Jakarta, CNN Indonesia -- Museum Sumpah Pemuda bukan satu-satunya lokasi napak tilas yang bisa didatangi untuk menambah wawasan mengenai sejarah ikrar persatuan kesatuan Indonesia yang dirayakan setiap 28 Oktober.
Perumusan naskah Sumpah Pemuda diinisiasi oleh Muhammad Yamin dan kawan-kawannya dari rumah indekos sederhana di kawasan Senin, Jakarta pusat.
Rumah ini milik seorang keturunan China, Sie Kong Liong, yang mulai mengoperasikannya sebagai kos-kosan pada tahun 1908. Tarifnua 12,5 sampai 20 gulden Hindia Belanda pada saat itu. Sudah termasuk tiga kali makan dan mencuci pakaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Muhammad Yamin, tokoh pemuda yang pernah tinggal di sini ialah Amir Sjarifoedin, Soerjadi, Assaat, Abu Hanifat, Abas, Hidajat, Ferdinan Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.
Setelah menjadi saksi bisu Sumpah Pemuda, bangunan ini sempat beralih fungsi menjadi toko bunga sampai hotel. Baru pada tahun 1973 dilakukan pemugaran dan dijadikan museum. Lalu menjadi Cagar Budaya Nasional pada tahun 2013.
Tapi, sekolah dokter dan ruangan di gereja yang lokasinya tak jauh dari Museum Sumpah Pemuda juga menyimpan banyak sejarah mengenai gerakan pemuda dan pemudi.
Berikut tiga museum untuk napak tilas sejarah Sumpah Pemuda:
1. Museum Sumpah Pemuda
Siapa sangka kalau tempat tercetusnya Sumpah Pemuda berawal dari rumah kontrakan di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Senen, Jakarta Pusat ini?
Muhammad Yamin bersama beberapa pemuda sering diskusi politik di rumah ini, hingga menggelar Kongres Pemuda pada tahun 1926.
Museum Sumpah Pemuda memajang biola milik WR Soepratman, sang pencipta lagu Indonesia Raya.
Biola itu digunakannya saat pembacaan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Bangunan ini sempat berubah fungsi menjadi toko bunga hingga hotel, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai museum pada tahun 1973.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
3 Jejak Sumpah Pemuda, dari Sekolah Dokter sampai Kamar Kos
Suasana di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
2. Museum Kebangkitan Nasional
Napak tilas Sumpah Pemuda yang kedua ialah di Museum Kebangkitan Nasional.
Bangunan ini bisa dibilang menjadi cikal bakal gerakan pemuda di Indonesia, terutama setelah Organisasi pemuda pertama, Boedi Oetomo, lahir di sini.
Museum yang berada di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh, Nomor 26, Senen, Jakarta Pusat, ini awalnya ialah sekolah dokter yang didirikan Belanda, STOVIA.
Tokoh-tokoh penting, seperti Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan R. Soetomo, bersekolah di sini.
Di tengah kesibukannya menimba ilmu, mereka bersama kawan-kawannya sering mengadakan rapat untuk menjalin kekompakan pemuda se-Tanah Air demi menumpas habis penjajahan dari Indonesia.
 Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) |
3. Museum Gereja Katedral
Napak tilas ketiga soal Sumpah Pemuda mengarah ke Museum Gereja Katedral, yang berlokasi tepat di samping Gereja Katedral Jakarta.
Belum banyak yang tahu, kalau pemuda dan pemudi Katolik di Indonesia juga membantu lahirnya Sumpah Pemuda dengan menyediakan lokasi sebagai tempat Kongres Pemuda Kedua hari pertama pada 27 Oktober 1928.
Dirangkulnya banyak pemuda dan pemudi, dari berbagai latar belakang suku, agama, dan pendidikan, amat menggambarkan betapa ikrar Sumpah Pemuda sebenarnya diciptakan bukan hanya untuk melawan penjajah, namun menyatukan perbedaan antarpenduduk di Indonesia.