Merindukan Hari-hari Tanpa 'Burnout'

CNN Indonesia
Kamis, 25 Nov 2021 16:02 WIB
Jangan remehkan masalah kesehatan mental saat bekerja. Hari-hati kerja di rumah juga bisa bikin burnout Foto: iStockphoto/atakan

Ketika Nat 'berteriak minta tolong'

"Takut. Saya menjalani hari-hari dengan rasa takut akan sesuatu yang di luar kontrol. Dulu, waktu awal-awal (kesehatan mental terganggu), bahkan pergi ke kantor aja takut. Kayaknya tubuh dan pikiran tuh enggak nyaman aja gitu," kata Nat (bukan nama sebenarnya) kepada CNNIndonesia.com.

"Cuma saya enggak sakit secara fisik, tapi rasanya enggak nyaman gitu."

Nat bercerita, awalnya memang ada banyak masalah yang dialaminya, tak cuma urusan kantor yang bikin sakit kepala. Namun sedikit banyak, berbagai tuntutan bos soal pekerjaan, meeting tanpa henti, dan juga shift kerja yang terkadang mengharuskannya bekerja sampai pagi bahkan saat weekend sekalipun sudah work from home, memang membuatnya kelimpungan, apalagi saat itu dia juga tengah mengalami masalah genting di keluarga. Perubahan kinerja pun mulai terjadi.


"Dulu saya senang banget kerja. Tapi sekarang, kena tekanan dikit, langsung goyahnya kayak apa," katanya.

"Perasaannya campur aduk, ngerasa enggak enak sama kantor, sama orang lain. Ditambah ada rasa rasa kecewa juga, kayak kenapa sih kok sekarang gak bisa kerjanya kayak dulu."

Perasaan burnout Nat sudah tak terbendung, dia kelimpungan cari bantuan. Ambil cuti, menggambar, menulis jurnal, curhat ke teman, sampai melakukan semua hobi tak lagi bisa membuatnya tenang. Terkadang, ketika mendengar panggilan 'meeting' atau suara bosnya, dia mendadak sesak napas. Kepanikan menyerangnya.

Awalnya, Nat hanya curhat kepada teman-temannya saja. Namun perasaan lega ini terasa hanya sementara, dia butuh bantuan yang lebih profesional lagi untuk membantunya mengembalikannya menjadi Nat yang dulu.

Dia pun mencari bantuan ke kantor untuk konsultasi psikologi. Sayang, kantor tak memberikan jawaban memuaskan lantaran mereka tak punya bantuan profesional, hanya curhat pada HRD (yang notabene tak punya gelar di bidang psikologi, sehingga hanya sebatas curhat biasa. Bukan cuma itu, asuransi kesehatan dari kantornya pun tak mengcover kesehatan jiwa para pekerjanya, termasuk urusan pergi ke psikolog.

Young desperate female visiting psychologistFoto: Istock/grinvalds
psikolog

Nat bertekad sembuh, dia pun mencari bantuan dari luar. Berbagai yayasan konsultasi dihubunginya. Beruntung dia akhirnya mendapat bantuan setelah sekian lama mencari pertolongan, meskipun harus diganjar dengan biaya yang cukup mahal. Dia hanya mensyukuri setidaknya gajinya masih cukup untuk mendapatkan pertolongan psikolog, bahkan psikiater.

"Psikolog itu mahal. Awal konseling aja udah Rp400 ribu, terus terapinya Rp600 ribu, dan dilakukan tiap pekan."

"Karena enggak dicover asuransi, jujur saja keuangan membengkak, tapi saya pengen kembali seperti biasa lagi, jadi ya udah mau gimana lagi. jadi, kalau di kantor ada layanan psikologi, seenggaknya itu bisa jadi pertolongan pertama dulu ah buat kita kita yang cuma stres-stres kecil. Itu membantu banget."

"Ini karena saya udah ngerasain betapa enggak enak ketika mental udah kena, jadi menurut saya penting banget sih. buat kantor apa pun yang tekanannya cukup tinggi. soalnya, yang gitu-gitu kan bahkan bisa dimulai dari stres kecil. Bakal lebih baik kayaknya kalau si stres kecil itu bisa ditangani sama layanan psikologi di kantor masing-masing, biar enggak makin parah. Lagi pula, kalau karyawan mentalnya sehat, kerjanya akan bagus, dan berdampak sama kantor juga."



(chs)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER