mengambil foto atau video Instagramable.

This picture taken on January 20, 2019 shows people (L) lining up to take a photo at a popular Instagram spot in Hong Kong. - For smartphone-wielding hordes of tourists, Hong Kong boasts a host of must-have Instagram locations -- but crowds of snap-happy travellers are testing local patience and transforming once quaint pockets of the bustling metropolis. (Photo by Isaac LAWRENCE / AFP) / TO GO WITH HongKong-lifestyle-tourism-photography, FEATURE by Elaine YUFoto tahun 2019. Antrean wisatawan yang hendak berfoto dengan latar belakang The Monster Building. (Isaac LAWRENCE / AFP)

Beruntungnya selama pandemi, pemerintah tak menerapkan lockdown (penguncian wilayah) di Hong Kong, sehingga penduduk tak perlu merasa "terpenjara" di rumah.

Kebetulan saya juga tinggal di dorm di universitas, yang mana lahannya cukup luas dan banyak fasilitas umum, seperti tempat berolahraga, sehingga tidak membuat terlalu tertekan selama pandemi.

Walau tak ada lockdown, aturan pembatasan tetap dilakukan saat kasus penularan tinggi, misalnya restoran diminta membatasi kapasitasnya hingga 50 persen.

Hanya dua orang yang boleh duduk semeja saat bersamaan. Saat ini, saat kasus lokal menurun - karena didominasi kasus dari luar negeri - pembatasannya menjadi empat orang dalam satu meja. Begitu juga saat di taman, kerumunan lebih dari empat orang yang saling berdekatan dilarang.

Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...



Menikmati Kepadatan Hong Kong di Tengah Pandemi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK