5 Gunung di Indonesia yang Masih Jarang Didaki

CNN Indonesia
Jumat, 22 Oct 2021 12:54 WIB
Ada 139 gunung api di Indonesia. Dari ratusan Gunung Masurai, satu dari lima gunung di Indonesia yang masih jarang didaki. (Roby diery via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak yang belum mengetahui, kalau Indonesia memiliki 139 gunung api, sehingga negara ini menjadi ke-tiga di dunia dengan gunung api terbanyak sekaligus mendapat julukan sebagai Ring of Fire (Cincin Api).

Dari sekian banyak gunung api yang ada di Indonesia, 28 gunung yang terbentang dari ujung Sumatera hingga Papua di antaranya sudah pernah dijelajahi oleh 28 tim EIGER Adventure saat melakukan Ekspedisi 28 Gunung pada tahun 2017 lalu.

Ekspedisi ini menjadi salah satu momentum spesial karena pembacaan teks Sumpah Pemuda berhasil dikumandangkan di 28 titik tertinggi di nusantara secara serentak.


Kegiatan tersebut pun berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan pencapaian "Pembacaan Teks Sumpah Pemuda Secara Serentak di Kawasan Gunung Indonesia Terbanyak".

Pemilihan 28 gunung pun memiliki alasan khusus dalam mewakili keanekaragaman hayati medan tropis Indonesia, mulai dari bagian barat, tengah, hingga timur yang memiliki karakteristik tropis berbeda-beda.

Dari puluhan gunung yang didaki, lima di antaranya bisa dibilang merupakan gunung yang masih jarang didaki.

1. Gunung Halau Halau

Terletak di wilayah Kalimantan Selatan di jajaran Pegunungan Meratus, Gunung Halau Halau tercatat di peta sebagai Gunung Besar.

Gunung ini berada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tanah Bumbu.

Gunung Halau Halau hanya memiliki ketinggian 1.901 mdpl, terbilang rendah dibandingkan rata-rata gunung lainnya. Namun uniknya titik ketinggian awal pendakiannya (desa terakhir) dimulai dari 200 mdpl yang merupakan khas pegunungan Kalimantan, tidak seperti di pegunungan lain dimana titik awal pendakiannya rata-rata sudah berada di atas 1.000 hingga 2.000 mdpl.

Dalam perjalanan, sebelum ekspeditor memasuki Desa Kiyu, yang merupakan titik terakhir sebelum memulai pendakian ke Gunung Halau Halau, ekspeditor menemui tulisan "Selamat Datang di Wilayah Hak Kelola Hutan Adat Desa Kiyu Putusan MK/35/PUU-X/2012, INI HUTAN ADAT KAMI, BUKAN HUTAN NEGARA" yang menjadi penanda bahwa hutan ini dirawat oleh masyarakat sekitar.

Masyarakat Dayak Kiyu percaya bahwa hutan dan tanah adat mampu menghidupi keluarga mereka. Praktik berladang pun hanya boleh dilakukan di kawasan kelola saja dan tidak diperbolehkan menebang kayu di wilayah yang keramat, sebab diyakini jika hutan musnah adat pun akan hilang.

Menuju puncak Gunung Halau Halau, ekspeditor disuguhkan jalur yang menguras energi dengan medan tanjakan curam dan keadaan hutan semakin lembab. Yang sangat disayangkan, selama ekspeditor melakukan perjalanan menuju puncak, banyak ditemukan sampah berserakan diberbagai titik.

[Gambas:Instagram]



2. Gunung Rore Kautimbu

Gunung Rore Kautimbu merupakan salah satu gunung yang sering dikunjungi oleh pendaki lokal di Kota Palu namun masih awam di telinga banyak masyarakat Indonesia.

Memiliki ketinggian kurang lebih 2.400 mdpl, menurut pengalaman ekspeditor, lokasi gunung ini terletak di daerah operasi Tinombala yang erat kaitannya dengan aksi terorisme.

Oleh karena itu setiap pendaki wajib melapor ke Pos Operasi Tinombala yang berada di Desa Wuasa, tepatnya di Polsek Lore Utara, dan juga di Pos Palang Brimob Sedoa, agar para pendaki terhindar dari aksi terorisme di area tersebut.

Ketika melakukan pendakian, ekspeditor berada di tengah-tengah vegetasi yang sangat rapat, namun jalur pendakian yang sangat jelas dan terbuka karena area ini merupakan tempat warga untuk mengambil hasil hutan berupa rotan dan damar.

Gunung Rore Kautimbu memiliki curah hujan yang cukup tinggi dan cepat berubah, sehingga perlu membawa jas hujan jika ingin melakukan perjalanan ke gunung ini.

Dalam perjalanan, sekitar 1 jam dari Pos Helipad, ekspeditor menemukan lokasi habitat Tarsius, merupakan primate endemik yang hidup disekitar kawasan Sulawesi dan sangat dilindungi.

Puncak Gunung Rore Kautimbu memiliki trianggulasi yang dibuat dari kayu dan ditopang oleh susunan batu yang di beri semen, dengan tulisan "Gunung Rore Kautimbu ketinggian 2.400 mdpl".

Namun disayangkan, informasi mengenai Gunung Rore Kautimbu masih sangat minim sehingga menciptakan banyak persepsi berkaitan dengan letak dan ketinggian gunung.

Ekspedisi 28 Gunung yang dilakukan ke Gunung Rore Kautimbu menghasilkan kesimpulan bahwa Gunung Rore Kautimbu yang selama ini didaki dan diketahui sebagai gunung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan puncakkan awal Gunung Torenali dengan ketinggian 2.519 Mdpl.

Sedangkan lokasi Gunung Rore Kautimbu yang sesungguhnya berada jauh di sebelah utara dari posisi Gunung Torenali dan tidak lagi berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

[Gambas:Instagram]



Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...

5 Gunung di Indonesia yang Masih Jarang Didaki

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER